Strategi Koperasi Era Digital Merebut Hati Kaum Milenial

Koperasi bagi generasi milenial mungkin bukan hal yang seksi. Padahal, koperasi masih eksis dan banyak produknya yang masih diminati baik oleh pangsa pasar dalam negeri maupun luar negeri. Namun, pada era digital ini koperasi memiliki sejumlah tantangan agar produknya dapat terus bersaing di era kekinian ini.

Koperasi di Indonesia mencapai puncak kejayaannya pada era 80-an hingga pertengahan tahun 90-an. Saya masih ingat saat itu ada beberapa koperasi yang ada di lingkungan sekeliling rumah dan lumayan maju. Ada koperasi simpan pinjam, koperasi yang menjual berbagai barang kebutuhan pokok, koperasi yang menjual susu segar dan produk turunannya, juga koperasi sekolah. Ya, masa itu anak sekolah diperkenalkan dengan koperasi dan langsung praktik. Alhasil masa sekolah dari SD hingga kuliah saya merasa kenal dan dekat dengan koperasi.

Lain dulu dan lain sekarang. Jika dulu koperasi dianggap sebagai badan usaha alternatif yang bisa memajukan anggotanya dan memberikan kontribusi ke masyarakat sekelilingnya, maka keberadaan koperasi saat ini seolah-olah antara ada dan tiada. Ada koperasi yang bagus dan maju, tapi banyak pula yang usahanya tidak berjalan dan tidak pernah melakukan rapat anggota tahunan untuk membahas kinerja dan membagikan SHU (sisa hasil usaha). Pegawai koperasi juga kualitasnya menurun dan rekrutmennya sebagian di antaranya terkesan serampangan. Pekerjaan sebagai pegawai koperasi dianggap tidak sewow pegawai bank, dosen, dan sebagainya.

Meskipun jumlah koperasi yang maju belum signifikan saat ini namun sebenarnya usaha koperasi ini mulai beragam dan tidak hanya terpaku pada usaha simpan pinjam dan koperasi penyedia bahan kebutuhan pokok. Ada beragam sektor yang tumbuh, di antaranya adalah sektor wisata dan kerajinan daerah.

Kawasan Gua Pindul dikelola oleh koperasi warga sekitar dan sukses

Untuk sektor wisata memang bisnis ini menjanjikan. Untuk tahun 2016, jumlah wisatawan dalam negeri dan luar negeri mencapai 260 juta dan 12 juta. Sebuah bisnis yang legit.

Koperasi yang bergerak di bidang usaha pariwisata umumnya menciptakan desa wisata. Desa wisata tersebut di antaranya ada desa wisata di Kampung Mempura di Riau, Candi Borobudur di Magelang, Danau Lut Tawar di Aceh Tengah,  Samosir di Sumatera Utara, Desa Sesaot dan Desa Banyumulek di NTB serta Taman Laut 17 Pulau, Kabupaten Ngada, dan Pulau Komodo di Manggarai Barat NTT.

Kampung Rawa merupakan salah satu usaha yang dikelola warga sekitar

Merambah berbagai sektor yang kiranya diperlukan amatlah penting oleh karena peluangnya besar, seperti usaha makanan dan konveksi juga sektor jasa. Yang masih potensial adalah bisnis oleh-oleh khas suatu daerah yang peningkatannya pesat seiring dengan semakin moncernya bisnis di bidang wisata. Ketika saya berkunjung ke Lampung, Yogyakarta, ataupun Cirebon, toko oleh-olehnya semakin ramai oleh wisatawan, baik oleh-oleh berupa makanan minuman, maupun kerajinan suatu daerah.

Telur asin ini merupakan peluang di daerah Brebes dan penjualannya sebenarnya bisa diperluas ke berbagai daerah.

Suatu usaha yang dikelola koperasi, baik berupa makanan, kerajinan daerah, ataupun jasa, dari segi kualitas tentunya juga harus diperhatikan. Saat ini netizen suka memberikan kritik atau pujian lewat media sosial terkait produk atau pengalaman yang ia rasakan saat menggunakan jasa. Ada kalanya suatu nila setitik bisa rusak susu sebelangga, suatu kali ada kualitas produk atau jasa yang tak sesuai maka koperasi itu jadi bahan omongan dan pamornya kemudian tenggelam.

Media sosial memang menjadi salah satu andalan masa kini untuk merebut hati kaum milenial. Oleh karenanya koperasi juga seyogyanya memaksimalkan media sosial untuk mempromosikan produk dan jasanya. Bakal sulit berkompetisi jika sebuah koperasi tidak memiliki website dan akun media sosial seperti di twitter dan instagram. Dengan media sosial itu pangsa pasarnya juga akan makin meluas, tidak sebatas di kotanya atau di Indonesia, bisa juga dilirik konsumen dari luar negeri.

Pada saat membuat akun instagram, bisa dikisahkan berbagai hal selain memajang foto produk. Bisa diceritakan bagaimana proses pembuatan agar konsumen dan koperasi semakin dekat dan terjalin hubungan keakraban. Ujung-ujungnya adalah menjalin hubungan agar konsumen loyal.

Saat tahu proses pembuatan, si netizen bisa makin jatuh hati pada sebuah produk

Dari segi SDM juga patut diperhatikan jika ingin mampu berkompetisi dan terus menciptakan ide-ide segar. Koperasi bukan hanya milik generasi tua. Generasi milenial juga patut dirangkul sehingga ada kombinasi pegawai senior yang berpengalaman dan pegawai milenial yang kaya pemikiran baru. Hal ini dikarenakan saat ini pangsa pasar terbesar belanja via online adalah generasi milenial sedangkan yang konsisten dengan kualitas barang dan paham akan sistem koperasi adalah para karyawan senior seperti generasi X.

Ada banyak tantangan koperasi di era digital. Tapi juga banyak peluang yang bisa diraih. Dengan berani mengeksplorasi dan terus berkreasi serta memaksimalkan media yang ada, saya yakin koperasi akan semakin eksis dan dicintai oleh berbagai generasi, termasuk generasi milenial di berbagai negara yang melek digital.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 10, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: