Edukasi Mengubah Wajah Negeri

Senyumku mengembang ketika membaca berita lawas tentang seorang putri tukang becak yang berhasil menjadi lulusan terbaik sebuah universitas. Ia juga berhasil mewujudkan cita-citanya, lulus dari kampus bergengsi di Inggris. Ya, edukasi bisa memutus rantai kemiskinan dan bisa mewujudkan impian siapapun dengan latar belakang apapun. Edukasi bisa mengubah wajah apapun ke arah yang lebih positif, termasuk mengubah wajah sebuah bangsa.

Wajah sebuah bangsa terbukti bisa berupa berkat tekad dan pembangunan yang juga berfokus pada edukasi. Jepang pada tahun 1945 pernah mengalami masa-masa kehancuran total. Namun, mereka tidak ingin larut dalam keterpurukan. Mereka bekerja keras untuk bangkit, yang dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan rakyat. Mereka yakin edukasi dan pengetahuan akan mengubah wajah negara mereka dan berhasil. Mereka mengirim generasi muda belajar ke berbagai negara. Oleh karena edukasi yang baik, maka tak heran pada tahun 1950 Jepang mulai bangkit. Kemudian sekitar pertengahan tahun 70-an, negara sakura ini telah menjadi salah satu pusat perekonomian di Asia dan beberapa tahun kemudian menjadi raksasa dunia.

Nasib serupa juga dialami oleh Singapura. Pada tahun 1960-an Singapura bermimpi menjadi pusat perekonomian di kawasan Asia Tenggara. Mimpi itu ditertawakan oleh sebagian negara tetangga. Tak nyana, pada pertengahan tahun 90-an, Singapura mulai menjadi salah satu negara digdaya di kawasan Asia Tenggara, berkat kedisiplinan dan tekad yang kuat dalam peningkatan pembangunan di bidang edukasi. Tak kalah dengan Singapura, negara Vietnam pun juga cepat mengejar ketertinggalan. Setelah perang Vietnam, selama 30 tahun kemudian mereka banyak melakukan pembangunan di sektor edukasi. Saat ini bidang teknologi informasi dan komunikasi Vietnam berkembang pesat. Perekonomian Vietnam juga semakin berkembang.

Sementara itu di Indonesia juga gencar dilakukan pembangunan di bidang pendidikan. Namun, oleh karena wilayahnya yang luas dan merupakan negara kepulauan, maka pemerataan pembangunan masih menjadi pekerjaan rumah. Selain itu, masih ada kalangan masyarakat yang menganggap pendidikan itu nomor sekian meskipun sudah ada ketentuan wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah. Kenyataannya masih ada anak-anak yang diminta membantu orang tuanya bekerja padahal mereka seharusnya ada di kelas dan belajar. Adapula yang putus sekolah sebelum menuntaskan wajib belajar tersebut.

Kondisi pendidikan di tanah air memang masih kurang menggembirakan. Berdasarkan  indeks pembangunan di bidang pendidikan (Education Development Index), Indonesia baru berhasil meraih skor 0,603. Dengan skor tersebut Indonesia baru menempati posisi 108 dari 205 negara. Skor ini tertinggal dengan negara tetangga seperti Thailand (0,608/posisi 89), Malaysia (0,671/posisi 62), Brunei Darussalam (0,692/posisi 30), dan Singapura (0,7688/posisi 9). Angka yang masih rendah ini dikarenakan baru 44 persen menuntaskan pendidikan menengah berdasarkan data yang dilansir oleh situs Deutsche Welle (17/2/2017)

Skor  EDI ini merupakan rerata dari empat kategori yakni angka partisipasi pendidikan dasar,  angka literasi (melek huruf) pada usia 15 tahun ke atas, angka bertahan murid hingga kelas lima sekolah dasar, dan angka partisipasi berdasarkan kesetaraan gender.

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera dilakukan pemerintah agar tingkat edukasi ini meningkat dan merata di tiap-tiap daerah. Namun, yang tak kalah penting adalah bagaimana membangun kesadaran akan pentingnya edukasi di tingkat keluarga. Setiap orang tua sepatutnya memberikan perhatian penuh kepada pendidikan anak-anaknya, begitu pula dengan anak-anaknya, mereka sebaiknya memiliki semangat dan harapan untuk meraih pendidikan setinggi mungkin. Saat ini pemerintah daerah sudah menerapkan pendidikan gratis. Beasiswa di tingkat perguruan tinggi juga mulai bermunculan. Sehingga, pelajar dari keluarga kurang mampu sebenarnya tidak perlu cemas dengan biaya pendidikan, yang penting mereka rajin belajar.

Mengapa setiap anak perlu bercita-cita memiliki pendidikan setinggi mungkin? Oleh karena dengan pendidikan maka ia bisa berkontribusi kepada lingkungannya, ia bisa menjadi perancang infrastruktur, bisa menjadi penemu ide inovatif, bisa menjadi guru untuk mendidik anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya, dan sebagainya. Dengan semakin banyaknya generasi muda yang unggul di sebuah daerah maka daerah itu akan mengalami percepatan pembangunan ke arah yang lebih baik. Jika setiap daerah memiliki bibit unggul yang dedikatif dan beredukasi maka negeri tersebut juga akan mengalami percepatan pembangunan di berbagai sektor.

Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, baik yang bersifat formal seperti di sekolah, juga yang bersifat sebagai penunjang atau minat, seperti pelajaran menggambar, bermusik, dan sebagainya. Saat ini ada berbagai pendidikan yang memberikan beragam jenis pendidikan, salah satunya adalah Educenter yang memiliki motto “one stop education of excellence“. Di #Educenter siswa bisa belajar matematika, kimia, berlatih piano, hingga berlatih bela diri seperti karate dengan suasana yang nyaman.

Belajar itu menyenangkan. Yuk tetap semangat untuk menimba ilmu demi kemajuan bangsa dan negerimu.

Gambar dari pixabay dan educenter

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 25, 2018.

42 Tanggapan to “Edukasi Mengubah Wajah Negeri”

  1. Heheh ada benernya mbak,saya saat ini SMA nyambi kerja di restoran ya al hasil alhamdulillah PR dan segala pekerjaan kelompok terabaikan

  2. Bangkitlah negriku melalui pendidikan 😊🙋

  3. Wuih, ada one stop edukasi yg keren nih…kalo otak anak kita encer, setahun dah cukup belajar di satu tempat aja yaa kalo kek gini…

  4. Semoga skor pendidikan di Indonesia bisa naik terus yaa, supaya generasi selanjutnya semakin cemerlang.

  5. Yaaahhh masih kalah sama Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Duuuhhhh semoga makin membaik pendidikan kita

  6. Pendidikan di Indonesia memang masih rendah banget. Makanya sebisa mungkin sih saat masuk kuliah aku pgn masukkin anakku ke skolah diluar negeri. Memang pendidikannya kan juga berbeda ya. Dan juga pola pikirnya juga psti berbeda.

  7. semoga pendidikan di indonesia lebh baik

  8. kalau belajarnya asyik, pasti seneng nyerap ilmunya

  9. Sedih banget nasib pendidikan kita. Mungkinkah ini karena pemerintah tidak serius mengelola pendidikan? #Tiapgantipejabatgantikebijakan

  10. Seneng baca tulisan kak Dewi, mengalir dan natural.
    Pendidikan sbg kunci masa depan bangsa, memang benar adanya.
    Sukses buat kakak

    • Indonesia sebaiknya berkaca ke negara tetangga kenapa sekarang mereka lebih maju dan Indonesia tertinggal. Memang pendidikan di berbagai daerah maju, tapi tak diikuti dengan daerah lainnya alias tidak merata.

  11. Sebagai seorang guru yang mengajar di salah satu lembaga bahasa, aku kadang suka ngebatin: “Duh, anak-anakku bisa les kaya gini nggak ya?”
    Soalnya biaya les itu mahal luar biasa.Hampir semua muridku datang dari keluarga yang berkecukupan (kemana-mana naik mobil, uang les bisa mencapai 2 juta per bulan). Buat orang yang penghasilannya pas-pasan tentu hanya bisa mengandalkan pendidikan yang didapat di sekolah formal.

    Semoga pemerintah Indonesia bisa semakin meningkatkan pendidikan, khususnya mutu pendidikan dan agar pendidikan bisa dinikmati semuanya. Aamiin.

    • Iya mba Tya. Aku juga ngerasain dulu. Aku sebenarnya waktu kecil ingin ikut kursus ini itu tapi terganjal dengan biaya. Akhirnya harus puas dengan yang tersedia di sekolah.

      • Sebetulnya kursus/les itu kan opsional ya tidak wajib. Cuma sekarang kecenderungannya jadi seperti ‘wajib’ ya karena pendidikan formalnya kurang dari segi mutu. Beberapa murid aku mengeluh mereka malas belajar bahasa Inggris di sekolah karena katanya membosankan. Sedangkan bahasa Inggris penting untuk masa depan/karir, makanya ortu mereka memasukkan ke tempat les.

        Buat murid yang memang senang belajar tentu senang dengan adanya kesempatan mengupgrade skill di luar sekolah. Tetapi tidak jarang juga murid yang datang adalah murid yang dipaksa les oleh orangtuanya. Jadi sedih juga sih mereka harus meluangkan waktu main mereka untuk belajar.

        Andaikan mutu di sekolah formal udah oke (maksudnya sekolah negeri) tentu mereka nggak perlu les dan punya banyak waktu luang untuk bermain.

  12. never stop learning… seumur aku aja masih tetep kudu belajar.. selama masih ada kesempatan kan why not

  13. urusan pendidikan beda wilayah beda harga nih, klo di jakarta lebih murah daripada di depok (rumahku) makanya kata ibuku ktp-ku kudu teteup jakarta biar nanti urusan sekolah mudah (klo masuk SMP/SMA, sekolah di jakarta yg diprioritaskan anak2 jakarta, yg depok dll tergantung kuota yg ada)

    pendidikan bukan hanya membuat seseorang menjadi lebih baik (pekerjaan maupun masa depan), tapi banyak juga yg bisa mengangkat derajat keluarganya

  14. Sayangnya, biaya pendidikan yang bermutu itu relatif mahal, Mba. Jadi ya pendidikan bisa dibilang nggak merata kecuali orang yang tidak berkecukupan tapi otaknya encer.

    Dan orang-orang kampung lebih memilih menikah muda ketimbang mencari uang untuk masa depan anak-anaknya kelak. Jadi mereka gak pernah mikir untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

    • Memang aku sendiri juga mengakui pendidikan terutama yang nonformal seperti kursus bahasa itu lumayan menguras kantong. Tapi jika kuperhatikan sekarang sekolah dan kampus negeri kualitasnya makin membaik, sehingga jika belajar baik-baik di sekolah tersebut maka kualitas lulusan siswanya juga akan baik. Tapi memang kebanyakan yang merasakan adalah mereka yang pintar atau mereka yang rajin belajar, untuk itulah pentingnya dukungan orang tua dalam memberikan waktu dan perhatian kepada putra-putrinya agar bisa fokus belajar.

  15. Setuju. Bagaimanapun juga pendidikan yang utama. Bangsa yang maju, biasanya pendidikannya maju. Jadi, kalo Indonesia pengen maju bisa dimulai dari pendidikannya dulu. 😱👍

  16. Semoga pendidikan di indonesia tambah berkembang
    Salam sukses
    https://denpasarsandalhotel.wordpress.com/

  17. Wow EDI negara kita hanya 0,6**. Mudah2xan lekas membaik

  18. Bener banget kita harus terus belajar sampai menutup mata.

  19. Selalu senang dan mau belajar untuk menimba ilmu yang bermanfaat.

  20. Semoga pendidikan di indonesia tambah cemerlang

  21. riset data di awalnya bagus, mbak, banyak dan sesuai

  22. Aku sepakat soal pendidikan mengubah wajah dunia.
    Dan supaya mudah diadopsi, sistem pengajaran yang fun itu penting. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: