In a Heartbeat, Benarkah Animasi yang Mempromosikan LGBT?

Beberapa waktu lalu film animasi In a Heartbeat viral dan ramai jadi bahan omongan karena kontennya yang kontroversial. Animasi pendek berdurasi sekitar empat menitan ini konon mempromosikan LGBT, khususnya hubungan sesama remaja pria. Benarkah?

Sesuai judulnya Heartbeat diterjemahkan sebagai detak jantung, sedangkan In a Heartbeat bisa dimaknakan dalam sekejab. Animasi yang kisahnya ditulis dan disutradarai oleh Beth David dan Esteban Bravo ini dirilis di youtube pada 31 Juli 2017 dan sampai sekarang telah ditonton oleh sekitar 28 juta pasang mata. Berikut sinopsis animasi tersebut

Pada animasi ini diceritakan ada sesosok remaja pria pemalu. Dadanya berdebar-debar ketika melihat sosok pujaannya lewat di dekatnya. Bukan seorang remaja perempuan yang cantik, melainkan remaja yang sama jenis kelaminya. Ia sosok pemuda yang cool dan gemar mambaca. Ia bersembunyi di pohon dan mengintipnya. Ia tak berani untuk berkenalan.
Degup jantungnya semakin keras, hatinya pun mendesak dan keluar dari tubuh si pria pemalu itu, berupaya berbagai cara agar si pria pemalu berani berkenalan. Ia menciptakan berbagai peluang dan momen, namun si pria pemalu berusaha menghindar dari perasaannya, hingga kemudian si hati menciptakan momen agar keduanya berpegangan tangan. Waktu melihat keduanya berpegangan tangan maka mereka pu mendapat perhatian sinis dan gunjingan dari kawan-kawan lainnya. Mereka memandangnya dengan penuh sikap menghakimi. Si pria pemalu berupaya merebut kembali hatinya dan hati tersebut pecah menjadi dua.

Si pria pemalu nampak sedih. Ia memegang hatinya yang tinggal separuh dengan wajah kuyu. Si pria yang cool merasa kasihan. Ia pun menemui si pria pemalu yang bersembunyi di bawah pohon, mengembalikan kepingan hatinya yang lain. Mereka pun duduk berdekatan dan kemudian nampak akrab.

Begitu selesai menonton animasi pendek ini, memang sah-sah saja jika banyak yang kontra karena film ini jelas menunjukkan si pria pemalu jatuh cinta ke sesama jenis. Sedangkan sikap pria yang cool agak ambigu, bisa jadi karena ia kasihan dan ingin menjadi kawannya, tapi juga bisa saling menyukai.

Saya sendiri bukan pendukung LGBT meskipun juga tidak bisa memusuhi mereka karena ada dua kawan saya yang telah berubah orientasinya. Saya sendiri awalnya juga sedih dan kecewa, tapi mereka sudah dewasa sehingga saya menganggap hal tersebut sudah merupakan pilihan hidup mereka. Toh kedua orang tua mereka juga sudah pasrah dan menerimanya.

Melalui artikel ini saya mengingatkan saja agar animasi ini tidak ditonton oleh anak-anak, cukuplah ditonton oleh mereka yang dewasa. Film animasi yang diproduksi Ringling College of Art and Design dan musiknya digubah oleh Arturo Cardelús ini mungkin di negara Eropa dan Amerika merupakan hal yang umum dan sesuai realita, tapi di Indonesia, hal-hal semacam ini masih sangat kontroversial.

gambar dari IMDB

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 10, 2017.

6 Tanggapan to “In a Heartbeat, Benarkah Animasi yang Mempromosikan LGBT?”

  1. sama menurut saya LGBT itu pilihan hidup mba

  2. Berasa aneh banget ngga sih nonton film ini itu hehe 😁
    Anyway liat foto tokoh animasinya, kok jadi inget animasi Jimmy Neutron, hampir sama artnya hehe.

  3. Saya agak miris melihatnya sih mbak, menurut saya LGBT itu bukan hanya karena pilihan hidup, tapi mereka juga korban ketidak tahuan bahwa manusia itu diciptakan berpasangan dengan lawan jenisnya dan itu salah satu esensi kehidupan. Hal yang paling simple dampak dari LGBT adalah terjangkitnya penyakit kelamin menular di alami oleh pelaku homoseksual. Di dalam ber-sosial maupun kesehatan juga terdapat dampak buruknya (mungkin tidak ada manfaatnya sama sekali), jadi kenapa kita harus merelakan kesakitan demi kesukaan kita, karena menurut saya yang baik bagi diri kita tidak sepenuhnya disukai oleh diri kita sendiri. Maaf mbak, hehe saya agak kontra, LGBT memang pilihan hidup, tetapi pilihan yang tidak ada manfaatnya (seperti kita menyakiti sendiri).

    • Gpp Rizky jika merasa kontra. Aku pernah datang ke sebuah peluncuran buku tentang kaum LGBT 11 tahun silam, di situ disebutkan salah satu faktor mereka berbeda orientasinya karena ada kelainan di genetika mereka, mungkin seperti pria terkukung di tubuh wanita dan sebaliknya. Tapi kalau saat ini aku melihatnya selain faktor genetika tadi yaitu ada faktor gaya hidup, seperti ditularkan. Entahlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: