#CatStories: Kota Sepi dan Kucing Putih

Sepi…sunyi…rasanya aku salah memilih waktu untuk menuju kota ini. Rasanya seluruh penghuninya telah tertidur. Tak ada yang kutemui sepanjang jalan. Dan rasa sunyi ini begitu menggigit.

Kuberhentikan mobilku. Aku membuka pagar dan masuk ke halaman yang luas. Tak ada yang menyambutku. Pak Deden yang selama ini kupercaya menjaga rumah tersebut, berpesan meninggalkan kunci di bawah alas kaki.

Rumah yang besar dengan halaman yang luas. Pepohonan tinggi dan rimbun membuat rumah ini seolah bukan berada di sebuah kota, seakan-akan berada di tempat antah berantah, gerbang entah kemana.

Pintu berderit ketika kubuka. Seberkas cahaya dari jendela membuat isi rumah temaram. Aku segera menyalakan lampu dan merasa lega. Akhirnya aku tiba juga ke rumah ini. Limaratus kilometer telah kulewati untuk kembali ke rumah ini. Rumah peninggalan nenek yang diwariskan kepadaku.

Setelah nenek meninggal, rumah ini tak ada yang menempati. Pak Deden yang mengurusi kebun pun didapuk untuk menjaga dan merawat rumah ini. Seminggu dua kali ia membersihkan rumah dan terkadang menempatinya.

Sudah lima tahun sejak itu dan apa yang membuatku memutuskan untuk kembali?
Aku merasa lelah dan kemudian aku tertidur di sofa.

Tidurku gelisah. Mimpiku aneh tapi berasa nyata. Seperti aku kembali ke masa silam, ketika masih kanak-kanak dan hidup nyaman bersama nenek.

Orang tuaku dua-duanya sibuk bekerja. Aku pun dititipkan ke rumah nenek. Karena begitu dekatnya aku menganggap nenek adalah ibuku. Saat akhirnya ia meninggalkanku, aku begitu terpukul.

Paman dan bibi menjauhiku. Mereka kecewa rumah itu diwariskan kepadaku. Mereka berharap rumah itu bisa dijual dan uang penjualannya bisa dibagi rata.

Dalam mimpi aku bertemu dengan nenek. Nenek tersenyum dan memelukku. Aku menangis dan nenek berkata aku akan baik-baik saja.

Lantas sesuatu menimpaku. Membuatku terpekik dan terbangun.

Ada sesuatu di perutku. Aku deg-degan. Sesuatu itu memiliki mata. Mata itu berwarna hijau menyala. Seekor kucing putih. Darimana ia masuk?

Aku lagi-lagi tertidur. Mungkin aku begitu lelah berkendara. Saat mataku terbuka, sinar matahari telah hadir. Aku menggeliat. Kucing putih itu telah pergi. Nanti biar kutanyakan ke Pak Deden, siapa pemilik kucing itu.

Rumah ini tak berubah. Sama seperti ketika nenek masih sehat. Di meja makan itu biasanya terhidang sayur bayam dan pecel tempe yang nikmat, makanan kesukaanku. Tapi meja makan itu sekarang kosong.

Setelah mandi aku merasa segar. Aku ingin menyapa para tetangga.

Aneh…kenapa rasanya kampung ini begini sepi. Rasa sepi dan sunyi sejak semalam itu masih terasa. Aku tak melihat ada tetangga, bahkan anak kecilpun terlihat di gang.

Aku menelpon Pak Deden. Tapi sinyalnya begitu buruk di kota ini. Ah sudahlah, lebih baik aku berkeliling dengan mobil.

Sepanjang gang terasa sepi. Hanya gemrisik dedaunan. Biasanya aku penyendiri, tapi entah kenapa rasa sepi ini mengusikku. Aku coba redakan rasa sepiku dengan mendengar radio. Hanya gemrisik, tidak ada saluran yang jelas.

Sepi…sepi kemana orang-orang? Bangunan itu sama seperti dahulu, yang membuat beda dulu tempat ini ramai, tapi sekarang begitu sunyi.

Aku merasa was-was. Ada perasaan tak enak.

Aku kesal karena laptop dan dompetku tertinggal di dalam rumah. Aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah nenek, baru pergi dari kota ini. Rasanya ada sesuatu yang mencekam, aku ketakutan.

Saat memasuki halaman rumah, kucing putih itu menyambutku. Kucing itu nampak akrab denganku. Aku juga nampak mengenalinya. Ia tak berontak ketika kugendong. Sambil kuelus-elus, kuperhatikan tubuhnya. Ada cacat di telinganya.

Aku kaget bukan kepalang.

Itu si Putih. Mirip si Putih, kucingku saat ku kecil.

Aku lempar kucing itu. Kucing itu memandangku dengan tatapan tanda tanya.

Ah pastilah aku salah. Tanda itu bisa dimiliki kucing siapa saja.

Pintu rumah terbuka. Aku berlari, pasti Pak Deden.

“Ah Kamu sudah tiba Dena. Si Putih terus menunggumu. Yuk makan siang bersama Nenek. Ada sayur bayam dan pecel tempe kesukaanmu…”

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 5, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: