Sebuah Perjalanan

Seringkali ketika melancong aku malah menikmati masa perjalanannya. Ketika tiba di lokasi wisata malah biasa saja dan terkadang tidak sesuai harapan. Pada masa perjalanan itulah aku merasakan ujian dalam hubungan, hubungan pertemanan, hubungan persaudaraan, dan hubungan bersama pasangan. Terkadang kami berbeda pendapat dan kemudian saling mendiamkan, salah satu ngambek, dan sebagainya. Padahal kalau dipikir-pikir lagi masalahnya sepele hehehe. Nah, ketika melakukan perjalanan kemarin ke Banyumas dan Cilacap, untunglah cuaca sedang bersahabat. Warna langit dan sawah juga indah, berpadu menciptakan warna yang selaras.Ada berbagai obyek menarik yang kutemui selama melakukan perjalanan. Kemacetan tetap mewarnai selama perjalanan liburan, tapi tidak sepadat saat liburan jelang Natal lalu. Kemacetan hanya terjadi di sekitar gerbang Cikarang Utama dan menuju Karawang Timur. Setelah itu lancar dan kembali tersendat memasuki tol Palimanan-Kanci.

Oleh karena berangkat dini hari, badan kami jadi kurang fit. Bawaannya ngantuk melulu. Untunglah panorama indah membuat mata cukup segar setelah tentunya beberapa kali kami berhenti untuk beristirahat.

Yang tidak enak itu ketika di depan kami adalah truk dengan asap yang hitam. Aduh bikin sesak nafas. Pemandangan tidak enak juga terjadi apabila di depan kami adalah mobil pengangkut ternak, baik ternak ayam maupun ternak sapi. Aku tidak tega melihatnya, apalagi melihat sapi yang nampak kesulitan menjaga keseimbangannya. Aku hampir menangis jika melihatnya, membayangkan jika aku berada di posisinya. Tapi yang paling nggak banget itu di belakang mobil pengangkut babi. Hihihi rasanya gimana gitu.

Menuju selatan, alam pemandangannya lebih segar dan hijau dibandingkan jika lewat pantura. Minusnya jalannya lebih sempit dan masih banyak truk. Oh ya ada juga jalanan yang rusak sehingga harus gantian lajur.

Di jalanan kali ini kutemui banyak warga menjual bawang merah hasil panenannya. Banyak pula orang-orang narsis yang mencalonkan dirinya nanti saat pilkada. Astaga ini bikin eneg karena dimana-mana ada poster wajah orang yang besar dengan janji muluk-muluk. Polusi mata deh.

Favoritku selain memotret sawah berlatar pegunungan dan sungai, adalah memotret jembatan. Desain jembatan itu unik-unik. Oh ya selama di Purwokerto di beberapa jalan ada ikon punakawannya. Sayangnya aku malah lupa memotretnya karena menghindari polusi mata. Walah.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 2, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: