“The Shape of Water”, Kisah Cinta Janitor dan Makhluk Air

Film The Shape of Water ini menarik perhatian banyak pihak karena meraup 13 nominasi Oscar 2018. Tiga di antaranya juga masuk kategori utama, seperti Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Pemeran Utama Wanita Terbaik. Awalnya aku kurang tertarik, namun ketika mengetahui sutradaranya adalah Guillermo del Toro, yang beberapa filmnya keren seperti Mama, Pan’s Labyrinth, Crimson Peak, dan Pacific Rim, maka aku pun tertarik. Ternyata film The Shape of Water ini punya jalinan kisah yang unik, sebuah hubungan romantis antara dua makhluk berlainan jenis.

Pada masa tahun 1960-an, era perang dingin, ada seorang perempuan yatim piatu bernama Elisa Esposito (Sally Hawkins) yang bekerja sebagai janitor atau bagian bersih-bersih. Ia bekerja di sebuah pusat penelitian militer rahasia yang keamanannya ketat. Ia memiliki shift malam hari bersama sahabatnya Zelda Fuller (Octavia Spencer). Sahabatnya ini tahu Elisa sering datang ngepas, maka ia menyediakan tempatnya untuk dia. Alhasil ia dapat kecaman dari para pekerja lainnya.

Meskipun tidak mampu berbicara, Elisa seorang perempuan yang ceria. Ia suka menonton film musikal bersama tetangganya, Giles yang tua dan kesepian. Bagian bawah apartemennya juga merupakan gedung bioskop, kadang-kadang ia dapat tiket gratis.

Kehidupan Elisa berubah ketika tempatnya bekerja memasukkan sebuah tangki air berukuran besar. Elisa menduga ada sesuatu di dalamnya yang hidup. Pembawa tangki berisi makhluk amphibia itu adalah Kolonel Richard Strickland (Michael Shannon), pejabat di lab militer yang keji. Ia membawanya untuk penelitian dan misi khusus karena warga Amazon menganggap makhluk air tersebut adalah seorang dewa dan memberinya sesaji terutama makanan. Gara-gara adanya dewa ini maka proyek berkaitan dengan minyak juga gagal.

Saat Elisa dan kawannya membersihkan toilet, ia melihat Richard membawa tongkat listriknya yang berlumuran darah. Tak lama si Richard dibawa ke rumah sakit karena dua jarinya digigit si makhluk dan ia terluka parah. Keduanya diminta membersihkan ruang lab dengan segera.

Elisa merasa kasihan dengan makhluk tersebut. Ia merasa si makhluk tersebut diperlakukan dengan buruk. Tubuhnya pun akan dibedah.

Elisa pun memberinya telur rebus. Awal-awal si makhluk hanya mengambil telurnya dan mengabaikannya. Lama kelamaan mereka berteman. Elisa memberinya telur dan mengenalkan dengan bahasa isyarat. Saat ruang lab sepi, Elisa mengobrol dengan bahasa yang terbatas, makan telur rebus dan mendengarkan musik. Ilmuwan Dr Robert Hoffsteller (Michael Stuhlbarg) melihatnya. Ia terkejut tapi menyembunyikan dan tidak melaporkannya. Sahabat Elisa juga mulai curiga dengan kebiasaan baru kawannya berlama-lama di ruang lab.

Hingga suatu ketika Richard mengamuk. Ia memukul si makhluk dan menyiksanya. Nasib makhluk tersebut semakin buruk dan bakal semakin buruk. Elisa merencanakan pelarian untuk si makhluk, tapi ia tidak tahu caranya.

Film ini indah, bikin haru dan juga bikin tersenyum. Elisa sejak kecil ditelantarkan. Ia merasa beruntung ada Giles (Richard Jenkins) yang mendengarnya, juga punya sahabat yang baik. Tapi ia juga mendambakan ada seseorang yang benar-benar untuknya. Ketika melihat makhluk itu ia merasa kasihan tapi lambat laun ia merasa hanya makhluk itu yang mengerti dirinya.

Alur ceritanya agak lambat. Latarnya masa-masa setelah perang dunia kedua dilihat dari peralatan militer di lab. Musik skoring dalam musik ini indah. Hubungan romantis yang terjalin berjalan secara dinamis.

Sally Hawkins sebagai Elisa berperan dengan maksimal di sini. Sebelumnya ia menarik perhatian di film Godzilla sebagai asisten ilmuwan. Ia kemudian berperan di Blue Jasmine dimana ia meraih nominasi Oscar sebagai aktris pendukung terbaik. Selanjutnya ia ikut bagian dalam film Paddington. Nantinya di ajang Oscar ia akan bersaing dengan Saoirse Ronan (Lady Bird), Frances McDormant (Three Billboards), dan Margon Robbie ( I, Tonya).

Sedangkan karakter sahabat dan pejabat militer yang jahat diperankan oleh Octavia Spencer dan Michael Shannon. Octavia Spencer kariernya menanjak sejak berperan di filn The Help dan meraih Oscar. Ia selanjutnya juga meraih nominasi Oscar berkat film Hidden Figures. Di film The Shape of Water ia mendapat nominasi Oscar si kategori Pemeran Pendukung Wanita Terbaik.

Sedangkan Michael Shannon berkat wajahnya yang bengis membuatnya sering mendapat peran antagonis. Ia menjadi polisi korup di Premium Rush dan menjadi Jenderal Zod di Man of Steel.

Guillermo del Toro sendiri, sutradara asal Meksiko, ini juga terlibat dalam film Hellboy. Sehingga tak heran jika wujud makhluk air tersebut mirip dengan salah satu karakter di Hellboy, bahkan pemerannya pun sama, yaitu Doug Jones. Ia pernah meraih nominasi untuk penulis naskah dalam Pan’s Labyrint.

Tahun ini ia meraih sutradara terbaik dalam ajang Golden Globes berkat film The Shape of Water. Apakah kali ini ia juga beruntung di ajang Oscar untuk nominasi sutradara terbaik dan penulis naskah original bersama Vannesa Taylor?

Detail Film:
Judul : The Shape of Water
Sutradara : Guillermo del Toro
Pemeran : Sally Hawkins, Michael Shannon, Richard Jenkins, Doug Jones, Octavia Spencer, Michael Stuhlbarg
Genre : Drama, fantasi
Skor : 7,8/10
Gambar : IMDB

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 1, 2018.

8 Tanggapan to ““The Shape of Water”, Kisah Cinta Janitor dan Makhluk Air”

  1. Akhirnya gmna mbak ? Heee

  2. Wah… mirip Abe ya?

  3. Sally Hawkins sdh menarik perhatian sejak Happy Go Lucky

  4. hmm, masukin ke daftar tontonan ahh.., makasih reviewnya ya Puspaaa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: