Apakah Anak Bersedia Sekolah Seharian?

images

Full day school sebenarnya bukan sesuatu yang baru, ada banyak sekolah swasta yang menerapkannya. Orang tua dan anak bisa memilih apakah mau bersekolah di FDS atau yang reguler. Saat ini keinginan menteri yang baru menuai kontroversi karena ingin menerapkannya untuk seluruh siswa SD dan SMP.

Sebenarnya yang perlu ditanyai adalah anak itu sendiri, apakah ia ingin dan suka bersekolah sepanjang hari. Kalau dari sisi orang tua, apalagi yang bekerja di perkotaan sih tentu senang-senang aja karena tidak perlu pusing menyewa ART atau menitipkan anaknya usai sekolah. Tapi bagi orang tua yang bekerja di rumah dan perlu bantuan anak untuk membantunya bekerja seperti petani di pedesaan tentu bakal tidak setuju dengan kebijakan ini. Mending dijadikan pilihan saja, tidak diwajibkan.

Kalau sebagai anak, juga tentu ada yang pro dan kontra. Kalau saya sebagai pelajar yang pernah merasai sekolah half day dan mencicipi suasana pesantren seharian lebih dari seminggu, tentu lebih menyukai half day. Bosan banget di sekolah, bertemu teman-teman itu lagi dan di lingkungan itu-itu lagi.

Dulu saya suka jika waktu belajar dipercepat dan pulang lebih awal. Saya bisa jalan-jalan ke toko buku, berenang bersama teman-teman, ngubek buku sepuasnya di perpustakaan atau sekedar rujakan dan belajar kelompok di rumah salah satu teman. Kadang jika lelah setelah belajar menghadapi UTS/UAS maka saya lebih suka bermalasan di rumah, membaca buku bacaan dan mendengarkan musik.

Menteri bilang anak pulang sekolah bisa liar dan ngaji di selain sekolah bisa sesat, benarkah? Wah itu bisa disebut merendahkan si anak. Saya dulu pulang sekolah bermain sendirian atau bersama tetangga, seperti membaca buku, bermain nintendo, masak-masakan, bermain tali, gobak sodor, engklek, bekel, atau bermain boneka, tapi kami tidak tumbuh jadi anak liar. Saya dan tetangga juga mengaji gratis di masjid dekat rumah, tapi juga tidak jadi sesat.

Teman saya yang orang tuanya bekerja dulu juga sering memasak makan siang sendiri sehingga mereka dididik bertanggung jawab. Kadang mereka juga ikut ekskul atau mengerjakan pekerjaan rumah di perpustakaan, tapi dengan kesadaran sendiri bukan dipaksakan.

Meskipun ada acara tidur siang, benarkah anak bisa tidur nyaman dan dipaksakan di jam yang sama di sekolah? Ada fasilitas ruang tidurkah di setiap sekolah?

Entahlah saya rasa full day school dijadikan pilihan saja bukan sebuah keharusan. Jangan hanya membuat nyaman orang tua yang bekerja tapi membuat si anak jadi susah dan kecapekan. Tentang anak jadi liar atau sesat di luar sekolah, bagi saya itu sebuah pendapat yang subyektif dan tidak bisa disamaratakan.

Wah kalau saya jadi siswa lagi tentu bakal protes dengan rencana kewajiban FDS. Enaknya pulang sekolah itu makan siang, tidur siang sejenak terus baca buku bacaan, nonton kartun atau main video games, lalu main di luar bersama teman-teman. Habis maghrib, belajar dan mengerjakan PR lalu main atau nonton teve hingga jam tidur.

Seharian di sekolah huuh bisa enek, kecuali sekolahnya memiliki fasilitas lengkap dan menyenangkan. Kalau misalkan ada ekskul, sebaiknya yang benar-benar diminati tidak diwajibkan. Dulu ortu ingin saya aktif di KIR, tapi saya ogah-ogahan dan lebih suka berlatih teater. Sudah sumpek belajar, jadinya saya ingin sesuatu yang menyenangkan.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 10, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: