Belajar Asyik di Era Digital dengan Akses Internet Cepat

Rumah orang tua di Malang sudah mulai sepi. Tetangga, kenalan, dan para saudara sudah berkunjung ke rumah. Keluarga kakak dan para keponakan asyik bermacet ria menuju kawasan wisata Batu. Sementara aku menjaga rumah, sambil menunggu pasangan mendapat ide akan beraktivitas kemana hari tersebut. Seraya menunggu, aku membuka aplikasi e-learning, mengunduh materi dan membacanya, sambil menjawab kuis minggu tersebut.

Kata orang-orang aku maniak belajar. Hehehe entah pendapat itu benar atau tidak, tapi aku memang suka mempelajari sesuatu yang baru, baik sesuai latar keilmuanku, ataupun dari berbagai ilmu lainnya. Mungkin kegemaranku belajar terkait dengan hobiku membaca. Aku gemar membaca. dulu saat masih kecil rasanya kekurangan bacaan, sehingga membaca apa saja, sehingga buku-buku berat seputar astronomi dan novel-novel Old Shatterhand yang tebal dan tak bergambar kulahap saat masih kelas empat SD.

Saat ini rasanya aku tidak kekurangan bahan bacaan. Ada banyak hal yang bisa kubaca dari dunia maya, asalkan punya kuota internet. Ketika ingin fokus mempelajari sesuatu dengan sistem seperti belajar mengajar di kelas, aku juga bisa mengikuti berbagai kursus online atau Massive Open Online Courses (MOOC), baik yang menggunakan bahasa pengantar Inggris ataupun berbahasa Indonesia. Ya, aku bisa belajar dan menambah wawasanku darimana saja, baik di rumah, maupun ketika menikmati liburan di luar kota.

Dunia pendidikan memang sangat terbantu dengan kehadiran internet. Dulu jika ingin belajar hal-hal yang berbeda dengan disiplin ilmu yang diambil rasanya sulit. Bisa-bisa harus daftar UMPTN lagi untuk mengambil jurusan yang berbeda. Padahal yang ingin dipelajari mungkin hanya beberapa subyek, bukan seluruh mata kuliah yang ditawarkan jurusan tersebut. Dulu ingin mencicipi bagaimana rasanya belajar di luar negeri rasanya hanya di awang-awang, tapi sekarang siapapun bisa merasakan pengalaman belajar di universitas bergengsi dari berbagai negara.

Ada berbagai kursus online seperti Coursera, HarukaEdu, Stanford Unline, Indonesia X dan sebagainya yang menawarkan berbagai materi menarik dari dosen-dosen kampus terkenal dan pengajar berkualitas. Aku mengikuti kursus online ini sekitar tahun 2012 dan hingga sekarang masih mencanduinya. Materi yang unik dan berkesan di antaranya materi tentang dongeng dan bagaimana menjadi imajinatif, ada juga materi tentang superhero, sejarah film dan musik dunia, dan tentang genetik leluhur nusantara.

Belajar tentang keragaman di Indonesia via Indonesia X

Berbagai universitas berkualitas di tanah air juga menggunakan internet untuk membantu sistem belajar-mengajar. Semua materi kuliah, diskusi, juga berbagai tugas bisa disimak dengan jaringan internet, sehingga di kelas bisa fokus memperhatikan penjelasan dosen. Bahkan kadang-kadang ada juga dosen yang mengadakan kuis secara online, sehingga hari itu mahasiswa bisa belajar dan mengerjakan kuis itu di rumah, tidak perlu kuatir terlambat kuliah sehingga gagal mengikuti kuis.

Ada banyak hal dari aktivitas belajar yang dimudahkan dengan bantuan internet. Jikapun aku ingin menambah pengetahuan lewat membaca buku, aku tinggal membuka aplikasi mobile iJakarta dan meminjam buku di perpustakaan online tersebut. Jika ingin menambah ilmu lewat tutorial video aku tinggal mencari di youtube atau di TED Talks. Belajar menjadi sesuatu yang mengasyikkan dan lebih mudah. Dengan bantuan internet dan sistem belajar online ini maka pengetahuan juga akan tersebar, yang pintar bukan hanya kalangan masyarakat perkotaan, tapi juga di kawasan pelosok dan daerah perbatasan.

Jika ingin menambah pengetahuan via membaca ada perpustakaan online seperti iJakarta

Menambah ilmu tentang upgrade diri via iJakarta

Seperti yang dilansir di instagram @official_IGD, berdasarkan hasil survei yang dilakukan APJII pada tahun 2016 ada 124,4 juta netizen Indonesia (93,8%) yang mengakses materi pendidikan alias nomor empat setelah media sosial, hiburan dan berita. Mereka mengaksesnya terbanyak via smartphone (67,8%), baru kemudian komputer PC dan laptop yaitu masing-masing 14,7% dan 12,6%. Penggunaan smartphone terkait dengan mobilitas, sedangkan PC dan laptop dipilih karena kenyamanan membaca.

Konten yang diakses netizen (dok @official_igd)

Perangkat yang dipakai netizen (dok @official_igd)

Meskipun demikian aku juga pernah mengalami berbagai kendala dengan sistem belajar lewat dunia maya. Kalian benar, kaitannya dengan kuota dan kecepatan akses. Saat asyik belajar dengan menggunakan tutorial video, eh kuota menipis atau terkadang tersendat-sendat. Kecepatan akses yang tidak stabil ini seringkali membuat mood jadi buruk, apalagi ketika mengikuti kuis dan ujian online. Saya pernah mengalami ujian akhir di sebuah kursus online berakhir buruk karena kecepatan akses internet saat itu parah, alias loading-nya begitu lambat. Waktu berlalu, sehingga jatah satu jam pengerjaan pun lenyap. Akhirnya mengulang deh, padahal sudah mengikuti kursusnya berbulan-bulan dan hanya gagal di ujian akhir. Apes banget.

Tinggal di lingkungan pintar di Cyberhome (dok. Cyberhome)

Ketika mendengar ada perumahan di Bogor yang menyebut dirinya Cyberhome, aku pun tertarik. Wah asyik juga ya tinggal di perumahan yang memiliki fasilitas internet dengan kecepatan 100Mbps hingga 10Gbps per detik secara simetris, dimana kecepatan unggah dan unduh filenya merata, sama-sama cepat. Wah dengan kecepatan akses tersebut aku bisa nonton video tutorial atau melakukan diskusi online secara teleconference tanpa rasa was-was tiba-tiba terputus atau tersendat-sendat. Aku juga bisa mengunduh materi kursus baik teks maupun video, juga mengikuti kuis dan ujian online tanpa kuatir tiba-tiba akses lambat dan waktu pengerjaannya habis. Belajar di rumah tentu bakal lebih menyenangkan. Setiap hari penghuninya akan bisa belajar 1-2 jam di rumah untuk meng-upgrade ilmu dan wawasannya. Oh ya Cyberhome ini berlokasi di Jl Cyberpark Residence, Mulyaharja, Bogor dengan latar Gunung Salak dan enampuluh persen kawasan hijau terbuka sehingga asri. Ada dua tipe rumah dengan nama unik, berasa internet banget, Homepage dan Bandwith.

Tipe rumah Cyberhome (dok. Cyberhome)

Wah kapan ya bisa tinggal di perumahan seperti Cyberhome. Kubayangkan di sana ada komunitas yang dibentuk penghuninya dimana sama-sama suka belajar dan kemudian memberanikan diri juga menjadi pengajar. Wah seru tuh!

gambar cover milik 123rf

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 5, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: