The Breadwinner, Kisah Gadis Cilik di Afghanistan yang Sedih

Parvana dibesarkan di Afghanistan saat Taliban berkuasa. Ayahnya yang dulunya seorang guru hanyalah pedagang kecil dengan kaki cacat karena terluka saat perang. Meski demikian ia merasa bahagia dan berkecukupan di tengah situasi yang serba sulit, terutama bagi kaum perempuan. Hingga suatu saat ayahnya ditangkap. Tanpa ada pria di rumah tersebut maka mereka bakap sangat sulit memenuhi kebutuhan pokok mereka. Parvana pun kemudian berkorban.

Ibu mereka awalnya masih percaya akan adanya keadilan. Ditemani Parvana, keduanya pun berjalan kaki sangat jauh menuju penjara untuk meminta keadilan bagi suaminya. Malangnya meduanya tak diberi kesempatan sama sekali untuk melihat si ayah. Ibunya malah disiksa dan dipukuli dengan semena-mena karena dianggap pergi tanpa kawalan pria meskipun tubuhnya sudah ditutup rapat dengan burqa.

Parvana yang nekat ke pasar untuk berbelanja dan mengumpulkan air dari sumur pun  nasibnya terancam. Ia dikejar-kejar dan jika tertangkap maka ia juga akan mengalami nasib serupa ibunya. Parvana kemudian paham tidak akan ada kehidupan bagi wanita tanpa pria di sana. Parvana pun kemudian memotong rambutnya dan berdandan seperti pria. Nasibnya pun berubah.

Cerita tentang Parvana ini merupakan kisah yang terinspirasi dari kisah nyata kaum perempuan di Afghanistan. Mereka seolah-olah menjadi warga kelas kesekian dimana nasib mereka ditentukan oleh pria. Naskahnya memang bukan original tapi diangkat dari novel karya Deborah Ellis berjudul sama, The Breadwinner. Kisah Parvana ini meskipun fiktif, merupakan cerminan kondisi kaum hawa di Afghanistan. Tapi entah bagaimana kondisi sekarang ketika Taliban sudah terpukul mundur. Mudah-mudahan nasib kaum perempuan mulai diperhatikan seperti Afghanistan jaman dulu dimana kaum perempuannya terhormat dan memiliki kedudukan setara.

Di situasi yang serba sulit dengan ancaman risiko yang tinggi, Parvana tetap berjuang untuk hidup dengan semangat tinggi.  Ia mau melakukan pekerjaan apa saja dengan kedok anak laki-laki untuk menghidupi keluarganya. Cerita Parvana ini mengingatkan pada sosok Mulan, puteri Disney dari Tiongkok, yang menyamar jadi pria, demi menolong keluarganya.

Animasi The Breadwinner ini diproduksi oleh Carton Saloon yang dua animasi sebelumnya berhasil menarik perhatian dan masuk ke nominasi Oscar, The Song of The Sea dan   juga berhasil masuk nominasi Golden Globe 2018 dan lolos sebagai nominasi best animated feature di ajang Oscar 2018 bersaing dengan Coco, Loving Vincent, The Boss Baby, dan Ferdinand.

The Breadwinner yang disutradarai oleh Nora Twomey ini diproduseri salah satunya oleh aktris berbakat yang juga duta PBB yaitu Angelina Jolie. Film animasi produksi Kanada-Irlandia-Luxembourg ini menggunakan cara tradisional yaitu tiap framenya digambar dengan tangan. Gambarnya memang tidak sedetail karya Disney atay Ghibli tapi punya ciri khas yang menarik dan pas menggambarkan perawakan dan bentang alam Afghanistan yang relatif gersang.

The Breadwinner merupakan sebuah film animasi yang sarat dengan nilai keluarga. Ia juga menunjukkan di balik kerapuhan fisik wanita, terdapat tekat yang kuat.

Detail Film:
Judul : The Breadwinner
Sutradara : Nora Twomey
Genre : Animasi, drama keluarga
Skor :8/10
Gambar milik Cartoon Saloon

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 5, 2018.

4 Tanggapan to “The Breadwinner, Kisah Gadis Cilik di Afghanistan yang Sedih”

  1. Hmmmm…. Perbedaan gender ya…. Tapi menurut saya ada cara lain deh tidak harus berubah menyerupai laki2.

    • Hehehe tidak bisa di sana. Si Ibu Parvana keluar rumah dengan burqa ditemani putrinya untuk menjenguk suaminya dan ketahuan kemudian dipukuli sampai babak belur.

      • Ini true story ya? Tapi dengan dia berubah jadi laki2 kan berarti menyalahi kodrat ya?

      • Dia hanya potong rambut dan pakai baju anak laki-laki agar bisa cari nafkah dan ambil air untuk keluarganya. Jika tidak ada yg berkorban maka keluarganya bakal tewas karena tak ada pria dewasa di antara mereka sementara kaum wanita meski berburqa tetap dilarang keluar rumah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: