Pelangi dan Hadiah Peri

Peri cantik baik hati apakah Kau akan mengabulkan keinginanku? Si Peri dengan baju biru dan sayap perak di punggungnya mengangguk dan tersenyum manis. Apa yang Kau inginkan, Putri? Mataku berbinar. Aku ingin mencicipi hidup di negeri pelangi sebentar saja. Ia pun memintaku memejamkan mata.

Aku memejamkan mata dengan berdebar-debar. Negeri apa yang akan menantiku ketika mataku kubuka.

Si Peri berkata aku bisa membuka mataku. Ia berpamitan kepadaku seraya berkata waktuku satu jam saja.

Aku membuka mataku perlahan. Dalam hatiku sarat emosi, aku merasa was-was juga rasa penasaran.

Aha, kubuka satu mataku. Ada kilauan warna-warni indah menyambutku. Ooh apakah inikah negeri pelangi yang termasyhur itu?

Warna-warni indah itu menyapaku sesaat. Lantas lenyap. Aku merasa kecewa.

Ternyata aku berada di sebuah kota kecil. Kota ini tak begitu berbeda dengan kota tempat tinggalku. Ada lapangan yang penuh dengan manusia. Ada yang berjualan, bermain, dan sebagainya. Sepertinya itu pusat atraksi mereka hari ini. Aku pun menuju ke sana.

Di sana aku memang melihat pelangi. Bukan..bukan pelangi yang terbentuk saat hujan, melainkan pelangi manusia. Ada yang berkulit kuning, sawo matang, dan juga kelam. Wajah dan rambut mereka beragam, pakaian mereka juga tak ada yang sama persis. Mereka berbaur dan bercanda. Begitu harmonis.

Sebenarnya bukan seperti ini kota yang kubayangkan sebagai kota pelangi. Tapi aku senang di dalamnya. Aku seperti merasakan kesejukan dan kedamaian melihat harmonisasi itu. Aku bisa ikut terlarut dalam tawa mereka. Aku merasa kaya.

Aku berkeliling, menjauh dari lapangan itu. Tak jauh dari lapangan yang disebut alun-alun itu ada gereja, juga ada masjid, klenteng, pura, dan wihara. Tempat ibadah itu berdekatan dan sama-sama menebarkan keagungan, ketenangan, dan kedamaian. Ah inikah pelangi itu.

Lantas tubuhku seperti melayang. Terus melayang. Dari posisiku saat ini manusia dan bangunan itu semakin mengecil. Dari posisiku aku melihat keragaman itu menjadi warna-warni yang indah.

Si Peri kemudian hadir kembali. Ia menggandeng tanganku. Berdua kami terbang menikmati panorama pelangi dari atas kota tersebut. Aku tahu waktuku kembali akan segera tiba. Aku merasa puas, bisa merasakan tinggal di kota pelangi.

Ilustrasi: Maia Parisha Putri

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 23, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: