Hadiah Seekor Kucing

Waktu itu aku masih tinggal di rumah petak. Rumah yang kusewa dengan rumah yang disewa tetanggaku posisinya berdampingan, tidak ada sekat taman atau lainnya. Aku tinggal seorang diri dan merasa kesepian saat itu, apalagi tetanggaku banyak yang telah berumah tangga.

Ketika asyik mengetik mengerjakan tugasku sebagai seorang penulis misteri, pintu depan diketuk. Aku mengira yang diketuk adalah milik tetanggaku, ternyata benar-benar di rumahku. Aku pun berteriak,”Sebentar!” Lalu cepat-cepat mengambil jaket karena kausku sudah sangat lusuh. Waktu kubuka tidak ada siapapun. Tidak ada manusia di balik pintu. Namun, ada kantung belanjaan seperti goodie bag di terasku. Ada tulisan di luar tas itu, hadiah buatku. Aku mengangkatnya. Terasa berat dan seperti bergerak-gerak. Aku buka tas karton tersebut, isinya adalah seekor kucing. Seekor kucing yang matanya nampak cerdas dan lucu. Aku terpana. Hadiah kucing. Darimanakah?

Kucing itu bukan kucing mungil, mungkin usianya sudah setahun. Ia kucing jantan. Warnanya kuning kecokelatan. Ia nampak tenang dalam wadah tersebut. Ketika kucoba kuangkat badannya, ia malah melompat. Pintu depanku masih terbuka, mungkin ia bakal kabur.

Ternyata tidak.

Ia malah asyik melihat rak bukuku di ruang depan. Wah nampaknya ia memang kucing cerdas. Pendapatku lagi-lagi salah. Ia bukannya asyik membaca judul buku atau terpesona melihat koleksi bukuku. Dia berbuat nakal. Ia mencakari bukuku dan nampak menikmati kegiatannya. Aku pun kesal dan mengejarnya. Eh ia malah lari zig zag.

Aku hampir menangkapnya. Ia kembali melompat seperti kelinci. Kali ini ia bersembunyi di dalam kardus mie yang sedang kosong dan terbuka. Ia asyik mencakari kardus itu. Aku merasa gemas, ingin menjewer kupingnya.

Kali ini aku lebih sigap. Kuangkat badannya dari tengkuknya. Ia pun pasrah. Aku ingin menjewer kupingnya, tapi tak tega melihat matanya. Mata yang memikatku sejak awal. Aku hampir menurunkan badannya, eh kaki depan kanannya menyentuh hidungku. Dasar kucing tambeng.

Tapi kucing baru itu nampaknya mulai lelah dan lapar. Ia mengitariku minta makan. Aku pun trenyuh dan memberinya kepala ikan tongkol, sisa makananku. Ia nampak menikmatinya. Aku pun jadi ikut lapar lagi. Aku menyantap sayur lodeh pedas dan ikan tongkol. Kutambahkan ikan tongkolku buat si kucing tersebut. Ekornya bergerak riang.

Setelah mencuci piring, aku mencari kucing tersebut. Tidak ada di ruang kerjaku dan di ruang depan. Pintu depan masih terbuka, mungkin ia sudah pergi. Syukurlah. Kucing itu rupanya hanya bertamu.

Aku pun ingin mengistirahatkan mataku sejenak. Eh di sana ada seekor kucing remaja tersebut. Nampak pulas tidur. Waduh!!!

Cerita ini hanya fiksi, meski gambarnya punya Nero.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 26, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: