Potret Kartini dari Sudut Pandang Berbeda

“Jangan biarkan pikiran terpenjara, Ni!”

Kartini bukan hanya memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan jelata, ia memiliki kontribusi lainnya bagi Japara yang jarang diketahui publik. Sisi lain dari Kartini yang pecinta seni juga pendobrak tradisi dikisahkan lewat film Kartini besutan Hanung Bramantyo.

Film Kartini bakal ditayangkan 19 April mendatang. Pas banget dengan libur pilkada DKI. Memang sepertinya sengaja dimajukan pas liburan karena biasanya film Indonesia tayang hari Kamis dengan istilah #KamiskeBioskop. Meskipun filmnya baru resmi diputar ke umum pada tanggal 19 April, akan tetapi sejak awal April sudah diadakan pre screnning yang mengundang berbagai komunitas, termasuk awak media dan blogger. Saya termasuk yang beruntung mendapatkan kesempatan mengikuti pre screening-nya yang bernama Movie Day with Prudential Indonesia “Kartini” di Djakarta Theatre XXI, Rabu (12/4).

Keseruan acara sudah dimulai sejak undangan melakukan registrasi kemudian menukarkan kupon makanan dan minuman. Meski acaranya baru dimulai sekitar pukul 17.00, para undangan tetap sabar menunggu sambil mengobrol. Acaranya dibuka dengan perwakilan dari Prudential. Kemudian ada kejutan yaitu kehadiran si sutradara film Kartini. Siapa lagi kalau bukan Hanung Bramantyo.

Dalam pre screening ini, Hanung bercerita jika Kartini hanya mau dipanggil namanya tanpa perlu menyebutkan gelarnya, panggil aku Kartini. Ia melakukan riset sana-sini dan kemudian berfokus pada masa Kartini menjalani pingitan hingga menikah. Ia sendiri berharap film ini juga ditonton kaum pria karena para pria dikelilingi oleh perempuan seperti  ibu dan istrinya. Dengan menonton film ini ia bisa mengetahui permasalahan yang mendera perempuan Jawa masa lalu yang ingin didobrak Kartini.

Film ini berdurasi sekitar dua jam. Film dibuka dengan adegan Kartini dewasa (Kartini) yang mlaku ndodok (jalan jongkok) menghadap ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo) dimana ia akan mendapatkan gelar ‘Raden Ayu’. Kemudian adegan pun kembali ke masa lampau dimana Kartini kecil dipisahkan dari ibu kandungnya, Ngasirah (Nova Eliza). Ngasirah adalah istri pertama, namun karena ia bukan dari kalangan bangsawan maka ayahnya kemudian menikah lagi dengan putri bangsawan dari Madura, R.A. Moeryam, agar mendapatkan ‘promosi’ sebagai bupati.  Sejak itu Ngasirah dipanggil ‘Yu’ oleh anak-anaknya dan tidur di rumah belakang sebagai asisten rumah tangga.

Ketika Kartini berusia 12 tahun maka ia pun mulai dipingit. Saat berusia 16 tahun ia mendapat sedikit kebebasan dengan hadiah buku dari kakaknya, Raden Mas Panji Sosrokartono (Reza Rahadian) yang berangkat melanjutkan pendidikan ke Belanda. Dari membaca buku itulah pengetahuannya bertambah dan wawasannya terbuka. Hidupnya pun menjadi lebih berwarna. Saat kedua adiknya, Kardinah (Ayushita) dan Roekmini (Acha Septriasa) juga menjalani masa pingitan, ketiga menjadi trio yang gemar membaca dan ingin mendobrak tradisi.

Kesempatan menjadi perempuan yang berwawasan luas semakin terbuka ketika rumah mereka kedatangan tamu pasangan suami istri Belanda Ovink-Soer. Kartini pun seolah menemukan sahabat dan kemudian banyak bertukar pikiran dengannya. Ia pun didorong untuk mulai menulis dengan menggunakan nama ayahnya dan kemudian dengan julukan ‘daun semanggi’ (Het Klaverblad) yang merujuk pada trio Kartini dan kedua adiknya. Sayangnya sikap Kartini dan adik-adiknya dianggap meresahkan para kaum ningrat Jawa lainnya, juga ibu tirinya, RA Moeryam (Djenar Maesa Ayu). Kartini pun kemudian menghadapi banyak tantangan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

‘Kartini’ Membuatku Melakukan Riset atas Sejarah dan Membaca ‘Panggil Aku Kartini’

Dialog antara Ngasirah (Christine Hakim) dan Kartini menarik. Sang Ibu mengajak dialog putrinya tentang makna aksara Jawa dan Belanda. Bagi si putri, bahasa Belanda bermakna kebebasan. Dengan menguasai bahasa Belanda, pengetahuannya bertambah luas dengan banyak membaca buku-buku bahasa Belanda. Ia juga mampu menyuarakan pikirannya lewat bahasa tersebut. Sedangkan menurut sang Ibunda, aksara Jawa mengajarkan tentang bakti.

Dari buku-buku tentang Kartini ada alasan memang mengapa Kartini menggunakan bahasa Belanda bukan bahasa Melayu ataupun aksara Jawa untuk menyuarakan pendapatnya. Ia kurang fasih berbahasa Melayu dan bahasa Belanda merupakan bahasa yang lazim dikuasai kalangan berpendidikan dan kalangan ningrat yang diharapkan membantu upayanya mengangkat derajat kaum perempuan.

Kartini Ala Hanung memang berbeda dengan film sebelumnya, R.A Kartini dan Surat Cinta untuk Kartini yang dirilis tahun 1984 dan 2016. Kartini ala Hanung memiliki karakter yang ceria dan penuh semangat. Ia dijuluki Trinil yaitu burung kecil yang susah diam dan cerewet.

Kartini yang diperankan Dian ini lebih merujuk pada novel biopik karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”. Di buku ini memang sosok Kartini lebih membumi, tidak suka akan unggah-ungguh yang umum di masyarakat Jawa dan gemar tertawa lebar.

Ada banyak hal akan sosok Kartini yang tidak banyak diketahui masyarakat umum yaitu kontribusinya kepada lingkungan sekelilingnya, yaitu Japara. Realita inilah yang membuat Kartini memang layak sebagai pahlawan nasional. Saya sendiri merasa heran kenapa ada saja pihak yang meragukan bahkan menganggap sosok Kartini kurang mumpuni sebagai pahlawan, bahkan ada yang menganggap Kartini sebagai pahlawan buatan Belanda. Sungguh pendapat yang memrihatinkan dan mirisnya yang banyak berpendapat seperti itu adalah kalangan pria, yang mungkin sulit berempati bagaimana situasi perempuan Jawa sebelum masa emansipasi.

Kartini lahir di era tanam paksa dan kemudian muncullah politik etis. Ia seorang ningrat dan sempat mencicipi pendidikan Europese Lagere School (ELS) hingga usia 12 tahun. Setelah itu ia pun dipingit dan tidak bisa melanjutkan pendidikan meskipun ia seorang ningrat. Ia melihat sekelilingnya ada ketidakadilan yang dialami perempuan seperti yang dialami ibu kandungnya. Ketidakadilan ini dialami perempuan baik kalangan ningrat maupun rakyat jelata. Banyak yang dinikahkan paksa ketika usianya masih sangat belia. Si calon suami bisa jadi bukan jejaka melainkan pria beristri satu, dua, tiga dan sang calon istri tidak bisa menolak.

Kartini bukan hanya ingin mendobrak kekangan bagi perempuan Jawa untuk mendapatkan pendidikan dan menyuarakan pendapatnya, ia juga memajukan perekonomian di daerahnya dengan memperkenalkan ukir-ukiran, seni lukisan dan batik khas Japara  ke Eropa. Ia juga seorang periset dengan menuliskan penelitiannya tentang pernikahan Koja dan sebagainya. Ia juga tidak hanya mengritisi bangsanya sendiri tapi juga sikap bangsa Belanda ke kalangan pribumi. Ya ada banyak hal yang dilakukan Kartini dan bagiku ia wanita luar biasa mengingat betapa beratnya kukungan perempuan masa itu.

Film karya Hanung ini memang indah dan berbeda. Akting dari si pemeran seperti Deddy Sutomo sebagai sang ayah, Adinia sebagai Soelastri (kakak Kartini) dan Christine Hakim patut diacungi jempol. Deddy sebagai Bupati Jepara bisa mengekspresikan kekalutan pikirannya antara menyetujui tindakan putrinya tapi juga terkukung adat, juga rasa bangganya kepada putri-putrinya. Sosok Pak Atmo juga mencuri perhatian. Djenar Maesa Ayu mengingatkan saya akan perannya di film Remember The Flavor yang juga sebagai ibu yang dingin. Sayangnya sosok Dian kurang sukses sebagai Kartini. Ia masih dibayang-bayangi oleh perannya sebagai Cinta, baik dari gerak-geriknya juga gaya berbicara dan dialeknya yang kurang njawani. Ia juga sebenarnya agak ketuaan sebagai Kartini karena usia Kartini saat dipingit hingga menikah adalah remaja 12 tahun hingga 24 tahun.

Dari segi sinematografi, gambaran Japara akhir abad ke-19 sudah pas dan juga detail. Saya suka bagaimana Kartini digambarkan seolah bercakap-cakap dengan Cecile de Jong ketika membaca karyanya tentang Hilda.

Film Kartini ini bagi saya kurang seapik Rudy Habibie dalam hal emosi, tapi saya suka pesannya dan bagi saya bisa membuka jalan untuk novel-novel Pram difilmkan karena novel Pramoedya Ananta Toer luar biasa dan melalui riset yang panjang.

Detail Film:
Judul                     : Kartini
Sutradara            : Hanung Bramantyo
Pemeran             : Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Nova Eliza, Ayushita Nugraha, Acha Septriasa, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu, Rebecca Reijman, Carmen van Rijnbach, Hans de Kraker, Dwi Sasono, Denny Sumargo
Produksi              : Legacy Pictures-Screenplay Productions
Genre                   : Biopik, drama
Rating                   : 7,8/10

gambar dari satu, dua, tiga

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 17, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: