Ketika Menulis Straight News

Koran

Gara-gara gemar membaca Tintin, dulu pengin banget merasakan menjadi kuli tinta. Ketika sudah diterima di media yang dulu terbesar Surabaya (entah sekarang), baru tahu sebenarnya aku tidak punya kemampuan apa-apa menjadi wartawan. Sahaya tidak bisa menulis berita.

Kenyataan pahit itu menerjang ketika akhirnya mendapatkan sebuah kesempatan menulis berita. Mendapatkan berita untuk wartawan baru media cetak harian saat itu sangat susah. Jumlah halaman terbatas dan harus bersaing dengan para wartawan lainnya. Mendapatkan berita saja susah, belum lagi menuliskannya dan mendapatkan jatah halamannya.

Selama seminggu diriku lontang-lantung kesana kemari memikirkan apa yang kiranya bisa jadi berita. Berita itu harus aktual dan tidak basi. Berita hari itu ya harus ditulis hari itu juga, kecuali acaranya di atas pukul 20.00 bisa ditulis keesokan harinya atau sementara cukup berita foto dulu. Menulis profil yang menarik dan high taste memang masih bisa masuk tapi untuk feature selalu direncanakan setiap minggu. Pernah beberapa kali memasuki sebuah acara tapi sudah ada wartawan senior yang datang sehingga ya terpaksa harus pergi ke tempat lain.

Tidak mendapatkan berita bagi sebuah wartawan itu mengenaskan. Dan jangan bayangkan situasinya seperti di Jakarta saat ini yang banyak acara ini itu. Kalau acara rilis produk lebih cocok ditulis di rubrik komersial atau juga bisa menjadi berita ekonomi, tapi ya kan sudah ada bagian iklan dan wartawan pos ekonomi.

Akhirnya kugunakan waktu dengan berkenalan dengan para humas hotel dan tempat wisata seperti kebun binatang Surabaya. Ketika pulang menuju kantor sore hari aku merasa cemas karena tidak ada berita menarik yang kubawa.

Akhirnya kami mendapat tugas meliput acara green & clean. Lumayanlah dapat berita. Setelah tiba di kantor aku merasa bingung menuliskannya.

Sejak dulu aku terbiasa menulis fiksi, jadinya sudah terbiasa dengan ada pengantar seperti cerita. Sedangkan straight news itu tanpa basa-basi. Di sebuah paragraf awal harus jelas 5W+1H. Sudah tanpa basa-basi tapi tetap harus menarik dan mengalir ketika dibaca, fuih.

Duh aku kelimpungan, lalu aku pun mencari contekan mengikuti gaya wartawan senior di koran. Ternyata mencoba meniru itu susah, selama 15 menit aku bengong menatap layar dan dikejutkan oleh seorang redaktur.

Masa awal menjadi wartawan itu berat. Kami tidak punya meja dan komputer sendiri. Kadang gantian dengan wartawan junior lainnya atau saya menclok ke bagian ekonomi, Jawa Timur atau ke ruangan yang tersambung internet. Pokoknya asal bisa mengetik. Saat itu laptop masih sangat jarang juga jangan bertanya ada smartphone. Ponsel pintar masa itu hanya komunikator yang muahal itu.

Sudah capek menulis berita dimana satu jam baru jadi, tidak lolos redaksi. Paragraf awal buruk dan judulnya juga tak kalah buruk. Saat kelas malam dimana berlangsung hingga tengah malam tulisan saya sering dikritik, saya lemah di lead dan judul.

Hingga dua bulan pertama, saya masih sering dipanggil redaktur. Dikritik tentang penulisan, kadang disuruh duduk di sebelahnya agar saya bisa cepat mengerti. Badan sudah lelah seharian dan kini saya harus cepat bisa menguasai menulis berita.

Hingga kemudian resmi di pos life style saya masih tidak pandai menulis straight news. Untunglah saya masih bisa menulis feature yang bahasanya bisa lebih luwes, artikel kuliner dan fashion untuk sisipan mingguan. Lalu bos baru saya yang perempuan mengajak saya menulis komunitas. Itu baru menarik.

Berbulan-bulan di life style saya paling nyaman di seni budaya. Acara drama, tari dan pertunjukan lainnya paling saya nikmati. Tapi jika menulis serba-serbi fashion aku berbalik mati kutu.

Kata teman tidak apa-apa tidak style yang penting life hahahaha…

Tapi setelah saya beradaptasi di lifestyle saya dipindahkan ke kesehatan yang terkadang merangkap kriminal. Saya kembali tergagap-gagap, dari dunia glamour dan nyeni kemudian menyelami penyakit dan orang mati.

“Kamu jangan lupa setiap saat cek daftar orang meninggal di pos kamar mayat. Di sana ada keterangan meninggalnya, coba cek yang meninggalnya tidak wajar…”, saran senior sebelum mengalihkan tugas ke saya.

Saya pun pucat…waduh!!!

Gambar dari sini

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 15, 2016.

4 Tanggapan to “Ketika Menulis Straight News”

  1. suka dukanya menjadi wartawan jaman dulu ya mbak. lah sekarang berita- berita online tinggal comot dari akun ig gosip. hehe. 😀
    penasaran cerita lanjutannya di kesehatan. 🙂

    • Hehehe yang dulu susah banget itu motret sebelum akhirnya punya dana buat beli kamera digital dan mengetiknya karena belum ada gadget juga akses internet. Tapi kalau dengar cerita wartawan sebelum era windows juga lebih berat lagi. Harus ngetik pakai mesin ketik. Diburu deadline pakai mesin ketik waduh susah bayanginnya:p Belum lagi ngedit dan layoutnya hahaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: