Udara Terasa Lebih Segar Saat Semua Angsuran Lunas

Pada era saat ini rasanya sulit terbebas dari pinjaman dan angsuran. Mau beli rumah mau tak mau harus kredit karena harganya yang sangat besar. Belum lagi jika ada keinginan untuk membeli kendaraan. Saya juga mengalaminya, padahal dulu rasanya enggan sama sekali untuk berhutang. Dan ketika akhirnya semua lunas, rasanya beban itu hilang.

Aku dari dulu tak suka sama sekali berhutang. Jika tak mampu membeli sesuatu seperti gadget, ya bersabar dulu dengan menabung. Jika pun harus pinjam duit ke teman, statusnya ya terpaksa banget. Jauh-jauh deh utang untuk kebutuhan konsumtif.

Namun ketika akhirnya berumah tangga dan menginginkan sebuah rumah, maka mau tak mau kami harus berutang ke bank. Jika menunggu uang terkumpul hingga mampu membelinya secara tunai mau sampai kapan. Jangan-jangan harga rumahnya sudah naik berkali-kali lipat.

Harga rumah di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia memang naiknya sudah terasa kurang wajar. Kenaikannya lebih tinggi dan lebih cepat dibandingkan kenaikan gaji.

Aku masih ingat waktu membeli rumah itu di kawasan Jakarta Timur sekitar Rp 350 juta. Setahun kemudian rumah di kawasan kami yang lebih kecil terjual di kisaran Rp 400 jutaan. Tujuh tahun kemudian harganya makin melambung hingga mencapai Rp 1Miliar. Busyet deh. Padahal itu satu lantai. Yang dua lantai ditawarkan sekitar Rp2-3M. Lokasinya? Bukan di Jakarta pusat lho, agak pinggiran, meski masih masuk Jakarta.

Gimana kalau rumahnya dijual kemudian membeli rumah di Depok atau yang lebih kecil? Wah bisa-bisa malah tidak dapat dengan harga segitu dengan spesifikasi yang sama.

Dulu puyeng banget untuk urusan membeli rumah. Bagaimana uang mukanya, cicilannya dan sebagainya. Terpaksa pinjam kakak, orang tua juga ke bank.

Waktu itu angsurannya dobel karena juga mencicil kendaraan. Kalau bayangin masa-masa dulu bagaimana susahnya atur keuangan, rasanya begitu berat dan belum tentu saya sanggup melakukannya lagi.

Akhirnya Rumah Lunas
Hari yang ditunggu itu akhirnya tiba. Bulan itu bulan terakhir kami mencicil pinjaman. Wah setelah masalah cicilan itu selesai rasanya beban di pundak itu sirna. Lega banget.

Berbulan-bulan kami merasa agak sesak nafas dalam mengatur keuangan. Setelah utang lunas, hore kami bergembira. Rumah ini akhirnya benar-benar milik kami.

Saat ini uang yang biasanya jadi cicilan bulanan itu kami alokasikan untuk ditabung. Senang akhirnya kami punya tabungan juga. Ke depan kami berencana memiliki tabungan darurat. Setelah itu baru kami memikirkan rencana keuangan jangka panjang.

Berutang untuk rumah dan hal-hal produktif itu sulit dihindarkan untuk saat ini. Memiliki rumah dengan cicilan jauh lebih nyaman daripada mengontrak terus-terusan.

Berutang itu kadang diperlukan. Tapi memang jauh lebih nikmat menabung daripada berhutang.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 8, 2018.

6 Tanggapan to “Udara Terasa Lebih Segar Saat Semua Angsuran Lunas”

  1. Selamt ya mbak udah lunas cicilannya. Jangankan nyicil rumah aku nyicil kendaraan motor bebek aja udah sesak nafas. Apalagi nyicil rumah bisa bengek mungkin hehehe.. Tapi setelah lunas bagai hidup di pegunungan dengan udara yang sejuk. 😁😁😁😁

  2. Wah selamat ya mba, akhirnya cicilan rumahnya kelar. Semoga jadi makin rajin nabungnya.

  3. Aku baru mulai nyicil rumah mba, berasa banget ketar ketir ngatur keuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: