Bekerja Bersama untuk #UbahJakarta Lebih Baik Bersama MRT Jakarta

Hari itu aku mendapat undangan sebuah acara di kawasan Jakarta Barat. Ketika tidur aku gelisah karena aku kuatir terlambat tiba di tujuan. Sambil memejamkan mata aku berpikir transportasi umum apa yang bakal kutumpangi, commuter line, bus atau ojek daring untuk menembus kemacetan Jakarta dan tiba di lokasi tepat waktu.

Jakarta tak lepas dari kemacetan. Sejak dua tahun terakhir kemacetan makin menjadi-jadi. Ada banyak faktor penyebab kemacetan, dari semakin banyaknya pengguna kendaraan pribadi, cara berkendara yang tidak tertib lalu lintas, masih enggannya masyarakat berpindah ke transportasi umum, juga banyaknya pembangunan. Untuk pembangunan jalur MRT aku tidak masalah karena toh ke depannya akan sangat bermanfaat bagi warga Jakarta dan sekitarnya.

Akhirnya hari itu aku memutuskan naik ojek daring hingga perempatan pasar rebo dilanjutkan baik bus patas ke arah Grogol. Awalnya aku berpikir keras menimbang-nimbang apakah naik bus patas atau commuter line. Bus patas akan melewati jalur macet di sekitar Cawang hingga Gatot Subroto, namun tiba dekat lokasi. Sedangkan commuter line bebas macet karena punya jalur sendiri tapi setelah tiba di Tanah Abang aku masih harus pusing memikirkan transportasi umum ke lokasi. Mengapa tidak naik bus TransJakarta? Wah aku ragu naik TJ jam-jam segitu melewati kawasan Cawang hingga Slipi. Selain bus yang penuh sesak, terkadang bus berhenti sekian lama melewati daerah Pancoran yang sedang mengalami pembangunan untuk jalur MRT.

Selama tinggal di Jakarta sejak 11 tahun silam aku sudah akrab dengan transportasi umum. Kemana-mana aku terbiasa naik Kopaja, Metro Mini, TransJakarta, Bus Patas, mikrolet, dan commuter line. Jika terburu-buru atau sedang begitu lelah baru aku naik taksi, bajai, ataupun ojek.

Ketika sudah punya kendaraan pribadi aku tetap lebih sering menggunakan transportasi umum. Ya selain beda tujuan dengan pasangan, dengan naik transportasi umum aku tidak pusing dengan urusan parkir atau emosi gara-gara melihat keruwetan lalu lintas. Saat duduk di bangku penumpang di mikrolet atau bus, aku melewatkan waktu dengan membaca atau mendengarkan musik, atau terkadang mengobrol dengan sesama penumpang.

Memang tidak selamanya naik transportasi umum itu nyaman, aman dan dapat diandalkan. Aku paling benci jika sopir mikrolet atau bus itu merokok. Aku pernah mengalami diturunkan gara-gara protes si sopir merokok. Ada juga pengamen atau peminta-minta yang mengintimidasi penumpang, entah dimana polisi kok mereka masih dibiarkan. Hal lainnya yang sering kujumpai di transportasi umum yaitu penumpang dioper, berdesak-desakan, tidak ada kejelasan kapan datang dan berangkatnya hingga kecopetan. Wah rasanya aku mengalami hampir semuanya. Bahkan aku juga pernah ketinggalan pesawat meskipun sudah mengalokasikan waktu empat jam untuk perjalanan yang biasanya ditempuh 1,5-2 jam.

Meski demikian aku tidak kapok naik transportasi umum. Ya bagaimana lagi? Jika ada uang berlebih aku bisa naik ojek atau taksi daring. Tapi jika duit tipis ya terpaksa rela berdesak-desakan di kereta, naik mikrolet yang ngetem hampir sejam, atau berdiri hingga kaku di bus TransJakarta. Transportasi umum di Jakarta memang belum sepenuhnya nyaman, aman, dan dapat diandalkan. Oleh karenanya aku juga paham mengapa masih banyak pengguna kendaraan pribadi yang enggan beralih ke transportasi umum. Mungkin jika Jakarta sudah punya mass rapid transportation (MRT) atau angkutan cepat terpadu maka mereka bakal mau beralih ke transportasi umum.

MRT Jakarta Harapan yang Terlambat Direalisasikan
Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga termasuk yang terlambat dalam tata transportasi. Singapura telah membangun MRT sejak tahun 1987 dimana transportasi ini menjadi primadona. Selain MRT, warga Singapura juga memiliki bus kota yang nyaman. Malaysia, Philipina, Thailand, dan Vietnam juga memiliki tata transportasi yang lebih baik. Alhasil ketika berlibur ke negara-negara tersebut dan kemudian kembali ke Jakarta rasanya begitu penat melihat kemacetan dan keruwetan lalu lintas.

Aku heran kenapa tidak sejak dari dulu pemerintah membuat transportasi massal. Apalagi pertumbuhan penduduk di Jabodetabek sangatlah pesat. Dana APBD DKI begitu besar. Seandainya tidak cukup juga bisa bekerja sama dengan pemerintah pusat karena Jakarta adalah ibu kota dan cerminan wajah Indonesia. Sumber dana juga bisa dari investor.

Saat ini memang sudah ada commuter line dan Trans Jakarta. Namun dua mode transportasi itu belum memadai.Coba perhatikan ketika jam berangkat dan pulang kerja. Mode transportasi tersebut sudah penuh sesak. Itu membuktikan bahwa masyarakat sudah ada kesadaran untuk beralih ke transportasi umum tapi jumlah kendaraannya belum memadai.

CL atau KRL menurutku transportasi umum yang paling dapat diandalkan saat ini (dokpri)

Jumlah penduduk Jabodetabek memang sangat berlimpah sehingga jalanan tetap saja padat meskipun sudah banyak yang beralih ke transportasi umum. Apalagi uang muka dan angsuran kendaraan begitu rendah sehingga siapapun bisa memiliki motor. Mobil murah pun memenuhi pasar dan tetap laris manis.

Rasanya sulit mewujudkan Jakarta bebas macet dan Jakarta ke arah yang lebih baik jika hanya masyarakat yang terus dituntut untuk beralih ke transportasi umum. Dinas perhubungan juga perlu memikirkan jumlah armada dan bagaimana transportasi umum agar terintegrasi. Jika masih sulit menciptakan transportasi umum terintegrasi maka bisa menambah spot park and ride, sehingga masyarakat bisa melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum.

Para pegawai pemerintah termasuk para pejabat daerah juga perlu memberikan contoh kepada publik dengan menggunakan transportasi umum. Sebaiknya juga ada aturan di Jabodetabek agar tidak mudah memberikan kredit kendaraan, jangan hanga menaikkan pajak dan parkir kendaraan. Jika pun ada daerah yang steril bagi motor sebaiknya juga berlaku bagi pemilik roda empat agar tidak terjadi diskriminasi. Namun sebelum melakukan pelarangan kendaraan pribadi sebaiknya pemerintah daerah juga telah menyiapkan transportasi umum yang memadai. Jika masyarakat yang biasa naik motor kemudian dipaksa naik kendaraan umum dimana jumlah kendaraannya terbatas maka itu bukanlah solusi yang tepat.

Para pengguna roda dua yang sering jadi sasaran agar mau beralih ke transportasi umum. Bagaimana dengan pemilik roda empat? (dokpri)

Kehadiran MRT di Jakarta memang terlambat, tapi apa boleh buat lebih baik terlambat daripada jalanan Jakarta semakin tidak manusiawi. MRT Jakarta ini sebenarnya sudah digagas sejak lama tapi terus tertunda karena masalah pembebasan lahan, dana dan sebagainya. Oleh karenanya ketika akhirnya proyek ini berjalan aku bersyukur semoga berjalan lancar.

MRT Jakarta akan terbagi menjadi beberapa fase. Fase pertama jalur Utara-Selatan adalah Lebak Bulus-Bundaran HI dan Bundaran HI-Kampung Bandan dan berikutnya dari Jakarta Barat ke Jakarta Timur. Kalau melihat rutenya agak overlap dengan TransJakarta dan commuter line. Tapi memang rute-rute tersebut adalah rute-rute yang sehari-harinya begiti padat sehingga diharapkan dapat mengurai kemacetan. Total rute MRT Jakarta nantinya adalah sepanjang 110, 8 kilometer.

Stasiun MRT Jakarta bawah tanah yang hampir rampung (dok. Detikfinance)

Saat ini proyek MRT telah selesai 76 persen sehingga diharapkan pada dua tahun mendatang MRT sudah bisa digunakan oleh masyarakat umum. Proyek MRT Jakarta yang hampir jadi itu adalah rute Lebak Bulus-Bundaran HI yang memiliki 13 stasiun, terdiri dari stasiun layang dan stasiun bawah tanah.

Wah pasti lebih enak jika kemana-mana cepat dan aman. Sebenarnya sih tidak masalah jika tidak dapat tempat duduk, asal cepat sampai, dapat diandalkan, dan aman. Oh ya satu lagi yaitu ramah di kantong.

Yuk bekerja bersama untuk #UbahJakarta agar lebih baik. Salah satunya dengan mendukung program pemerintah untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Jika jalanan lebih lancar maka hidup akan bahagia karena bebas marah-marah:)

Dengan MRT Jakarta maka increasing mobility, improving live quality.

Peninjauan perkembangan pembangunan MRT Jakarta (dok.JakartaMRT)

Ket: gambar cover: Okezone

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 31, 2017.

2 Tanggapan to “Bekerja Bersama untuk #UbahJakarta Lebih Baik Bersama MRT Jakarta”

  1. Semoga MRT segera selesai dan benar2 bermanfaat untuk memecah kemacetan jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: