Photo Essay Drama Kucing

Sebuah pagi yang cerah dan sejuk. Matahari masih malu-malu menyapa, enak buat para makhluk berkumis berkaki empat untuk bermalasan di halaman. Nero pun ikut berjemur dan bergulingan di halaman. Eh seterunya si Putih dan si Momo hitam ternyata juga ikut menikmati suasana pagi hari.

Nero awalnya cuek, dia habis makan dan hanya ingin bersantai. Si Mungil yang habis berolah raga, berlarian kesana kemari, mendekati si Nero.

“Wah kayaknya enak banget bersantai di sini. Aku ikutan ya,” Mungil mendekat dan sedang ingin berdamai dengan Nero. Waktu melihat ke arah pagar dia terkejut ada Momo Hitam yang suka berbuat jahat kepadanya. Momo Hitam suka cari gara-gara, padahal ia suka menyantap makanan sisa si Mungil.

“Duh ada si Momo Hitam, perasaanku jadi tak enak ka Nero,” bisik Mungil

“Kamu tenang aja, bukan Momo Hitam yang kutakuti. Si Putih itu yang lebih tambeng,” Nero menenangkan sekaligus mulai waspada. Si Mungil matanya melotot ketakutan melihat si Putih yang matanya mengawasi gerak-gerik si Nero.

“Kakak Nero, si Putih kok mau ke arah sini ya. Aku takut!”

Nero melengos kesal. “Pergi sana deh jika takut!”

Si Putih semakin mendekat dan menggeram. Tanpa disuruh si Mungil pun menjauh. Ia bingung kemana arah kaburnya, di depan ada Momo. Kalau gitu aku masuk dapur aja. Di sana bisa tenang dan makan.

Tak lama si Nero dan si Putih pun bersiap kelahi. Si pemilik rumah segera memercikkan air ke arah ke duanya. Mereka pun kabur sambil berkelahi. Duhhh Nero kelahi lagi deh.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 12, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: