Nama dan Karakter

Aku keheranan ketika seorang kawanku berkata. Kamu lebih cocok dipanggil Puspa daripada Dewi? Aku tertegun sejenak dan bertanya-tanya, ada angin apa tiba-tiba dia berkata seperti itu. Tapi ia benar saat ini aku lebih suka jadi Puspa daripada Dewi.

Nama konon memengaruhi karakter seseorang. Dulu Ibuku dan ayahku punya nama favorit untukku. Ibuku ingin namaku ada unsur bulan yaitu Mei. Ia ingin memberiku nama Meita. Sedangkan ayahku suka namaku sekarang. Ibuku mengalah.

Saat duduk di bangku SD, ada beberapa guru yang suka memanggilku sesukanya. Kadang Dewi, Puspa, Sari dan Roro. Tapi ia paling sering memanggilku Puspa dan Roro. Nama Roro membuatku diolok-olok teman-temanku sehingga nama itu kemudian menghilang. Saat SMP dan SMA teman-temanku memanggilku dengan Dewi.

Sosok Dewi itu kalem, tenang dan pendiam. Ia nerd, suka baca buku di perpustakaan dan paling banter ikut ekskul teater. Di luar sekolah, ia sosok yang berbeda. Ia mania musik, terutama musik cadas, suka film dan bacaan unik juga suka keluyuran sendirian. Ia insomnia, suka begadang nonton F1 dan suka masak malam-malam. Ia juga punya banyak ide dan pemikiran liar. Ya, waktu SMP dan SMA aku seolah tumbuh jadi dua orang berbeda.

Aku suka baju jaman dulu. Anggun sekaligus menunjukkan perempuan kuat.

Mulai kuliah aku dipanggil dengan Puspa. Aku menyukai panggilan itu daripada dipanggil Roro, Dewi, atau Sari. Sebagai Puspa aku perempuan yang aktif, ikut UKM ini itu, punya banyak teman, dan suka berpetualang. Semakin tambah usia aku semakin berani. Aku juga mulai suka mengemukakan ide-ideku yang kata teman-teman khas Puspa banget, eksentrik. Styleku kata temanku biasanya tidak seperti perempuan padha umumnya, apalagi jika melihat sepatu wedges hitamku atau sepatu semi bootku dengan tali temali. Aku juga semakin menampakkan diri sebagai penyuka musik cadas.

Kata Upik aku jauh sama sekali dari kesan perempuan anggun dan kalem. Itu kedok saja, penampilannya menipu. Bagi yang sudah kenal mereka akan menyebutku sebagai gadis tomboy dan mandiri.

Dulu waktu awal bergabung di konsultan TI aku dipanggil dengan Puspa, meski ada juga beberapa yang memanggilku Dewi. Kini ketika kembali bergabung dan dipanggil dengan Dewi aku merasa aneh. Aku masih lebih suka dipanggil dengan sapaan akrab seperti Pus, Jeruk (ini gara-gara ku medhok banget), Kucing (teman kuliahku ada yang memanggilku seperti itu), Mimi Hitam (eh kenapa ya dulu dipanggil begini), dan Mei. Yang terakhir ini bikin ku terharu karena ada fotografer yang memanggilku Mei seperti nama yang diberikan ibuku. Dan aku menyukai sapaan tersebut. Aku kemudian sewot ketika tahu Mei itu singkatan dari Meong walah. Tapi aku suka lho dipanggil Mei, rasanya itu cocok buatku.

Yang mana karakterku?

Oh ya ada satu lagi sapaan yang kusuka, yaitu Rara bukannya Roro. Menurutku Rara lebih pas buatku daripada Dewi, karena Rara lebih manis tapi tidak kalem. Oleh karenanya dulu aku suka pakai nama samaran Rara untuk menulis, bahkan nama akunku di facebook juga menggunakan Rara.

Jika aku boleh membuat nama. Aku ingin namaku menjadi Rara Puspa Meita. Tapi namaku sudah pemberian dari orang tua dan merupakan hadiah langit, jadinya aku hanya bisa memilih nama sapaan atau membuat nama samaran. Mungkin mereka berharap dengan namaku sekarang maka aku jadi anak yang anggun, kalem dan manis, meski ya sepertinya karakter itu jauh dari aku.

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 4, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: