Ohlala Stasiun Tanah Abang

Stasium tanah abang

Di antara stasiun commuter line yang pernah saya singgahi, Stasiun Tanah Abang merupakan stasiun yang kerap membuat saya gentar. Rasanya dimana-mana saya melihat manusia dan rasanya saya tak mampu bergerak.

Ya..ya..ya stasiun ini membuat saya was-was karena menjadi lokasi transit ke Maja dan Serpong. Jika saya menuju ke Palmerah terpaksa harus melalui stasiun ini dan percayalah situasi saat jam kerja dan pulang kerja bisa membuatmu ingin menangis atau bersumpah serapah.

Stasiun ini termasuk stasiun favorit karena ada banyak dari mereka yang berbelanja ke Pasar Tanah Abang. Tapi banyak juga yang menuju ke stasiun ini karena ingin menuju Maja, Serpong, dan Duri juga ke Rangkas Bitung. Apalagi bagi mereka yang tinggal di Tangerang dan bekerja di Sudirman dan Karet maka pastinya berkepentingan menuju stasiun Tanah Abang.

Entah kenapa saya merasa Stasiun Tanah Abang makin penuh sesak. Mungkin karena uji coba ganjil genap atau memang commuter line semakin diminati. Bisa jadi manusianya kurang sabaran dan tidak bisa antri. Okelah jika hari kerja saya rasa masih wajar begitu sesak.

Akan tetapi pada hari Sabtu seperti tadi siang saya rasa menjadi tanda tanya mengapa stasiun Tanah Abang begitu menyesakkan perasaan. Rupanya ada beberapa gelintir yang tidak disiplin dan tidak mau antri. Mereka mengambil jatah tangga dari sisi yang berlawanan. Terlihat sepele tapi efeknya luar biasa. Antrian menuju tangga agar bisa menuju rute sebaliknya pun luar biasa mengular.

Sudah satu jam menunggu di Palmerah. Berdesakan parah untuk antri menuju tangga dan naik ke tujuan Bogor. Lantas setelahnya, CL antri lama untuk masuk ke Stasiun Manggarai. Ternyata sama-sama menyiksanya antara CL dan Trans Jakarta. Tapi percayalah ini hanya keluhan dan saya mengagumi mereka-mereka yang berjibaku setiap harinya bekerja dengan naik CL ataupun TJ yang penuh sesak tanpa banyak mengeluh.

Mudah-mudahan transportasi publik makin nyaman. Toh bakal dinaikkan kan tarifnya. Malu dong kalau tarif naik layanannya gitu-gitu saja.

Sudah deh edisi mengeluhnya, kalau sedang beruntung dan lagi lowong naik CL atau TJ cukup menyenangkan kok. Apalagi jika menunggu bus atau keretanya tidak sampai jam-jaman dan dapat tempat duduk. Tapi kalau pada jam berangkat/pulang kerja membayangkan kenyamanan seperti itu rasanya untuk saat ini masih muskil, mungkin tahun depan atau tahun depannya lagi setelah bus TJ diperbanyak dan MRT telah beroperasi.

Saya masih optimis Jakarta bisa lebih baik, termasuk layanan transportasi publiknya.

Gambar dari Kompas

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 3, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: