Hujan Juni Masih Demikian Deras

Hujan

Siang yang terik tiba-tiba tertutup awan gelap. Langit sekonyong-konyong menjadi mendung dan semakin kelabu. Air dari langit pun kemudian menyapa bumi. Semakin deras dan bertambah deras. Aku lihat kalender, sudah hampir akhir Juni. Mengapa hujan masih begitu deras?

Guru, bukankah Juni itu seharusnya sudah masuk musim kemarau? Saat SD diajarinya September awal musim hujan dan berakhir Februari. Tapi kini hingga Juni dan mendekati Juli masih demikian deras. Jadi kapankah musim kemarau itu singgah pada 2016?

Cuaca sudah beberapa tahun ini tak menentu. Terjadi pergeseran awal dan berakhirnya cuaca. Yang paling terdampak tentunya adalah pertanian. Efeknya bukan hanya ke petani, tapi ke manusia Indonesia lainnya. Jika panen gagal tentu berdampak ke ketersediaan pangan bukan?!

Tahukah Kalian cerita-cerita tentang negri yang kelaparan, misalnya cerita di mimpi salah seorang tahanan teman Nabi Yusuf. Mungkin hal itu sulit terbayang di buni Indonesia yang subur, tapi bagaimana jika suatu saat antara ketersediaan pangan tak sebanding dengan jumlah manusia yang ada di Indonesia.

Masalah pangan adalah hal krusial. Banyak orang menjadi ganas karena kelaparan.

Saat ini jumlah penduduk Indonesia terus merangkak dan mendekati 300 juta jiwa. Hei itu bukan angka sembarangan. Jika disebut bonus demografi maka fasilitas dan lain-lainnya harus sudah siap sejak beberapa tahun silam. Tapi yang terjadi lapangan pekerjaan masih terbatas, pendidikan kurang merata, dan kesenjangan sosial begitu terasa. Jika angka ini tidak dikontrol bersiap-siaplah seperti rusa atau pelikan di kebun binatang.

Eh kok malah ngomongin pelikan dan rusa? Dulu saat masih kuliah jika sedang mumet dengan tugas, aku suka bertandang ke kebun binatang surabaya. Di sana ku terpaku melihat pelikan dan rusa yang berdesak-desakan di kandang yang sempit. Sudah ada tiga kandang untuk rusa dan tetap saja jumlahnya berlimpah, sehingga kemudian rusa itu diserahkan ke berbagai kebun binatang lainnya.

Rusa masih mendingan. Kandang pelikan mengerikan masa itu. Sempit dan berbau amis busuk. Mudah-mudahan sekarang kandangnya sudah layak.

Maaf jadi melantur. Masalah cuaca ini perlu disikapi dengan membuat persiapan untuk mengatasi dampaknya. Jangan sampai Indonesia merana kelaparan gara-gara faktor cuaca. Diversifikasi pangan perlu dipikirkan agar manusia Indonesia bisa tetap bertahan hidup tanpa padi, tapi juga bisa dari sagu, jagung, dan sumber karbohidrat lainnya.

Aku sebenarnya senang puasa disambut hujan sehingga tak terasa panas. Tapi ku kuatir petani meradang dan pangan tak cukup.

Gambar dari 123rf

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 25, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: