Membaca Brida

Sejak The Alchemist, aku jadi sering membaca buku-buku karya Paulo Coelho. Menurutku karya-karya penulis Brazil ini unik. Ia memadukan sebuah kisah perjalanan spiritual dan fiksi. Tidak semuanya mudah dipahami, seperti juga ketika membaca Brida.

Dalam berbagai bukunya, Paulo mengambil kebijakan dan tradisi dari berbagai agama dan juga tradisi spiritualitas yang biasa dilakukan kaum bijaksana secara turun-temurun. Pada Brida ia mengambil konsep jalan bulan dan jalan matahari, seperti tradisi kaum wicca yang ingin mendekatkan diri pada alam.

Adalah Brida, gadis muda, yang tertarik dengan hal-hal tentang simbol dan hal-hal berbau sihir. Ia suka mempelajarinya dan suatu saat ia memutuskan untuk belajar serius sebagai penyihir dengan berkunjung ke Magus di sebuah hutan. Di sana ia hanya diminta untuk menyaksikan semesta dalam hutan yang gelap. Ia merasa takut tapi juga masih dilingkupi penasaran.

Selanjutnya ia bertemu guru lainnya yang memberinya ajaran bulan. Ia memintanya melakukan berbagai tradisi dan mengajarkannya berbagai kebijakan. Brida lagi-lagi merasa takut tapi juga dilanda rasa ingin tahu. Menurut Wicca, gurunya, ia perlu menemukan pasangan jiwanya untuk melancarkan perjalanannya di dunia.

Ia belajar tentang kekuatan kata-kata. Kata-kata adalah energi dan bisa berwujud. Oleh karenanya Brida sejak itu menjaga kata-katanya agar tak melukai orang lain dan juga berbalik ke dirinya. “Kata-kata adalah pemikiran yang bertransformasi menjadi getaran”, ujar Wicca kepada Brida.

Ia juga diberi tahu jika pakaian juga memberikan energi ke pemakainya tapi juga ada yang menenggelamkannya karena pakaian itu tidak dicipta olehnya. Untuk mengetahuinya Brida diminta untuk mencoba seluruh pakaiannya di lemari. Memang ada beberapa pakaian yang malah menyebabkan keburukan ke pemakainya, tidak nyaman dan sebagainya.

Rupanya setelah melakukan tradisi, Brida mampu melakukan perjalanan ke masa lalu. Ia juga mendengar suara yang memperingatkannya. Hal-hal yang tak logis pun terjadi. Brida ragu untuk meneruskan jalannya tersebut, mencari pasangan jiwa, atau kembali ke kehidupan normalnya.

Cerita dalam buku ini agak susah dimengerti. Tapi masih lebih enak dibaca dibandingkan Ziarah yang lebih kompleks. Karena aku sudah pernah membaca aliran Wicca yang sering dituduh penyihir dan pengikutnya pernah dibunuh secara massal, maka aku agak familiar dengan berbagai tradisinya. Tapi banyak pula yang baru kuketahui dari buku ini. Penyihir bukan berarti memantrai seseorang dan sebagainya, penyihir di sini juga bisa dimaknai mampu membaca tanda alam dan hidup selaras dengan alam.

Gambar dari perpus online iJakarta

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 28, 2017.

4 Tanggapan to “Membaca Brida”

  1. sudah baca piedra. tapi gak se-easy alchemist. brida belum sama sekali

  2. Gue baca sinopsisnya yang cuman segono aja puyeng. Apalagi atu buku… [=_=]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: