Sisipan Pluralisme dalam Rudy Habibie

rh

Film Rudy Habibie yang merupakan prekuel dari Habibie & Ainun sudah hadir menyapa penonton bioskop pada 30 Juni hingga akhir Juli 2016. Film berdurasi dua jam lebih ini bagi saya lebih menarik dibandingkan film pertamanya. Lebih berwarna dan alur ceritanya tidak begitu datar. Ada banyak hal yang saya dapatkan dari film ini. Salah satu yang menarik perhatian dalam film Rudy Habibie ini adalah pesan-pesan pluralisme yang disisipkan secara halus.

Ada berbagai pesan pluralisme dalam film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini. Hanung memang salah satu sutradara yang beberapa filmnya kerap mengandung pesan-pesan tersebut seperti Perempuan Berkalung Sorban, Cinta Tapi Beda, dan Tanda Tanya (?).

Menurut saya Hanung hanya menyuguhkan realita yang ada di masyarakat. Namun, memang ada pihak-pihak yang memang tidak siap dengan hal tersebut sehingga film Hanung dianggap mengundang kontroversi.

Dalam Rudy Habibie, Rudy (Reza Rahadian) digambarkan sebagai sosok yang jenius dan religius. Ia lahir dari pasangan beda suku, Gorontalo dan Jawa, sehingga ia terbiasa dengan perbedaan tradisi dari kedua suku tersebut. Saat ia menimba ilmu di Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen University, Jerman ia juga bertemu dengan kawan-kawan mahasiswa beda suku dan agama, ada yang Batak, keturunan Tionghoa dan seorang puteri Solo. Namun hal itu tak membuatnya terkotak-kotak, melainkan mereka disatukan dalam wadah Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI).

Pesan menghargai perbedaan agama terlihat dari para mahasiswa Eropa yang keheranan melihat Rudy sholat di bawah tangga kampus. Saat itu keberadaan muslim masih minim di Jerman sehingga tindak-tanduk Rudy melakukan gerakan sholat membuat mereka penasaran. Ketika mereka tahu maksud dari perbuatan Rudy di bawah tangga tersebut merupakan bagian dari ritual agama, mereka pun tidak mengganggunya dan meninggalkannya.

Ada lagi pesan pluralisme saat dimana Rudy merasa sangat gelisah. Ia merasa lapar tapi tidak punya uang berlebih dan mengira ibunya lupa mengirimkan dana. Namun, dugaannya ternyata salah dan ia merasa bersalah atas prasangka buruknya. Ia ingin berdoa saat itu juga, akan tetapi tempat induk semangnya begitu jauh. Ia kemudian menanyakan lokasi masjid ke orang yang ditemuinya. Tapi tidak ada masjid terdekat. Ia gundah dan kemudian memilih berdoa di gereja. Ia duduk di gereja dan kemudian berdoa dengan tenang. Ia yakin gereja juga merupakan tempat yang suci sehingga Tuhan akan mendengar doanya.

Masih ada adegan lain yang menunjukkan pesan-pesan pluralisme dalam film Rudy Habibie. Menurut saya pesan tersebut dalam kadar wajar dan tidak berlebihan. Memang bagi sebagian kalangan yang tidak menyukai hal-hal terkait pluralisme mungkin hal tersebut akan dijadikan alat untuk menyerang film ini. Tapi saya yakin masih banyak penonton Indonesia yang berpikiran dewasa dan terbuka.

Film Rudy Habibie menurut saya film yang patut ditonton karena banyak memberikan inspirasi. Saat ini Indonesia perlu banyak generasi muda seperti Habibie agar Indonesia bisa terus melangkah maju serta tidak hanya mempergunakan waktu untuk bertengkar dan berdebat di media sosial terkait SARA yang malah bisa memperpecah persatuan dan kesatuan bangsa.

Ulasan lengkap untuk filmnya ada di sini.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 11, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: