Agar Pedagang Barang dan Jasa Keliling Lebih Berdaya

“Sol sepatu!” setiap pagi sekitar pukul 06.00-07.00 dan petang hari jelang Maghrib aku mendengar seruan tersebut. Ia berjalan menyusuri gang demi gang, kompleks demi kompleks menawarkan jasanya. Di tempat lain aku juga menjumpai pedagang yang berjalan kaki menawarkan tempat jemuran, kasur gulung, rak buku, dan bale-bale dari bambu. Dalam hati aku berdoa agar usaha mereka berjalan lancar. Di satu sisi aku merasa prihatin melihat kerja keras mereka tersebut.

Mereka orang-orang yang tangguh dan pekerja keras. Mereka mau melakukan apa saja dalam bekerja asalkan halal, demi menghidupi diri mereka sendiri dan keluarganya.

Ketika aku memanggil jasa tukang sol sepatu untuk menjahit sepatuku agar lebih kuat, ia bercerita jika usahanya ini ia lakukan karena sawah miliknya sudah dijual. Ia menjadi buruh tani yang jasanya tidak setiap hari digunakan. Pada masa-masa itulah ia berpisah dari keluarganya dengan menjadi tukang sol sepatu di Jakarta.

Sol sepatu keliling berusaha tanpa hari libur (sumber:kompasiana)

Tidak setiap hari usaha mereka dipakai dan menghasilkan uang. Masyarakat Jakarta lebih suka membeli sepatu baru daripada membetulkan sepatunya. Toh harga sepatu ada yang hanya Rp 30 ribu. Sedangkan jasa mereka terkadang juga mencapai Rp 30-50 ribu bergantung pada kerumitan menjahit dan membenahi sepatunya.

Suatu saat aku merasa tak tega ketika melihat penjual kasur gulung yang sudah tua dan nampak lelah. Aku pun membelinya satu. Ketika kuangkat beratnya lumayan. Padahal si kakek itu membawa tiga kasur dan berjalan kaki berkilo-kilo meter.

Ada banyak pedagang keliling yang berjalan kaki dan di antaranya memanggul dagangannya di punggungnya, bukannya ditaruh dalam gerobak dan didorong. Menurutku hal tersebut sudah kurang layak untuk masa sekarang. Apalagi jika melihat dagangan mereka susah untuk laku. Tiang jemuran, kasur, rak, dan bale-bale bukan jenis barang yang mudah laku setiap harinya. Tapi mereka perlu bekerja untuk mencari uang. Mereka juga pekerja keras.

Saat ini pemerintah Jakarta lebih banyak membagikan uang ke masyarakat kurang mampu lewat kartu-kartunya. Memang cara tersebut bisa dibilang langkah mudah, namun hanya menyasar mereka yang benar-benar ber-KTP Jakarta dan hanya mengatasi satu masalah, seperti bidang pendidikan. Bagaimana dengan pendatang, yang susah payah bekerja di Jakarta demi kehidupan yang lebih baik? Dan, bagaimana dengan pemberdayaan ekonomi warga agar mereka benar-benar mandiri dan lebih sejahtera?

Penjual kasur tabah menjalankan usahanya (sumber:brilio)

Aku mendukung dan sangat setuju jika ada usulan untuk membentuk paguyuban dan koperasi yang menaungi para pekerja informal tersebut. Pemerintah DKI Jakarta atau pemerintah daerah lainnya kemudian menggandeng balai latihan kerja untuk memberikan mereka pelatihan teknis agar kemampuan mereka lebih meningkat atau mereka memilih alternatif untuk berganti pekerjaan yang lebih baik. Siapa tahu ada ide start up seperti ojek daring dimana melayani jasa bertanam, jasa pertukangan dan jasa membetulkan sepatu.

Donasi juga bisa dilakukan secara online

Selain materi teknis, mereka juga perlu dibekali materi soft skill agar mereka lebih percaya diri, mampu memanajemen dirinya dan usahanya dan mampu mengelola modal dan cash flow mereka. Pemerintah daerah juga bisa memberikan mereka modal yang wajib dikembalikan secara berkala. Seandainya modal usaha tersebut susah diperoleh maka masyarakat bisa memberikan donasi ke lembaga penyalur amal dan zakat yang juga bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan pengembangan sosial seperti Dompet Dhuafa agar nantinya donasi tersebut bisa diserahkan ke mereka. Waktunya pas saat ini karena memasuki bulan kemanusiaan. Donasi tersebut bisa dilakukan secara online.

Pemerintah daerah, lembaga latihan kerja, dan paguyuban pekerja informal perlu bekerja sama (sumber:pexels)

Mereka juga sepatutnya disertakan dalam asuransi sosial seperti asuransi kesehatan dan asuransi ketenagakerjaan sehingga mereka bisa menikmati jaminan hari tua dan pensiun. Dengan demikian kota lebih manusiawi dan memanusiakan penghuninya. Dengan wujud paguyuban yang anggotanya mendapat binaan dari pemerintah daerah dan institusi lainnya mereka akan menjadi pekerja yang lebih berdaya. Kalian bisa menjadi pahlawan dan hero jaman now dengan menyumbang pikiran bagi pemberdayaan masyarakat sekeliling atau dengan berdonasi.

Gambar atas dari pexels

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 24, 2017.

5 Tanggapan to “Agar Pedagang Barang dan Jasa Keliling Lebih Berdaya”

  1. Dikutin lomba kah ini? 😊
    Saya juga kadang masih keliling lho nawarin n ngantarin produk, offline juga online 😁😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: