Prospek Desa Wisata di Tengah Cemerlangnya Bisnis Pariwisata

goa pindul

Sejak meningkatnya kelompok masyarakat menengah dan tren memutakhirkan status di media sosial maka bisnis pariwisata di dalam negeri pun ikut tergeret. Setiap tanggal merah berbagai obyek pariwisata disesaki oleh wisatawan. Hal ini tentunya menjadi peluang bisnis bagi para pelaku bisnis pariwisata, salah satunya munculnya berbagai desa wisata. Seperti apa sih sedapnya bisnis pariwisata dan prospek desa wisata, yuk simak ulasan berikut.

Bisnis pariwisata di dalam negeri tumbuh subur sejak satu dekade terakhir. Pada tahun 2014, bidang pariwisata menyumbang 9% terhadap pertumbuhan domestik bruto (PDB). Devisa yang diperoleh dari sektor ini mencapai Rp 120 Triliun dengan membuka kesempatan kerja sekitar 11 juta penduduk. Angka yang luar biasa bukan?! Meskipun untuk ukuran ASEAN dan dunia, kontribusi yang dihasilkan dari bisnis pariwisata di Indonesia masih tergolong rendah. Untuk itu pada tahun 2019, Kementerian Pariwisata menargetkan 15% dan Rp 240 Triliun untuk kontribusi terhadap PDB dan devisa. Kesempatan kerja juga diharapkan meningkat menjadi 13 juta hingga tahun 2019.

IMG_20160415_164932-480x484

Bisnis pariwisata memang diyakini akan semakin mengkilap pada tahun-tahun mendatang. Ada berbagai faktor yang mempengaruhinya. Pertama adalah daya beli masyarakat yang meningkat dan pesatnya pertumbuhan masyarakat bergolongan ekonomi menengah.

Kedua adalah gaya hidup dan tren. Saat ini berwisata seolah kebutuhan sekunder, bukan lagi kebutuhan tersier. Oleh karena penatnya kegiatan terutama di kota besar, maka sebagian warganya perlu merilekskan diri dengan berlibur sejenak. Tren ini juga dipengaruhi dengan gaya hidup di kalangan masyarakat urban untuk memutakhirkan status di media sosial. Mereka seakan-akan berlomba-lomba untuk menampilkan foto-foto terbaik saat liburan. Alhasil berwisata makin dibutuhkan oleh masyarakat urban.

Faktor ketiga yakni pengaruh dari film dan buku. Saat ini ada banyak film Indonesia populer yang memamerkan keindahan alam seperti 5 cm tentang Gunung Semeru, Tendangan dari Langit yang memajang panorama cantik Gunung Bromo, juga ada Laskar Pelangi, Tiga Nafas Likas, Toba Dreams, dan masih banyak lagi.

Untuk buku yang menawarkan pesona alam Indonesia juga tak kalah banyaknya. Yang populer salah satunya Rahasia Meede tentang misteri harta karun yang petunjuknya berada di seputar kota Tua dan pulau-pulau di Teluk Jakarta. Oleh karena populernya di kalangan kutu buku maka lahirlah berbagai paket wisata mengunjungi pulau-pulau Teluk Jakarta, pulau Cipir-Kelor-Onrust juga jejak kolonial di Jakarta seperti Museum Prasasti, Museum Fatahillah dan sebagainya.

Nah, berbincang tentang obyek wisata, Bali kini bukan lagi tujuan satu-satunya. Pemerintah juga tanggap dengan adanya gaya hidup berwisata ini sehingga mengenalkan sepuluh destinasi wisata baru selain Bali yang sudah sangat terkenal. Pengembangan sepuluh obyek wisata ini juga masuk dalam delapan arahan Presiden yang ditetapkan awal Januari 2016. Kesepuluh obyek wisata tersebut adalah Tanjung Kelayang, Danau Toba, Borobudur, Tanjung Lesung, Bromo Tengger Semeru, Wakatobi, Morotai, Labuan Bajo, Mandalika, dan Kepulauan Seribu.

10 bali baru

Selain kesepuluh Bali baru tersebut, Kemenpar juga mengembangkan berbagai desa wisata sebagai destinasi alternatif dimana wisatawan tidak hanya menikmati panorama alam, melainkan juga dapat berinteraksi dengan warga lokal dan mengenal lebih dalam tentang kultur mereka. Desa wisata ini mulai populer pada tahun 2009 dan jumlahnya terus bertambah setiap tahunnya melalui program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri.

Oneng Setya Harini, Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat dalam ajang diskusi bertema Peluang Koperasi Mengelola Bisnis Gurih Pariwisata di Galeri Indonesia Wow, Smesco, 6 April 2016, menceritakan tentang manis pahitnya mengelola desa wisata di berbagai daerah di Indonesia.

Oneng Setya Harini

Desa wisata merupakan alternatif baru destinasi wisata dimana masyarakat di desa tersebut mengelola potensi yang ada di lingkungan mereka dan kemudian dijadikan atraksi yang menjual. Di dalamnya termasuk potensi bisnis kuliner, akomodasi dalam bentuk homestay, dan kerajinan tangan atau kesenian daerah tersebut.

Meskipun desa wisata ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat tentunya tetap perlu memenuhi standarisasi dan dikelola secara profesional agar wisatawan tetap merasa nyaman. Untuk homestay dalam satu rumah diperkenankan maksimal lima kamar karena jika lebih dari itu maka interaksi dengan pemilik rumah akan tidak berjalan maksimal. Selain itu jika lebih dari lima kamar maka akan masuk zona industri.

Saat ini ada berbagai desa wisata yang tumbuh dengan baik, seperti Desa Wisata Goa Pindul yang memaksimalkan potensi alam berupa goa pindul, sarana homestay dan kesenian di daerah tersebut. Juga terdapat desa wisata Pentingsari, Sleman Yogyakarta yang mendapat penghargaan tingkat dunia karena dianggap mampu memberdayakan masyarakat lokal dan tetap menjaga kearifan lokal. Ada juga Desa Wisata di Dieng Kulon yang menawarkan homestay, pesona alam Dieng, dan fenomena unik anak-anak berambut gimbal, dimana desa ini juga menjadi desa wisata terbaik tahun 2014.

Selain mendapat bantuan dan pengawasan dari Kemenpar, pengembangan desa wisata juga dibantu oleh Kementerian Koperasi dan UKM. Ada delapan desa wisata di bawah pembinaan Kementerian Koperasi dan UKM, yaitu desa wisata di Kampung Mempura di Riau, Candi Borobudur di Magelang, Danau Lut Tawar di Aceh Tengah, Samosir di Sumatera Utara, Desa Sesaot dan Desa Banyumulek di NTB serta Taman Laut 17 Pulau, Kabupaten Ngada, dan Pulau Komodo di Manggarai Barat NTT. Peran serta Kementerian Koperasi dan UKM dalam pemberdayaan masyarakat di bidang pariwisata akan saya ulas di artikel berikutnya (Prospek Koperasi Kelola Wisata: Makin Manis dan Mampu Memberdayakan Masyarakat).

Sayangnya meskipun desa wisata bertumbuhan dan jumlahnya saat ini lebih dari 1400, namun hanya sepuluh persen yang berhasil. Hal ini disebabkan perkembangan desa wisata juga dipengaruhi oleh aksesibilitas, pemasaran, dan SDM di desa wisata tersebut, sehingga Kemenpar juga memberikan bantuan berupa kursus bahasa asing dan mengajarkan pelayanan prima agar mereka mampu mengelola desa wisatanya dengan lebih optimal.

 

Potensi Wisata Bahari

Jika Oneng Setya Harini menyoroti tentang prospek desa wisata, maka Didin Junaedi, Ketua Gabungan Pariwisata Indonesia menggarisbawahi pentingnya mengenalkan masyarakat akan potensi wisata bahari. Hal ini disebabkan Indonesia adalah negara kepulauan dimana memiliki berbagai pantai eksotis dan kekayaan panorama bawah laut yang menakjubkan.

didin junaedi

Yang membuatnya prihatin pecinta wisata bahari rata-rata adalah wisatawan mancanegara. Sedangkan wisatawan domestik lebih berfokus pada wisata di daratan dan itupun masih terkonsentrasi di Jawa dan Bali.

Untuk itu ia berharap pemerintah tidak lagi mengenalkan Bali namun juga daerah lain terutama pulau-pulau selain Jawa dan Bali serta mengembangkan potensi wisata bahari. Ia juga menyoroti besaran investasi asing di bidang pariwisata dimana ia berharap masyarakat lokal lebih diberdayakan agar lebih memberikan manfaat ekonomi dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di sekeliling obyek wisata tersebut.

para narasumber peluang koperasi kelola bisnis gurih pariwisata

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 15, 2016.

Satu Tanggapan to “Prospek Desa Wisata di Tengah Cemerlangnya Bisnis Pariwisata”

  1. […] pariwisata seperti saya ulas dalam artikel sebelumnya (Prospek Desa Wisata di Tengah Cemerlangnya Bisnis Pariwisata) memang bisnis yang sedang menggeliat. Jika masyarakat dapat menangkap peluang di dalamnya, maka […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: