Malang Bisa Jadi Destinasi Wisata Sejarah

museum brawijaya

Yogyakarta dan Jawa Tengah dikenal sebagai daerah yang kaya akan peninggalan benda purbakala. Malang dan sekitarnya juga sebenarnya sama seperti daerah tersebut, juga memiliki catatan sejarah dengan adanya Kerajaan Kanjuruhan dengan rajanya yang terkenal, Mpu Sindok dan Gajayana. Di Singosari, Kabupaten Malang juga banyak candi peninggalan Kerajaan Singosari. Alhasil, Malang sangat layak menjadi tujuan wisata sejarah dan purbakala.

Wisata sejarah memang kurang menarik bagi kalangan muda apabila disandingkan dengan wisata alam ataupun wisata kota dan wisata kuliner. Jika berkunjung ke suatu daerah, mungkin wisata sejarah menjadi pilihan terakhir dan peminatnya terbatas. Jika pun ada kalangan muda berkunjung ke sebuah cagar budaya ataupun museum, dari pengamatan saya, sebagian dari mereka hanyalah berfoto-foto untuk menambah portofolio di media sosial mereka.

Saya bertanya-tanya apakah memang wisata sejarah kurang menarik? Dalam hati saya merasa was-was, apakah para generasi muda Malang dan sekitarnya paham akan sejarah kota mereka dan bangga daerah mereka pernah menjadi salah satu pusat budaya dan pemerintahan di masa silam?

Guru jaman dulu menanamkan rasa suka pada sejarah dengan mengajak para siswa-siswinya berkunjung ke museum dan candi, lalu memintanya membuat jadi semacam rangkuman dan dikumpulkan. Saya ingat dulu kami berjalan kaki berkilo-kilometer dari sekolah menuju museum Brawijaya. Dan di sana kami terkagum-kagum melihat koleksinya, terutama gerbong maut. Waktu TK kami diajak berwisata menuju jejak sejarah Singosari, dari pemandian Ken Dedes, berfoto di reco pentung (dwarapala) kemudian menuju Candi Singosari. Mengagumkan, begitu kesan saya masa itu. Mungkin guru sekarang bisa meniru gaya guru jaman dulu agar siswa-siswinya menyukai dan bangga akan sejarah nusantara.

Candi Singosari, candi terbesar jaman Singosari

Candi Singosari, candi terbesar jaman Singosari

Wisata purbakala di Malang dan sekitarnya bisa terbagi menjadi tiga, yaitu berkunjung ke candi-candi, menikmati koleksi museum, dan melihat bangunan masa lalu atau cagar budaya yang masih ada hingga sekarang.

Untuk candi, di Malang ada lumayan banyak dan sebagian merupakan warisan kerajaan Singosari. Ada Candi Jago, Candi Kidal, Candi Singosari, Candi Sumberawan, Candi Badhut, dan Candi Jawi. Setiap candi memiliki cerita tersendiri, dilihat dari relief dan juga tujuan pembuatannya.

Candi Badhut atau Candi Liswa disebut-sebut sebagai candi tertua di Jawa Timur. Lokasinya di Tidar, Malang. Candi ini didirikan pada masa kejayaan Kerajaan Kanjuruhan yang masa itu diperintah Liswa atau Gajayana. Candi ini memiliki penampilan yang berbeda dengan candi Jawa Timur pada umumnya dan lebih mirip dengan candi ala Jawa Tengah dengan bentuknya yang tambun.

Candi yang memiliki bentuk berbeda lainnya adalah Candi Sumberawan yang terletak di desa Toyomarto, Singosari. Saat ke sini saya terpukau dengan lokasinya yang adem, penuh dengan pepohonan tinggi dan dekat dengan mata air. Tenang dan adem sehingga menurut penjaga, biasanya ada pengunjung yang bermeditasi di sini. Candi ini unik karena berbentuk seperti stupa. Rupanya pada masa itu candi ini menjadi tempat beribadah umat Buddha pada masa kejayaan Kerajaan Singosari dimana menunjukkan toleransi agama sudah ada pada masa tersebut.

Candi Sumberawan yang indah dan adem

Candi Sumberawan berada di kawasan yang indah dan adem

Candi Jago di Tumpang

Candi Jago di Tumpang

Keempat candi lainnya merupakan peninggalan Singosari, yaitu Candi Kidal, Candi Jago, Candi Jawi dan Candi Singosari. Yang terbesar adalah Candi Singosari dengan menyimpan arca Ken Dedes. Di Singosari juga terdapat Dwarapala, yaitu arca seperti buto sebagai penjaga kota. Juga ada pemandian Ken Dedes yang pernah saya kunjungi waktu masih TK.

Sedangkan untuk museum ada Museum Brawijaya, Museum Malang Tempo Doeloe, Museum Purwa, Museum Bentoel, Museum Musik juga Museum Singosari di Lawang. Kota Batu juga memiliki museum dengan cita rasa modern, yaitu museum transportasi atau Museum Angkut, Museum Satwa, dan juga D’ Topeng. Juga ada museum mini berupa museum satwa bernama Museum Zoologi Frater Vianney

Museum Brawijaya merupakan museum perjuangan Kera Ngalam dan pejuang Indonesia dalam menghadapi agresi militer Belanda. Malang Tempo Doeloe menampilkan benda antik yang digunakan masa lalu juga sejarah kota Malang. Museum Musik bercerita tentang sejarah musik di kota Malang dan di Indonesia, sedangkan benda purbakala tersimpan di museum Purwa.

Sementara Kota Batu cerdik dalam menarik wisatawan agar tertarik untuk belajar sejarah dengan promosi yang apik dan memadukannya dengan sudut-sudut dan dekorasi yang modern sehingga kalangan muda menyukainya. Di antara museum di kota Batu, saya paling menyukai konsep Museum D’ Topeng Kingdom dimana Topeng dan tari Topeng merupakan tarian khas Malang. Selain koleksi ribuan topeng berbagai daerah juga banyak benda antik dari berbagai daerah yang kaya cerita.

Koleksi ribuan topeng di D'Topeng Kingdom

Koleksi ribuan topeng di D’Topeng Kingdom

Koleksi museum Purwa

Koleksi museum Purwa

Sedangkan untuk cagar budaya kebanyakan ada di kawasan Ijen, Alun-alun dan kawasan Tugu, seperti Gereja Kayu Tangan, GPIB Immanuel Malang, Balai Kota, Stasiun Kota Lama, dan Klenteng En Ang Kiong.

Bangsa yang besar menghargai jasa pahlawan dan memahami sejarah negaranya. Sebagai kera ngalam juga sebaiknya memahami dan bangga akan peninggalan sejarah juga bisa menceritakannya kembali ke anak cucu agar cerita itu tidak hilang dan terlupakan. Yuk bantu promosikan Malang dan sekitarnya sebagai kota destinasi sejarah dan wisata purbakala.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 12, 2017.

2 Tanggapan to “Malang Bisa Jadi Destinasi Wisata Sejarah”

  1. Wah kepingin bisa ke Malang, selain bisa wisata sejarah katanya makanannya enak2 ya mba Dewi?

    • Hehehe iya makanannya enak-enak.Biasanya kalau pulang kampung, aku puas-puasin santap rawon, rujak cingur, bakso, soto kikil, nasi goreng mawut, tahu campur, dan masih banyak lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: