Media Sosial dan Keberagaman di Indonesia

Diversity

Jika dulu kebutuhan pokok hanya terdiri atas sandang, pangan, dan papan, kini mungkin bisa ditambahkan poin aktivitas bermedia sosial sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat modern. Ya, bagi masyarakat modern, media sosial merupakan wadah untuk berekspresi sekaligus berkomunikasi. Segala rupa ada di dalamnya, dari mencari pertemanan, mengetahui perkembangan terkini sebuah peristiwa hingga menawarkan barang.

Hiruk pikuk bermedia sosial sudah terjadi sejak lahirnya sebuah situs pertemanan berupa Friendster. Dalam situs tersebut netizen bisa mencari teman-teman masa kecilnya atau menjalin pertemanan baru. Namun, puncak keseruan bermedia sosial mulai terjadi dengan hadirnya Facebook, Twitter, dan aplikasi obrolan seperti Blackberry Messenger, What’s Apps, dan Line. Menyusul kesuksesan berbagai media sosial tersebut, Path, Youtube, dan Instagram pun kemudian juga diminati dengan kelebihan masing-masing.

Mengapa saya katakan aktivitas bermedia sosial itu sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat modern? Oleh karena setiap hari, bahkan sejak pagi hingga larut malam masyarakat modern seolah dipertautkan dengan media sosial tersebut.

Saya sendiri tak bisa memungkiri jika aktivitas bermedia sosial tersebut sudah menjadi bagian rutinitas kehidupan. Terus-terusan ada dan mengalir, seolah tak pernah berhenti. Bahkan kadang saya merasa sepi dan ada sesuatu yang kurang jika belum mengintip timeline percakapan di berbagai grup What’s Apps (WA) atau mengecek kabar terbaru di timeline Facebook, Twitter, dan Instagram.

Selain bisa menjadi ajang reuni dan berbagi informasi, kanal-kanal dalam media sosial tersebut juga bisa menjadi ajang menanggapi sebuah opini atau sebuah peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Ada kalanya perdebatan itu menjadi memanas hingga menciptakan tiga kubu, yang pro, kontra dan yang netral.

Perdebatan yang panas di berbagai media sosial ini saya rasakan sejak saat pilkada DKI Jakarta tahun 2012 dan kulminasinya pada pemilihan RI 1. Saat ini pun berbagai media sosial juga tetap hiruk-pikuk menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi, baik dari ruang lingkup sekitar tempat tinggal hingga ruang lingkup nasional, bahkan internasional.

Jika selama ini ada anggapan bangsa Indonesia merupakan bangsa yang santun dalam bertutur dan berperilaku, maka anggapan itu bisa berubah jika melihat dari komentar-komentar yang bertebaran di kanal-kanal media sosial. Ada banyak caci-maki, ada sekian kata-kata vulgar, juga bahasa yang sekiranya tidak menunjukkan kedewasaan berpikir seseorang dan hanya menurutkan emosi semata. Ada apakah sebenarnya? Apakah tidak bisa pendapat dan kritik disampaikan dengan bahasa yang lugas dan santun, tidak sekedar meluapkan emosi semata.

Perdebatan yang memanas itu seringkali malah menimbulkan perpecahan di sebuah komunitas. Sudah beberapa kali grup WA yang saya ikuti memanas, bertengkar dengan caci-maki, dan kemudian satu-persatu meninggalkan grup hanya karena perdebatan siapa yang didukung dalam pemilu, perdebatan tentang agama, dan sebagainya. Akhirnya beberapa grup memutuskan untuk membuat semacam peraturan untuk setiap anggotanya tidak membahas permasalahan politik, suku, dan agama. Jika tetap ingin membahasnya maka lebih baik membuat grup tersendiri karena ketiga topik itulah yang dianggap ‘biang keladi’ pertengkaran.

Sebenarnya peraturan itu tidak perlu ada jika ada kedewasaan bersikap seperti saling menghargai pendapat, bersikap terbuka, mau bertoleransi, dan tidak menggunakan bahasa yang kasar dan vulgar. Namun, semuanya bisa saja terjadi, bahkan di kalangan yang mengaku berpendidikan.

Menilik dari pendapat atau status seseorang yang seringkali membuat gerah mereka yang membacanya, saya mencoba menganalisis, apa yang mereka pikirkan ketika mereka membuat status atau berpendapat di sebuah media sosial. Apakah mereka menganggap media sosial itu hanyalah sebuah mesin, mereka hanya bercakap-cakap satu arah dengan mesin, sehingga mereka tidak memikirkan dampaknya? Padahal, media sosial itu mudah sekali viral. Selalu ada kemungkinan status tersebut terbaca orang-orang hingga menembus benua.

Mungkin itulah yang dirasakan oleh Florence yang membuat warga Yogyakarta meradang dengan statusnya. Florence hanya salah satu contoh emosi yang tak terkontrol dan kemudian diluapkan di media sosial. Ia mungkin menganggap saat menulis status, berbicara dengan mesin, bukan dengan publik. Di luar sana ada banyak juga Florence yang lain, namun karena tak ada yang melaporkan mereka masih berseliweran di jagat dunia maya dengan status dan pendapatnya yang sesukanya dan menjadikan topik suku, agama, ras, dan antar golongan sebagai bahan olok-olokan.

Tentang keberagaman, masyarakat Indonesia terutama generasi muda harus mengetahui adanya perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan. Untuk hidup harmonis berdampingan maka perlu yang namanya toleransi dan saling menghargai.Tidak perlu segala sesuatunya diseragamkan. Keberagaman yang dimiliki Indonesia itu indah dan sesungguhnya merupakan kekayaan bangsa.

Untunglah masih banyak pihak yang peduli dengan nasib bangsa. Bhineka Tunggal Ika adalah sejatinya bangsa Indonesia, tidak bisa dipungkiri dan malah patut disyukuri dan dirayakan. Adanya ICRS yang selama 10 tahun ini berfokus pada masalah sosial terutama topik pertentangan di kalangan masyarakat berbasis SARA membuktikan bahwa topik ini penting bagi keutuhan bangsa Indonesia.

Saya masih menganggap media sosial memiliki banyak manfaat. Media sosial bisa dimanfaatkan untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Kita bisa mengetahui kabar saudara-saudara kita di Indonesia Timur, juga bisa berbagi tentang apa saja yang terjadi di berbagai sudut Indonesia seperti yang terdapat di forum seperti Sebangsa. Dari media sosial saya bisa mendapat kawan dari Sumbawa yang dulu sepertinya daerahnya tidak pernah saya bayangkan.

Untuk itulah media sosial seyogyanya digunakan untuk menyampaikan hal-hal positif. Jika pun masih ada netizen yang suka menjadikan SARA sebagai bahan provokasi, maka sudah semestinya, mereka dikenakan Hate Speech sebagai sanksi dan sebagai pembelajaran. Para guru dan orang tua juga sebaiknya menanamkan etika berpendapat kepada anak-anaknya sehingga mereka tidak hanya mampu bertutur kata santun di keseharian, akan tetapi juga bisa menerapkannya di dunia maya.

Ingat di dunia maya semakin banyak yang bisa mendengar.

Sumber gambar dari sini

Nb: Artikel ini disertakan dalam lomba yang diadakan oleh ICRS dan Sebangsa.

27641974445_4745b9d9bf_c

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 25, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: