Prioritas

Pernahkah Kalian puyeng dengan setumpuk pekerjaan? Belum selesai pekerjaan A, atasan memberikan pekerjaan B. Sementara itu email juga penuh dan kawan Kalian dengan penuh semangat memberitahukan rencana reuni mini dan minta Dirimu terlibat menjadi panitia. Mana ya yang harus kukerjakan dulu?

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tak bisa lepas dari berbagai peranan. Ada yang menjadi orang tua di rumah, menjadi ketua RW di lingkungannya dan kemudian menduduki posisi asisten manajer di kantornya. Di kalangan kawan-kawannya ia disebut juru sibuk karena suka terlibat acara ini itu. Sedangkan bagi adik-adiknya, ia adalah kakak. Dengan begitu banyak peranan terkadang sulit memilih mana yang harus kulakukan. Dilema juga terjadi jika peran tersebut berbenturan. Misalnya ia bekerja di bidang penegakan hukum. Pada suatu ketika adiknya terlibat tindakan kriminal. Apa yang harus dilakukannya?

Kesulitan prioritasi pekerjaan dan banyaknya peranan yang dimiliki seseorang menjadi bumbu dalam pekerjaan dan kehidupan. Manusia diberi akal, sehingga ia bisa memilih dan memilah mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan apa yang harus dilakukannya agar tak terjadi konflik kepentingan.

Aku sendiri juga masih sering mengalami kesulitan membagi waktu dan melakukan prioritasi. Kalau lagi sepi pekerjaan ya benar-benar sepi, paling setelah mengurus pekerjaan rutin ya bisa curi waktu untuk menulis ataupun browsing hal-hal menarik. Tapi ketika ada pekerjaan beruntun dan semuanya dimintai segera dilakukan, aku malah tercenung, apa yang harus kulakukan terlebih dahulu.

Biasanya aku menggunakan rumus. Aku membuat catatan. Yup aku masih perlu melakukannya. Semua pekerjaan yang harus selesai dalam waktu cepat pun kucatat. Selanjutnya daftar pekerjaan tersebut kupilah mana yang sifatnya penting dan mendesak. Ada pekerjaan yang penting tapi bisa dikumpul besok, jadinya urutannya kuubah. Pekerjaan yang mendesak itu jika tenggat waktunya tak bisa diubah dan menentukan bagi perusahaan kami. Misalnya tenggat waktu selesai proyek berdasarkan kontrak. Jika aku telat mengumpulkan, wah bisa jadi keluar denda dan mencoreng nama perusahaan.

Selesai satu pekerjaan penting dan mendesak, aku memberikan bonus kepada diriku. Bisa mendengarkan musik, mengecek daftar pesan wa sejenak, atau membuka email.

Bagaimana jika terjadi konflik kepentingan seperti yang kuceritakan di atas? Ia bekerja di BNN, eh ternyata anggota keluarganya pemasok narkoba. Busyet deh. Kalau seperti itu mau tidak mau ya harus tetap melakukan profesi, namun perlu memberikan pengertian ke keluarga. Praktiknya sendiri bakal sulit, ia mungkin akan bermasalah dengan keluarga yang menentang keputusannya.

Hidup itu nampak berat dan dipenuhi banyak pilihan. Tapi itulah yang bikin hidup itu berwarna dan punya banyak cerita.

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 19, 2018.

6 Tanggapan to “Prioritas”

  1. Sama kayak gue yang sekarang jadi mahasiswa mendahulukan tugas yg dikumpul besoknya

  2. sering sih kalau pekerjaan seperti itu, bekerja seperti berlomba lomba mana yang cepat.

    skala prioritas biasanya aku pake, Untuk kira kira pekerjaan ringan dan gak butuh waktu lama, ya aku duluin πŸ˜‚

    • Hahaha iya kadang saking sibuk dan ditunggunya mau makan saja susah. Yup kalau pekerjaannya ringan kadang juga kudahulukan sejauh aku yakin tidak banyak mengganggu pekerjaan utama.

  3. Klau aku biasanya buat job plan baik harian/mingguan/bulanan..biasanya aku udah pnya job plan per 3 bulan, lalu di kalender hp job hariannya..dri dulu aku udah biasakan. Alhamdulillah saat ngurusin bisnis sendiri pun lebih leluasa (ga pusing) 😁😁 cos ga ada mengatur…πŸ€—
    Klo pun harus terpaksa mengerjakan yg prioritas..mka hrus diutamakan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: