Belum Kekinian di Jalan Ibukota Jika Blablabla

Kalau lagi lengang dan bukan jam berangkat/pulang kerja enak banget aik gerbong wanita di CL

Kalau lagi lengang dan bukan jam berangkat/pulang kerja enak banget aik gerbong wanita di CL

Desas-desus adanya pelarangan masuknya bus kota reguler ke jalanan ibukota akhir November membuat para anggota forum diskusi transportasi menjadi was-was. Saat ini di Jakarta telah diberlakukan kebijakan nopol ganjil-genap di kawasan perkantoran Thamrin-Sudirman dan sebagian Gatot Subroto. Belum lagi bakal ada kenaikan tarif Commuter Line. Alhasil jika buskota reguler dilarang beroperasi sementara CL dan bus Trans Jakarta masih terbatas, alhasil masyarakat Jakarta bakal makin puyeng jika bepergian. Nah beberapa waktu lalu juga ada lelucon apa saja gaya kekinian bertransportasi di Jakarta.

Naik bus Trans Jakarta dianggap lebih kekinian dan bergaya jika naik bus reguler apalagi seperti Metromini dan Kopaja. Bus Trans Jakarta ber-AC dan banyak yang berdasi wangi juga perempuannya yang mengenakan pakaian kantoran yang rapi. Sayangnya bus ini susah dijumpai terutama di koridor 9 yang mengarah ke Cawang, Gatsu, Slipi, dan Grogol. Padahal rute-rute tersebut merupakan rute gemuk. Yang diistimewakan lagi-lagi koridor 1 alias Blok M-Kota dimana busnya cukup banyak.

Dengan bus yang terbatas dan jadwal bus yang tidak jelas membuat terjadinya penumpukan penumpang di halte bus Trans Jakarta. Apalagi jika terpaksa transit dan melewati jembatan penghubung yang astaga sangat panjangnya seperti di Semanggi dan Cempaka Putih. Setelah transit juga tidak langsung dapat bus, bisa menunggu hingga 1-2 jam. Ya tidak salah sih jika ada yang menyebut bus TJ yang termasuk BRT sebagai bus ribet transit. Ada yang pernah mengalami naik bus TJ dari Grogol ke Kampung Rambutan lima jam. Saya sendiri juga pernah ngalami. Duhhh udah capek berdiri, jalannya diserobot dengan kendaraan pribadi dan jalan TJ yang lelet karena maksimal kecepatannya 50 km/jam. Belum lagi transit di BNN yang padat banget. Yang bikin kesal lagi tidak ada biaya single trip sementara biaya kartu perdananya mahal yaitu Rp 50 ribu dengan isi hanya 30 ribu. Ketika lupa bawa e-money rasanya begitu dongkol dipaksa beli kartu BNI, sedangkan pilihan kartu mandiri tidak ada. Duh gimana isinya sementara saya bukan pengguna BNI dan tidak selalu naik TJ. Jadi gaya kekinian pertama adalah naik bus Trans Jakarta dan mengendap di halte 1-2 jam untuk menunggu bus terutama di halte transit. Selanjutnya berdesakan ala ikan pindang di bus TJ hehehe. Miris ya.

Gaya kekinian kedua tentu naik Commuter Line. Sudahlah naik Koantas Bima, Kopaja, dan Metro Mini termasuk angkot sudah tidak musim. Hahaha padahal saya masih sering naik bus reguler karena lebih mudah ditemui daripada bus TJ untuk saat ini. Saya dianggap kuno biarlah, yang penting datangnya ke acara tepat waktu dan tidak harus berdesakan ala pepes.

Saya juga pengguna CL meski tidak tiap hari. Untuk ke daerah Slipi jika tidak naik bus Mayasari Ac 02 saya lebih suka naik CL karena masih lumayan banyak kereta ke Tanah Abang dan ke Serpong dibandingkan menunggu hingga berlumut di halte TJ BKN menuju Slipi. Nah gaya kekinian warga Jabodetabek tentunya berebut naik CL, apalagi di gerbong khusus wanita biasanya aksi keluar/masuknya ke gerbong CL penuh drama. Bisa ada dorong-dorongan dan sebagainya sehingga jika jam pulang kerja saya malah merasa lebih aman di gerbong umum daripada khusus wanita.

Gaya kekinian berikutnya tentu naik transportasi online. Tak heran di hape anak Jakarte ada beragam aplikasi transportasi dari Gojek, Uber, dan Grab. Sebelum menggunakan aplikasi maka dicek dulu maka yang memberikan tawaran paling murah. Ada yang memiliki banyak akun untuk satu aplikasi demi mengejar promo gratis naik untuk pengguna baru dan sebagainya. Padahal kadang-kadang lebih enak naik bus patas daripada ojek online pada musim hujan karena lebih terlindung dari hujan dan bisa lebih cepat karena lewat tol. Tapi memang untuk saat-saat tertentu terutama jika tidak tahu jalan dan tidak tahu rute bus lebih mudah naik ojek dan taksi online.

Dulu sempat ada tren naik sepeda ke kantor. Tapi karena di Jakarta tidak ramah sepeda maka gerakan tersebut makin sepi peminat. Lantas ada juga yang memilih membeli lagi mobil untuk mendapatkan plat ganjil jika di rumah hanya ada plat genap. Ya semakin banyak produsen mobil murah dan kepemilikan motor juga dipermudah dengan kredit tanpa uang muka bagaimana tidak semakin banyak kendaraan pribadi di ibukota.

Kalau saya tidak penting gaya kekinian, yang penting bisa sampai ke tujuan tepat waktu. Naik angkot, bus patas, TJ, ojek, atau CL sudah saya cicipi, mudah-mudahan sebelum bus reguler benar-benar lenyap sudah ada transportasi publik yang lebih baik.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 31, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: