Aisyah Biarkan Kami Bersaudara Menyuguhkan Realita Berlatar Atambua

Aisyah biarkan kami bersaudara

Larut malam saya melihat sebuah stasiun televisi yang menayangkan di balik layar film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Saya kagum dengan panorama alam Atambua di Nusa Tenggara Timur yang gersang tapi mempesona. Dari segi cerita, film ini membumi karena isu agama di Indonesia riskan dieksploitasi untuk kepentingan pihak tertentu.

Di Atambua, masyarakatnya masih kesulitan akan persediaan air bersih. Banyak di antara mereka yang hidup di bawah standar keluarga sejahtera. Oleh karena lingkungan tempat tinggal yang keras, masyarakat di Atambua pekerja keras sejak kanak-kanak.

Dari kisah di balik layar dan trailer-nya, saya melihat film ini membidik pengalaman Aisyah, seorang guru muslim yang memilih mengajar di desa terpencil di NTT. Ada perbedaan besar antara tempat asalnya di Jawa Barat dan tempat ia bekerja dari segi kesuburan tanah, kemudahan mendapatkan air, dan mayoritas agama masyarakat di sekelilingnya.

Mulailah hari-hari berat Aisyah menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Ia tertegun melihat kamar mandi sederhana dengan air yang terbatas. Permasalahan mulai timbul ketika ada pihak yang mencurigai kehadirannya. Oleh karena mayoritas Atambua beragama nasrani, maka kehadiran Aisyah menjadi tanda tanya oleh sebagian pihak. Bagaimanakah Aisyah meyakinkan mereka bahwa perbedaan itu wajar di Indonesia dan tetap bisa bersaudara?

Aisyah biarkan kami bersaudara

Saya memberikan acungan jempol kepada Herwin Novianto yang tidak hanya mengeksplorasi keindahan panorama Atambua, tetapi juga memberikan pesan penting pada drama yang disutradarainya. Saat ini memang ada beberapa pihak yang mencoba memecah-belah persatuan dengan menggunakan isu SARA.

Dari segi pandang tokoh nasional, seperti Yenni Wahid, isu ini mudah disulut di lingkungan yang miskin dan kurang terdidik. Untuk itulah kesejahteraan masyarakat Indonesia perlu diperhatikan oleh pemerintah. Agar jangan hanya masyarakat di Jawa yang selalu diperhatikan, akan tetapi juga masyarakat di NTT dan provinsi di Indonesia Timur lainnya.

Film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara dibintangi oleh Laudya Cynthia Bella, Lidya Kandau, Arie Kriting, dan Ge Pamungkas dengan naskah yang ditulis oleh Jujur Prananto. Film ini dirilis pada 19 Mei dan bisa ditonton di berbagai bioskop.

Film drama ini memang bukan jenis film yang komersial, namun kaya akan pesan. Dengan demikian penonton bisa melihat masih banyak saudara kita yang kesulitan air bersih sehingga lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya air. Begitu juga pesan untuk menghargai perbedaan, oleh karena perbedaan itu sebuah hal yang wajar.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 24, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: