Kutu Buku dan Hobi Baca itu Seksi

Bartimaeus Trilogi

Para kutu buku itu punya daya tarik tersendiri. Mereka seksi karena memiliki wawasan yang luas dan imajinasi yang tinggi. Apalagi di era sekarang dimana wawasan itu nomor satu. Nah siapa yang ingin jadi kutu buku?

Memang kutu buku identik dengan hobi membaca. Para kutu buku menjadikan membaca sebagai kebiasaan mereka, bahkan mereka sangat menikmati waktu luang mereka dengan membaca. Mereka membalik-balik setiap lembar buku dengan antusias seolah menghadapi makanan yang lezat.

Dulu kutu buku identik dengan kaum berkacamata tebal yang memiliki dandanan khas dan terkesan kurang pergaulan. Padahal realitanya banyak kutu buku yang tampil keren, semantap otak dan wawasan mereka.

Jika tidak percaya coba lihat penampilan si penulis terkenal Dewi Lestari yang selalu terlihat modis. Atau perhatikan dandanan fashionable dari aktris Olga Lidya dan model cantik Elizabeth Hurley. Ketiganya adalah contoh wanita yang seksi, cerdas, fashionable dan pastinya penggila buku.

Memang saat ini kebiasaan membaca buku di kalangan generasi muda nampak merosot tajam. Hal ini sangat berbeda 15-20 tahun silam dimana perpustakaan, taman bacaan dan penyewaan buku sangat ramai dikunjungi. Toko-toko buku di era tersebut juga selalu ramai pada akhir pekan.

Menurut data UNESCO yang dikutip oleh Sindonews, minat baca buku di Indonesia sangat rendah. Rata-rata hanya satu buku pertahun yang dibaca selain buku pendidikan.

Survei di Yogyakarta tahun 2012 yang merupakan salah satu kota pelajar dan kota budaya, menunjukkan indeks baca yang berkisar 0,049. Indeks ini bermakna hanya ada 4-5 orang yang gemar baca di tiap seribu orang.

Ada yang berkata harga buku saat ini cukup mahal sementara daya beli masyarakat Indonesia menurun. Ada juga yang berpendapat toko buku terpusat di perkotaan, kurang menyebar hingga tingkat pedesaan.

Namun fakta yang tak bisa dipungkiri dan menjadi pihak yang mencuri waktu dan perhatian generasi muda adalah gadget. Mereka lebih suka menggunakan gadget untuk bercakap-cakap dan memutakhirkan status di media sosial mereka dibandingkan membaca buku.

Padahal buku banyak sudah ada dalam bentuk e-book dan bisa dibaca di smartphone, tablet, maupun laptop. Namun rupanya bercakap-cakap dengan media sosial lebih menyita perhatian dan waktu dibandingkan membaca sebuah buku.

Membaca buku itu seru. Saya telah menjadi kutu buku sebelum bisa membaca. Dengan asyiknya saya membuka lembaran demi lembaran komik Tintin. Snowy menjadi teman akrab saya sehingga saya yang dipanggil ‘wi’ mendapat tambahan nama menjadi snowy.

Koleksi tintin

Setelah bisa membaca, saya mulai membaca Tintin, meski kadang tidak paham maknanya saat itu. Saya lanjutkan dengan kisah Yo, Yokko dan Susi kemudian Quick & Fluoke, majalah Jakarta-Jakarta dan majalah anak-anak seperti Bobo, Ananda, Kuncup, Kuncung dan Mentari Putra Harapan.

Duh jaman dulu rasanya membaca itu hiburan nomor satu. Setiap akhir pekan saya dan kakak asyik ke rental bacaan menyewa komik Nina, Asterix, Trigan, buku-buku Enid Blyton dan karya Astrid Lindgren populer yakni si Pippi Kaus Panjang. Setelah itu saya membayangkan jadi detektif anak-anak ala Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, atau Trio Detektif.

Paulo coelho, pak bei dan herge

Saat kelas empat dan lima SD saya gandrung membaca kisah-kisah Indian dalam buku karangan Karl May yang mengisahkan petualangan Old Shatterhand dan Winnetou. Dari teror Klux Klux Klan, ancaman beruang ganas, serangan dari suku Indian yang gemar perang, pemburu kulit binatang dan kisah persahabatan Old Shatterhand bersama Winnetou yang mengharukan. Saat Winnetou gugur saya merasa sangat sedih.

Buku-buku tersebut masih tersimpan dengan baik di rumah. Ada yang saya boyong ke Jakarta seperti Tintin dimana kemudian saya lengkapi dengan rajin berburu ke pameran buku dan toko buku bekas.

Tintin adalah motivasi saya menjadi pemburu berita beberapa tahun silam. Saya ingin seperti Tintin yang bebas berkelana kemana saja. Dengan Tintin saya mendapat wawasan akan ikon-ikon negara seperti Peru dengan Inca, Llama dan dewa matahari, ada Jakarta dengan bandara lamanya yang terletak di Kemayoran, kisah bajak laut di Hiu-hiu Laut Merah dan begitu mengerikannya jaringan narkoba sejak puluhan tahun silam.

Buku juga menjadi media penghibur yang bisa melonggarkan tekanan dan menjadi media bersantai. Buku tentang monster dan hantu kocak dalam buku-buku Eva Ibbotson membuat saya terbahak-bahak. Demikian juga petualangan Kapten Kolor dan Diary si Anak Tengil.

Karya eva ibbotson

Saat ini saya masih suka membaca buku dan mengoleksi buku. Dalam sebulan hampir selalu ada buku baru baik berupa komik, majalah, atau novel. Jika beruntung dan sedang ada rejeki bisa ada 10 buku bahkan lebih dalam sebulan. Untunglah di toko buku Cijantung sering ada diskon buku yang lumayan, sehingga dengan 100-200 ribu bisa dapat 5-10 buku berkualitas.

Dalam sehari saya bisa melalap berbagai buku, kecuali novel-novel serius seperti milik John Grisham dan Michael Crichton yang memerlukan waktu untuk menyelesaikannya. Jika suntuk saya membaca komik yang kocak seperti Kobo Chan atau tentang Kungfu Boy.

Kungfu boy

Yuk mulai saat ini jadikanlah membaca sebagai gaya hidup dan hobi. Wanita yang cerdas dan rajin membaca akan nampak lebih seksi dan memiliki daya tarik tersendiri karena bisa diajak ngobrol apa saja.

Membaca buku tidak harus saat akhir pekan dan di rumah. Membaca saat ini bisa dimana saja karena ada aplikasi membaca buku di gadget. Anda bisa membaca buku sambil menunggu kendaraan umum atau kereta tiba, membaca di angkutan umum terutama saat macet, atau membaca buku di perpustakaan seperti perpustakaan daerah dan perpustakaan di kampus.

Jangan bingung memilih jenis bacaan, buku-buku perempuan terbitan Stiletto Book bisa saja pilihan asyik untuk dikoleksi dan dibaca. Stiletto Book adalah penerbit buku perempuan seperti novel Lara, Broken Vow, dan Awaiting You. Meski bertemakan hal-hal yang kerap dialami perempuan akan tetapi buku ini bisa dinikmati oleh para pria.

@dewi_puspa00//dewi puspa//dewi.puspa00@gmail.com

Stiletto

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 30, 2016.

3 Tanggapan to “Kutu Buku dan Hobi Baca itu Seksi”

  1. Gadget nih yg bikin “godaan” buat para generasi muda sekarang yang akhirnya… “keseksian” membaca buku tergerus dan mulai ditinggalkan. Aku setuju banget sama tulisannya 🙂 | seksinya membaca buku perlu ditanamkan agar perhatian gak melulu ke arah layar gadget. | percuma/meskipun ada e-book yang kita bisa bilang cukup akomodatif buat para pengguna gadget, budaya membaca inilah yg jd problemnya, kesan “seksi” dari ngebaca buku seakan gak bisa nyaingin “godaan” messanger. Miris juga rasanya pas liat data Unesco itu -_-

    BTW, aku juga suka tuh ama bang Tintin, apalagi si Captain berewok, hihihi

    • Salam kenal Harry, memang chatting itu bisa jadi sesuatu yang menghambat produktivitas kita harus berani membatasi penggunaannya. Tentang gemar membaca itu mungkin harus dibiasakan sejak kecil..bisa dari buku bergambar dulu, baru setelah agak besar dibiasakan dengan cerpen dan novel.
      Setuju Kapten Haddock itu kocak apalagi saat awal-awal bertemu Tintin di Kepiting Bercapit Merah. Duo detektif itu juga konyol:)

      • Salam kenal juga mbak, hehehe.. | chatting sekenanya aja, liat batasan proporsinya aja. klo aku mah. hihihihi | iya, bener… Si Snowy “sang Bodyguard.a Tintin” juga gak akan terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: