Menuju Tibet

Tibet di Otak

Tibet sering menjadi latar tempat sebuah cerita yang mengisahkan pencarian hakikat diri dan perjalanan spiritual. Tibet yang dingin konon tempat yang baik untuk bermeditasi dan meningkatkan spiritualitas. Aku juga punya niatan suatu saat ke sana.

Tibet menarik perhatianku sejak anak-anak dengan latar kisah Tintin yang mencari sahabat kecilnya, Chang. Rupanya Chang diculik oleh Yeti, makhluk seperti bigfoot yang tinggal di pegunungan salju Tibet.

Tibet kemudian juga menjadi lokasi novel James Redfield bertajuk Shambala atau nama lain dari Shangri-La, tempat untuk menuju pencerahan. Dimana si tokoh menemukan manuskrip kuno kelanjutan dari manuskrip Celestine yang dianggap akan membawa perubahan lebih baik generasi manusia.

Kumpulan foto Tibet juga menjadi obyek buruan Jay Subiakto dkk dalam buku Tibet di Otak. Di buku ini bukan hanya keindahan panorama yang dibidik, melainkan juga sisi spiritual dan kehidupan sehari-hari masyarakat Tibet.

Satu lagi yaitu buku Dewi Lestari yang berjudul Gelombang. Dalam buku ini tokoh Alfa akhirnya menemukan jawaban mimpi-mimpinya setelah bertemu seorang pencerah di Tibet. Lantas apa kaitan Tibet denganku?

Tibet memiliki hubungan dengan Nepal dan India Utara, yaitu Himalaya. Dikisahkan para pandawa dan Drupadi dalam Pandawa Seda mereka mengangsingkan diri dan kemudian meninggal ketika menuju puncak Himalaya. Hanya Yudistira atau Puntadewa yang berhasil dengan ditemani seekor anjing.

Saat ke India saya bersikeras untuk ke bagian Himalaya meskipun hanya sampai ke Manali dan Rohtang Pass. Di sini bisa dilihat seulik kehidupan masyarakat Tibet. Ya, di sini ada banyak warga Tibet yang menetap dan kemudian memberikan sumbangan kultur berupa arsitektur rumah, religi, dan juga masakan khas Tibet. Bahkan ada juga umbul-umbul kuning khas Tibet.

Ada juga hewan yak yang seperti bison dengan buku tebal juga kelinci anggora. Di sini juga terdapat museum yang juga mengisahkan kehidupan warga India Utara yang bercampur dengan masyarakat Tibet.

Saat ke Rohtang Pass yang berkisar 2-3 jam dari Manali saya merasa ada sesuatu yang berbeda. Melihat pegunungan bersalju suasana menjadi nampak syahduh.

Ada banyak kisah yang belum saya sampaikan tentang sesuatu berbeda di India Utara. Tentang Tibet dan masakan vegetariannya yang nikmat dan hubungan antara dataran tinggi dan kepercayaan. Hemmm terbayang rasa dingin yang cukup hebat, angin yang menerpa telinga dan pepohonan pinus yang hijau serta gemricik sungai yang deras.

Tibet di Otak

Gambar dari buku Tibet di Otak karya Jay S. dkk

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 4, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: