Ketika Batman dan Superman Bersiteru

images

Pertempuran Superman melawan Jenderal Zod dan anak buahnya seperti yang terlihat di film Man of Steel rupanya membuat porak-poranda Metropolis dan melenyapkan ribuan nyawa warganya. Batman yang kehilangan banyak anak buahnya di peristiwa tersebut pun menyimpan dendam. Kemarahannya kembali tersulut ketika Superman lagi-lagi berada di medan bencana.

Hampir dua tahun Batman menyimpan kekuatirannya akan kekuatan Superman yang sulit ditandingi manusia dan senjata bumi. Prasangkanya semakin menyeruak ketika Superman muncul di sebuah penyergapan teroris di gurun yang menewaskan banyak penduduk sipil.

Bukan hanya Batman alias Bruce Wayne yang kuatir pada kekuatan Clark Kent. Lois Lane, kekasih Superman alias Clark Kent juga mencemaskan akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa pada Superman. Penyelidikannya bermuara ke kecurigaan bahwa ada pihak yang ingin menjebak Superman.

Di satu sisi Lex Luthor jutawan jenius meminta senator untuk menyetujui rencana risetnya menggunakan batu kripton sebagai senjata melawan Superman. Info itu diretas Batman dan iapun mencuri batu yang menjadi sumber kelemahan Superman. Batman pun mulai siap menggunakan senjatanya ketika Superman berada di antara korban ledakan.

Film berdurasi 2,5 jam ini benar-benar membuat saya siaga, padahal tadi saat masuk Blok M Plaza rasanya ngantuk. Filmnya menurut saya menarik meskipun ada beberapa hal yang membuat saya agak terganggu, terutama sisi plot ceritanya.

Filmnya sudah terbangun dengan baik bagaimana Batman berupaya mengetahui apakah Superman memang layak sebagai dewa ataukah ia sebenarnya iblis. Ia berupaya mengantisipasinya meskipun kemudian caranya salah. Film ini seolah menunjukkan ada kesalahpahaman di antara dua superhero tersebut dan kemudian dimanfaatkan pihak tertentu, yakni Lex Luthor.

Sayang narasi tersebut kemudian menjadi sederhana ketika mereka menghentikan baku hantam hanya karena sesuatu yang sama. Astaga, begitu saja penyelesaiannya. Belum lagi monster ciptaan Lex Luthor yang di sini seolah dihadirkan agar ketiga superhero bekerja sama. Hemmmm musik latar Wonder Woman datang kurang sip, tidak terasa nuansa Amazonnya. Kerja sama antara Batman dan Wonder Woman juga tidak terlihat dimana Batman lebih sering bengong dan kemudian menghindar. Ceritanya bagus tapi sayang eksekusinya kurang mulus.

Saya sengaja menonton mengambil waktu 10 hari setelah film tayang resmi di Indonesia untuk menghindari euforia. Saya nonton sendirian dan berbayar agar lebih menikmati film ini dan bisa mengapresiasi dengan obyektif.

Film Batman v Superman Dawn of Justice ini makin menunjukkan perbedaan antara film superhero ala DC Comics dan Marvel. Apalagi tampuk sutradara berada di tangan Zack Snyder yang beken dengan film 300 dan Man of Steel.

Mungkin karena enggan dibandingkan, film superhero Marvel dan DC Comics memiliki nuansa dan segmen pasar berbeda. Film Marvel menurut saya mudah dinikmati segala usia dan kalangan. Bagi yang belum pernah membaca komik atau filmnya, bakal mudah menyukai film ini. Apalagi sering disusupi humor. Memang saat ini ceritanya makin kompleks seperti yang bakal terjadi di Civil War, tapi saya yakin masih mudah dinikmati dibanding film rivalnya.

Sebaliknya, film DC Comics tampil dengan nuansa gelap dan suram. Mereka seolah menunjukkan bahwa kejahatan itu menyesakkan dan bisa membuat warganya jadi apatis.

Sejak Batman dirilis saya merasakan tone tersebut, kecuali di film Batman and Robin yang gagal. Apalagi sejak trilogi Dark Knight, nuansa suramnya begitu terasa. Sehingga film Batman rasanya kurang cocok untuk anak-anak. Lebih pas untuk remaja ke atas.

Memang nuansa Superman tidak begitu gelap kecuali era Henry Cavill yang nuansanya mulai muram. Film DC Comics lainnya, Green Lantern, sayangnya diadaptasi dengan buruk padahal di Justice League, Green Lantern beberapa kali jadi pemimpin dengan kemampuan cincinnya yang unik.

Zack Snyder memang beken akan film garapannya 300. Nuansa filmnya juga gelap dan suram. Bagi yang pernah menonton film superhero garapannya, Watchmen, maka juga merasa nuansa yang sama. Watchmen adalah kelompok superhero yang sebagian tidak memiliki kekuatan apa-apa. Ceritanya gelap dan sarkasme. Sehingga sebenarnya tak heran jika Batman v Superman juga memiliki nuansa yang agak sama dengan Watchmen karena sutradaranya pun sama.

Watchmen_film_poster

Film Man of Steel banyak mendapat pujian. Ceritanya memang kompleks dari kisah orang tua Superman yang tewas, perjalanan bayi Superman ke bumi dimana kemudian dirawat oleh Martha dan Jonathan hingga kehadiran pasukan Zod yang hendak menguasai bumi dengan membasmi penghuninya. Film ini bagus terutama dari segi laganya, tapi agak membosankan.

Di Batman v Superman ceritanya lebih sederhana jika dibandingkan dengan Man of Steel dan alur ceritanya mudah ditebak. Siapa pelaku konspirasinya sudah bisa ditebak cuma ada beberapa petunjuk di film ini yang menarik disimak sebagai pengantar terbentuknya Justice League, kelompok superhero DC Comics.

Awalnya ketika melihat bagian awal film yang mengisahkan masa kecil Batman, saya mulai was-was. Duh jangan-jangan ceritanya bakal di-reboot lagi menilik aktor pemerannya baru, bukan lagi Christian Bale melainkan Ben Affleck. Mengapa tidak digabungkan saja cerita Batman pasca teror Bane toh tidak masalah meski pemerannya berbeda.Tapi di sinilah petunjuk awal di film ini. Kematian orang tua Batman, terutama ibunya, Martha.

Petunjuk berikutnya alasan Batman tidak menyukai Superman juga karena gedungnya luluh lantah saat Superman melawan Zod dan ketika ia menolong seorang anak, ibu si anak telah tewas.

Akan tetapi rasanya saya agak kecewa karena Batman di sini terlalu memperturutkan emosionalnya dan lalai akan kemampuan utamanya dalam hal analisa. Ia nampak tidak sabaran di sini. Padahal di komik dan di film Justice League, Batman dikenal sebagai detektif dan anggota JL yang cerdik dan pandai menganalisa situasi.

Karakter Batman di sini memang sama seperti di trilogi Christian Bale, sama-sama gloomy. Ia tetap brutal dan ganas demi membela kebenaran. Tapi sayangnya di sini temperamen Batman lebih buruk yakni tidak sabaran dan kehilangan daya analisisnya yang tajam.

Ben Affleck tampil lumayan sebagai Batman, ia memang pernah didapuk jadi superhero di Daredevil. Ia sama-sama ganas meskipun sebagai milyuner ia masih kurang meyakinkan. Mungkin gara-gara penampilannya di Gone Girl sebagai suami yang selingkuh dan pemabuk maka saya melihat Ben Affleck agak gimana gitu. Apalagi ketika ia berniat menggoda Diana alias Wonder Woman.

Untuk Superman, Henry Cavill tampil makin oke dan lebih percaya diri dibandingkan di Man of Steel.Chemistry-nya bersama Lois Lane yang diperankan Amy Adams sebagai pasangan kekasih lebih terlihat. Tapi Superman di sini juga ‘agak bodoh’ atau mungkin polos karena tidak sadar dijebak dan buru-buru pergi ketika Lois hendak memberitahukan kekuatirannya ia dijebak.

Saya dulu kurang menyukai penampilan Henry di Immortals tapi hal ini lebih disebabkan narasi filmnya yang buruk. Saat di Stardust saya juga kurang ngeh akan perannya. Di Superman ia tampil prima dan lebih bagus, bahkan lebih bagus dibanding seniornya di Superman Returns, Brandon Routh.

Untuk Lois Lane ia tidak hanyak tampil sebagai pemanis di sini. Ia memegang kunci di film ini. Berkat kemampuan analisanya ia mengetahui di balik kejadian-kejadian yang menimpa kekasihnya.

Pemeran Lois Lane, Amy Adams, nampak tua di sini karena berpasangan dengan Henry yang berusia sembilan tahun di bawahnya. Meskipun performanya tetap apik karena ia juga pernah meraih lima kali nominasi oscar dan mendapat dua kali penghargaan Golden Globe.

Sedangkan Gal Gadot di sini ia memang mencuri perhatian dengan kecantikan dan keseksiannya sebagai Wonder Woman. Adegan laganya pun lumayan. Cuma saya jadi ingat masa SD, dulu dikabarkan Wonder Woman pasangan Captain America karena sama-sama memiliki perisai. Sekarang saya tertawa karena ternyata mereka beda universe.

Tentang karakter lainnya dalam film ini saya suka tokoh pimred Perry di sini yang kocak dan pelit mengingatkan dengan atasan Spiderman. Tokoh si Russian yang diperankan oleh Callan Mulvey wajahnya mudah dikenali di film Zack Snyder karena ia juga berperan di 300. Untuk Lex Luthor perannya cocok dimainkan Jesse yang sejak di film Social Network sering mendapat peran sebagai tokoh yang cerdas tapi menyebalkan. Di sini ia seolah menjadi Joker baru tapi kaya raya.

Tentang Justice League saya senang mendengar kabar itu apalagi sosok The Flash, Aquaman, dan Cyborg sudah muncul. Eh kenapa Green Lantern tidak ikut hadir ya termasuk Green Arrow.

Saya beberapa kali menonton film kartun Justice League. Di kisah Atlantis Throne dikenalkan sosok Aquaman dimana bumi hendak diserbu penghuni lautan. Di sini Green Lantern menjadi pemimpin. Cuma yang bikin sebal di film ini, Wonder Woman merayu habis-habisan Superman sehingga membuat Lois Lane nampak jengkel.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 3, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: