Agar Transportasi Publik Bebas Pelaku Pelecehan Terhadap Kaum Perempuan

Suatu hari ketika aku naik commuter line dari Stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan, aku merasa ada sesuatu yang janggal. Gerbongnya relatif tidak terlalu sarat penumpang, meskipun aku tidak mendapat tempat duduk. Yang bikin aku was-was adalah ulah salah satu penumpang prianya yang membuatku tidak nyaman.

Penumpang pria itu mengenakan atasan dan celana putih. Usianya berkisar empatpuluhan. Seperti kubilang keretanya tidak terlalu penuh, namun ia memajumundurkan badannya berupaya mengenai penumpang perempuan yang sedang berdiri. Untungnya setelah Stasiun Duren Kalibata aku mendapat tempat duduk. Aku langsung bersikap waspada ketika ada penumpang lain yang posisinya tak jauh dariku turun. Pria aneh itu duduk di dekatku. Lagi-lagi aku masih beruntung karena antara aku dan dia terhalang oleh posisi penumpang pria.

Dalam hati aku ingin berteriak agar penumpang itu diusir, tapi aku tidak mendapatkan bukti ia melakukan hal-hal yang dianggap melecehkan penumpang perempuan. Bisa-bisa aku malah dianggap kegeeran dan salah tuduh. Namun, lambat laun intuisiku terbukti. Sikapnya makin aneh. Saat penumpang pria di sebelahku turun, ia bergegas mendekatiku. Aku spontan langsung berdiri dan memilih menjauh darinya. Lagi-lagi aku dilanda dilema, pantaskah aku berteriak atau diam saja. Ada banyak penumpang pria dan mereka melihatnya, kenapa mereka diam saja?

Pria aneh itu nampak kecewa. Ia gagal menyasarku. Ia kemudian menyasar penumpang perempuan yang baru masuk kereta. Aku perhatikan tindak-tanduknya. Ketika ia nampak berupaya menyentuh si penumpang perempuan tersebut, aku berupaya memberikan tanda ke penumpang perempuan tersebut. Si pria itu melihatku dan nampak sewot. Duh ketika aku turun, aku merasa was-was ia mengikutiku. Aku segera membaur di kerumunan dan berharap tidak pernah bertemu dengan si penumpang pria tersebut.

Pria yang kutemui dan gelagatnya aneh tersebut ternyata pria ini (gambar dari tribunnews)

Beberapa hari kemudian salah satu penggiat komunitas pecinta kereta api Kompasiana, Click, menyebarkan foto pelaku tindak pelecehan yang sering beroperasi di kereta. Aku terkejut karena pelaku itu adalah yang kutemui di commuter line beberapa waktu sebelumnya. Ia ternyata kerap melakukan tindak pelecehan tersebut. Sayangnya tidak ada yang melaporkan dan penumpang pria lainnya juga tidak melakukan upaya pembelaan ke korban yang umumnya kaum perempuan. Aku sendiri merasa kecewa pada diriku, coba kalau pada waktu itu aku lebih berani. Diam bukan pilihan. Korbannya bakal makin bertambah jika pelaku tersebut didiamkan.

Selama ini jika ada pelecehan umumnya kaum perempuan diam saja dan tidak berani melapor. Masih ada stereotipe di masyarakat jika ada kejadian pelecehan yang umumnya disalahkan adalah kaum perempuan, penampilannya dianggap mengundang dan sebagainya. Padahal dari cerita korban, mereka berpenampilan biasa dan sopan, sebagian juga menutup rapat seluruh tubuhnya. Mereka juga tidak berniat untuk mengundang perhatian dan ingin menjadi korban.

Pelaku pelecehan ini ada dimana saja, di tempat kerja dan tempat umum. Sebagian ada di transportasi publik terutama yang sarat penumpang. Waktu itu aku juga hampir menjadi korban pelecehan di bus kota. Saat itu tiba-tiba ada penumpang pria yang duduk di sebelahku padahal tempat duduk lainnya masih kosong. Aku sudah merasa tidak enak. Ketika ada seorang Ibu memberi tanda kepadaku agar berpindah di sebelahnya, aku segera bergegas. Rupanya ia tahu jika penumpang itu seorang maniak. Hanya ia takut berteriak atau melapor karena bisa jadi penumpang seram itu akan menyerangnya. Ia bercerita jika beberapa kali bertemu pria tersebut dan melihat si pria itu suka mendekati penumpang perempuan.

Meskipun ia tidak berani melaporkan pelaku, namun aku masih berterima kasih ke si Ibu itu karena tidak hanya diam dengan memperingatkanku agar segera menjauh dari pelaku. Dengan berbagai kejadian pelecehan tersebut yang ada di sekelilingku aku merasa malu karena selama ini hanya diam, seharusnya aku lebih berani. Aku harap para penumpang lainnya, termasuk penumpang pria juga berani dan tidak tinggal diam ketika penumpang perempuan diperlakukan tidak senonoh oleh pelaku.

Dari data yang dilansir oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan,setiap harinya rata-rata ada 35 kasus kekerasan sekual pada perempuan. Hal ini juga menunjukkan bahwa masyarakat masih takut bersuara pada ketidakbenaran yang ada di sekelilingnya. Menurutku ini menjadi tantangan bagi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk menyosialisasikan gerakan “Diam bukan pilihan” ke masyarakat agar mereka berpartisipasi dalam melaporkan hal-hal yang tidak benar, seperti kasus pelecehan, perundungan, korupsi, persekusi, dan sebagainya agar tidak lagi terjadi korban.

Jika masyarakat peduli serta berani melapor dan menjadi saksi, maka pelaku tindak kejahatan akan terdesak. Kasus pelecehan kepada penumpang perempuan menurutku juga sesuatu yang penting. Jangan sampai korban pelecehan malah dituding sebagai pemicu tindakan tersebut dan pelakunya melenggang bebas.

Gambar atas dari republika

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 31, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: