Yuk Cari Tahu Ada Apa Saja di Festival Sastra Banggai dan Kekayaan Daerahnya

Mumpung masih muda saya ingin bisa berkeliling ke seluruh wilayah nusantara. Biasanya saya suka memperhatikan diskon tiket pesawat terbang dan penasaran dengan rute-rute baru penerbangan. Ada berbagai daerah yang memiliki bandara dan belum saya ketahui dengan baik. Salah satunya adalah kota bernama Luwuk, yang terletak di Kabupaten Banggai, Sulawesi Timur. Ada apakah di kota tersebut? Pasti kota tersebut memiliki daya tarik khusus atau daerah yang berpotensi sehingga memiliki bandara dan memiliki cukup banyak jadwal penerbangan.

Awal tahun biasanya aku suka mencatat daerah-daerah yang ingin kukunjungi. Siapa tahu harapanku terwujud. Januari lalu memang Luwuk tidak masuk dalam radar, namun ketika melihat-lihat kekayaan negerinya, baik dalam hal pariwisata, budaya, dan tentunya masakan daerahnya, aku jadi tertarik dan berharap tahun ini bisa berkunjung ke kota ini.

Luwuk terletak di Sulawesi Tengah bagian timur, cukup jauh dari Palu, ibu kota Sulawesi Tengah, yaitu berjarak sekitar 600 kilometer, atau seperti Semarang menuju kota Malang. Selain bisa ditempuh melalui perjalanan darat via Palu dan Makassar, Luwuk juga bisa dikunjungi via lautan oleh karena lokasinya yang terletak di ujung timur dan kaya akan wisata pantai. Pelabuhan Luwuk ini bahkan sudah dikenal sudah lama sebagai salah satu pelabuhan yang strategis di bagian timur Indonesia. Jika melalui transportasi laut, maka bisa naik kapal ferry dari Gorontalo atau Manado.

Oleh karena sudah ada bandara tersendiri, bandara Syukuran Aminuddin Amir Luwuk, Banggai, maka perjalanan bisa lebih praktis. Cukup naik penerbangan dari Jakarta transit Makassar/Manado/Palu/Gorontalo, lalu dilanjutkan menuju Luwuk. Dalam kurun waktu kurang dari enam jam sudah tiba deh, sehingga waktu sehari bisa dimaksimalkan untuk berjalan-jalan menikmati panorama alam atau mencicipi aneka sajian kuliner daerah.

Keindahan Alam Dari Pantai Hingga Bukit

Oleh karena terletak di semenanjung, maka wilayah Banggai terdiri atas dataran rendah hingga dataran tinggi. Alhasil panorama alamnya pun komplit, dari panorama bawah laut dan pulau-pulau di sekeliling, pantai yang indah dan bersih, hingga air terjun dan dataran tinggi.

Kota yang memiliki motto Luwuk Berair (Bersih, aman, indah, dan rapi) ini memiliki sejumlah obyek wisata. Pantai yang terkenal salah satunya Pantai Kilolima yang dekat dengan pusat kota Luwuk. Pantainya indah dan bersih, dengan ombak yang tenang. Untuk menikmati petang dan malam hari maka bisa berkunjung ke Teluk Lalong yang memiliki banyak pedagang makanan mengundang selera. Pagi harinya bisa menikmati panorama bawah laut di Pulo Dua dan memandang hamparan lautan dari atas bukit Tomotika di Pulo Dua.

Pantai Kilo Lima yang bersih dan indah

Setelah puas bermain air dan menikmati keindahan pantai, maka bisa menikmati keindahan air terjun di Salodik atau bermain air di Molino Tontouan yang airnya segar untuk mandi dan alamnya masih murni. Juga ada Danau Tower yang menjadi area pemancingan.  Yang unik dan jarang ditemukan di tempat lain adalah penangkaran burung maleo di Taima, dimana merupakan burung khas Sulawesi yang mulai langka.

Masakan Khas yang Lezat

Luwuk, Banggai juga memiliki masakan khas yang nikmat. Jika ke sini rasanya saya ingin mencoba semuanya. Oleh karena terletak di dekat pesisir, maka masakan khasnya juga di antaranya menggunakan bahan baku dari laut. Apa saja yang lezat untuk disantap?

Masakan yang sulit dilewatkan adalah Milu Siram ala Luwuk. Masakan yang terbuat dari pipilan jagung, irisan daun bawang, dan taburan bawang goreng ini gurih dan sedap dengan tambahan hasil laut seperti ikan tongkol, ikan tuna atau udang. Harumnya menggoda selera dengan tambahan daun kemangi dan biasanya ditambahkan perasan jeruk nipis. Kadang ditambahkan keripik dan perkedel. Masakan ini mudah dijumpai baik di pinggir jalan maupun di kawasan wisata.

Berikutnya adalah masakan yang hangat yaitu Kaki Lembu Dongala. Masakan ini cocok bagi yang sedang kurang fit karena kaya vitamin, mineral, dan zat besi dari seporsi sop kaki yang kenyal, gurih, dengan bumbu rempah-rempah yang khas dan hangat. Asyiknya disantap malam hari saat hawa mulai sejuk.

Searah jarum jam: Pisang Lowe, Onyop, Milu Siram ala Luwuk, Kaki lembu Donggala, dan Sayur Lilin

Ada juga Sayur Lilin yang khas. Sayur Lilin atau yang juga disebut Sayur Tubruk di kalangan masyarakat Betawi ini bisa dimasak dengan santan, ditumis, atau dimasak ala kuah asam. Apabila dimasak dengan kuah asam maka cocok dihidangkan bersama masakan sagu bernama Onyop. Onyop ini kental dan agak lengket dengan rasa hambar sehingga cocok disantap dengan masakan berkuah asam, baik berupa sayuran ataupun berupa ikan. Wah jadi ingin mencobanya.

Untuk makanan ringannya ada pisang goreng dengan sambal terasi pedas yang disebut Pisang Lowe. Sebagai temannya adalah minuman hangat yang disebut Saraba yang terbuat dari bahan utama jahe merah dan gula aren. Juga ada kue yang disebut Kala-Kalas atau Kaakaras yang terbuat dari tepung beras dan digoreng. Kue ini lazimnya ada saat perayaan Maulid Nabi.

Budaya dan Kearifan Lokal

Untuk tradisi dan kearifan lokal, Banggai juga memiliki kekayaan beragam. Apalagi di Banggai hidup berbagai suku, di antaranya suku Saluan, Banggai dan Balantak. Ketiga suku ini merupakan suku besar di Banggai dan menciptakan kebudayaan yang khas di Banggai.  Tradisi yang saat ini masih dilestarikan adalah Upacara Adat Tempe, yakni upacara mengantar telur Maleo. Seperti yang disebutkan sebelumnya, burung Maleo adalah burung khas dan burung kebanggaan Banggai.

Pada tradisi ini setelah upacara selesai, maka telur Maleo akan dimasak dan disantap bersama-sama. Upacara pengantaran telur Maleo ini memiliki makna khusus, karena burung Maleo dikenal sebagai burung yang setia kepada pasangan dan anaknya adalah sosok yang mandiri. Adanya tradisi ini sebenarnya bertujuan untuk melestarikan burung Maleo karena tidak semua telur digunakan dalam ritual, namun sering dimaknai berbeda karena jumlah burung yang semakin langka. Padahal permasalahan sebenarnya dari semakin langkanya Maleo adalah perusakan habitatnya oleh oknum yang serakah.

Upacara pengantaran telur Maleo

Tradisi lainnya berupa upacara gunting rambuk suku Balantak yang disebut Upacara Montojang. Ada pula Tari Molabot atau tari penyambutan atau juga disebut tarian yang menunjukkan persaudaraan tiga suku.  Juga terdapat Tari Osulen atau tari pergaulan muda-mudi, serta Tari Tontilaa yang menunjukkan rasa syukur.

Tarian suku Saluan yang disebut Uwe Kantumuan Mami menggambarkan kehidupan masyarakat suku Saluan yang bergantung pada rotan. Oleh karena rotan menggambarkan harapan dan kekayaan batin, maka mereka berupaya untuk melestarikan hutan dan bijak memanfaatkan hasil alam.

Dari segi kearifan lokal, oleh karena dulunya Banggai merupakan kerajaan dan terdiri atas suku-suku, maka terdapat Seba Adat atau musyawarah adat sebagai wadah untuk melestarikan adat-istiadat yang dimiliki tiap-tiap suku. Oleh karena upacara tradisi tersebut memerlukan dana dan keterlibatan warga, maka di sinilah terlihat kecintaan dan gotong-royong warga untuk melestarikan tradisinya di era modern ini.

Sastra di Banggai

Oleh karena terdiri atas suku-suku dan dulunya merupakan kerajaan, maka Banggai juga memiliki kisah-kisah rakyat dan legenda dimana berupa prosa maupun puisi. Karya sastra lama tersebut dikenal dengan nama Banunut, Baode, dan Paupe.

Namun, sayangnya seperti di sebagian daerah Indonesia lainnya, kondisi literasi di Banggai mulai menunjukkan gelagat mencemaskan. Hal ini mungkin disebabkan budaya literasi yang rendah dan beragam hiburan yang membuat kalangan muda teralihkan. Padahal sastra adalah cerminan kondisi masyarakat setempat.

Untuk membangkitkan kembali semangat literasi di kalangan masyarakat Banggai, maka diadakanlah Festival Sastra Banggai (#FSB2017) yang dihelat 21-23 April bertepatan dengan hari Buku Internasional. Dengan semboyan Rayakan Kata Bumikan Ilmu, diharapkan tumbuh semangat untuk menulis, membaca, dan melestarikan warisan sastra di kalangan generasi muda, sehingga makin tumbuh #BanggadiBanggai dan Luwuk jadi #LuwukKotaAksara

Keterangan/Sumber Gambar:
satu | dua | tiga | empat | lima | enam | tujuh  | delapan |

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 1, 2017.

2 Tanggapan to “Yuk Cari Tahu Ada Apa Saja di Festival Sastra Banggai dan Kekayaan Daerahnya”

  1. Banggai memang mempesona ya mbak, nulisnya sambil merinding ngebayangin, haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: