Agar Citarum Tetap Harum dengan Kombinasi Teknologi GIS dan Surveilans

Jika mendengar kata sungai Citarum apa yang terlintas di benak Kalian? Kalau aku sebagai penyuka hal-hal tentang sejarah nusantara, aku langsung terkenang akan sejumlah prasasti yang ditemukan di sekitar sungai Citarum. Prasasti peninggalan kerajaan tua bernama kerajaan Tarumanegara. Di sekitar sungai Citarum inilah diperkirakan berabad-abad silam bertahtalah sebuah kerajaan besar bernama Tarumanegara. Ini menunjukkan betapa pentingnya peranan sungai Citarum pada zaman dulu, masa kini, dan masa mendatang.

Nama sungai Citarum berasal dari dua kata, Ci dan Tarum. Ci diartikan sebagai air dalam bahasa Sunda. Sedangkan Tarum memiliki makna sejenis tanaman yang berwarna nila. Entah kenapa sungai ini disebut air berwarna nila. Namun, bisa jadi hal ini dikarenakan warna nila atau indigo ini adalah termasuk warna purba dan salah satu warna yang bersifat sakral.

Sungai sepanjang sekitar 290 kilometer ini melewati berbagai kabupaten di Jawa Barat, seperti kabupaten Bandung, kabupaten Purwakarta, kabupaten Karawang, dan kabupaten Cianjur. Sungai ini berawal dari Gunung Wayang yang terletak di Kabupaten Bandung dan bermuara di kabupaten Karawang.

Sungai Citarum ini sudah ada sejak jaman prasejarah. Hal ini ditandai dengan beragam peninggalan manusia jaman pra sejarah seperti tulang binatang, cangkang siput, pecahan gerabah, dan sekitarnya di sekitar sungai Citarum. Kehadiran artefak tersebut menunjukkan bahwa manusia purba sempat tinggal di sekitar sungai Citarum.

Peranan sungai Citarum ini kemudian semakin besar pada masa kerajaan Tarumanegara, kerajaan Sunda, dan kerajaan-kerajaan selanjutnya. Sungai ini mulai digunakan sebagai sarana irigasi pada masa pemerintahan Maharaja Purnawarman. Tidak hanya berfungsi sebagai sumber pengairan bagi sawah-sawah, sungai Citarum juga memiliki fungsi sebagai batas wilayah, sumber air minum, dan sarana transportasi.

Terkait dengan fungsi batas wilayah ini, kerajaan Sunda dan Galuh pernah menetapkan bahwa daerah sebelah barat sungai Citarum merupakan wilayah kerajaan Sunda, sedangkan daerah sebelah timur menjadi wilayah kerajaan Galuh, sebelum keduanya kemudian kembali bersatu. Batas wilayah dengan menggunakan sungai Citarum kemudian juga digunakan antara kesultanan Cirebon dan kesultanan Banten; juga antara kabupaten Cianjur dan kabupaten Bandung. Sementara itu, sebagai sarana transportasi, sungai Citarum menjadi penghubung antara daerah pesisir dan kawasan pedalaman sejak jaman kerajaan Sunda hingga jaman kolonial Belanda. Ini membuktikan bahwa sungai Citarum merupakan penggerak perekonomian pada masyarakat jaman dulu.

Permasalahan Sungai Citarum Kini
Jika dulu nama sungai Citarum harum dengan multifungsinya, sebagai sumber air minum, habitat flora dan fauna, sumber irigasi, dan sarana transportasi, maka sejak tahun 2000-an nama sungai Citarum mulai tercoreng. Akibat semakin banyaknya penghuni di sekitar sungai, pencemaran oleh limbah rumah tangga dan limbah industri, penggundulan hutan, dan juga tata ruang yang tidak berwawasan lingkungan, maka sungai Citarum menjadi bukti kerusakan lingkungan karena ulah manusia yang sembrono.

Berita-berita buruk mewarnai sungai Citarum, mulai dari banjir yang melanda berbagai kawasan setiap tahunnya, warga yang mengalami penyakit kulit dan sesak nafas karena terkena luapan air Citarum, ikan-ikan yang mati, spesies biota air tawar yang makin berkurang, hingga disebut-sebut sebagai sungai paling tercemar di dunia sejak tahun 2007. Fiiuuuuh buruk banget ya citra sungai Citarum. Bahkan pada tahun 2013, Citarum masuk nomor tiga The World Worst 2013: The Top Ten Toxic Threats yang dirilis oleh Blacksmith Institute dan Green Cross dari Swiss.

Problematika sungai Citarum masih terus terjadi hingga kini. Sampah rumah tangga dan limbah industri masih menjadi penyebab utama pencemaran air tak kunjung berhenti. Masyarakat tak ada rasa segan dan peduli untuk terus membuang limbah rumah tangganya termasuk sampah plastik dan botol ke dalam sungai seolah-olah sungai adalah tempat sampah besar. Industri-industri besar di sekitar sungai Citarum juga tak mengindahkan etika lingkungan, dengan seenaknya membuang limbahnya tanpa pengolahan terlebih dahulu sesuai regulasi. Jika ini terus dibiarkan maka air sungai Citarum akan menjadi racun yang sangat berbahaya dan mematikan bagi seluruh makhluk hidup, baik bagi manusia, maupun flora dan fauna yang hidup di dalamnya.

Sungai Citarum makin kotor (sumber: tribun)

Kepedulian Agar Citarum Kembali Harum
Sebenarnya, masih banyak warga yang peduli dengan kelestarian sungai Citarum. Mereka yakin suatu saat Citarum kembali bersih sehingga kembali berfungsi dengan semestinya. Untuk itu kemudian hadir Maung Siliwangi yang melakukan aksi bersih-bersih sungai dengan sukarela. Masyarakat di sekitar juga mulai melakukan kolam resapan untuk menampung air hujan, melakukan penanaman pohon di sekitar sungai, dan melakukan pertanian dan perikanan yang ramah lingkungan. Namun sayangnya, masih banyak industri yang tidak kapok membuang limbahnya. Mereka dengan licik membuang limbah tersebut pada malam hari.

Denda dan hukuman terhadap industri-industri yang bandel dalam urusan mengolah dan membuang limbah ini mungkin terlalu ringan dan longgar. Mereka terus-terusan dan tidak kapok melakukan perbuatan yang merusak lingkungan. Perlu hukuman berat dan ketegasan dari pemerintah sehingga memberikan efek jera. Lebih baik lagi jika industri yang masih membuang limbah tanpa pengolahan dihukum dengan dicabut hak beroperasinya, karena upaya untuk mengembalikan lingkungan ke kondisi sediakala sangatlah berat dan perlu waktu lama.

Sementara itu, pemerintah juga harus sabar dan konsisten dalam memberikan sosialisasi kesadaran akan pentingnya hidup bersih kepada masyarakat yang tinggal di sekitar sungai Citarum. Mereka perlu disadarkan keutamaan sungai bagi kehidupan mereka, betapa pentingnya sungai untuk mereka dan generasi pada masa datang.

Saya juga mendukung penuh upaya para peneliti yang berupaya memberikan kontribusi untuk kelestarian sungai Citarum. Penelitian tersebut beragam, seperti pengolahan air sungai Citarum secara terpadu hingga penelitian tentang mendeteksi pencemaran sungai sejak dini. Hasil-hasil penelitian ini sebaiknya didukung oleh pemerintah dan diaplikasikan sehingga tujuan Citarum harum ini tercapai.

Sistem Informasi Geografis dan Teknologi Surveilans Agar Citarum Kembali Harum
Berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya seperti yang dilakukan oleh pihak Insitut Teknologi Bandung (ITB), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Balitbang KemenPUPR dan sebagainya, maka sebenarnya sungai Citarum bisa kembali harum dengan mengaplikasikan teknologi, namun tentunya juga disertai dengan kerja sama dari masyarakat, industri, dan juga pengawasan dari pemerintah.

Teknologi-teknologi yang dihasilkan dari penelitian tersebut dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu teknologi pengolahan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair; teknologi deteksi dini pencemaran air sungai; dan yang belum banyak dikembangkan adalah teknologi sistem informasi geografis (GIS) untuk memetakan sungai Citarum.

Pengembangan teknologi untuk mendeteksi dini pencemaran air sungai dengan melibatkan unsur pengawasan dipadukan dengan teknologi sistem informasi geografis akan menjadi teknologi surveilans. Apa itu teknologi surveilans? Yaitu, teknologi pemantauan dari jauh secara terus-menerus dan sistematis dengan melibatkan analisis dan intepretasi data agar dapat dilakukan pengambilan keputusan.

Ketiga kelompok teknologi ini jika diintegrasikan akan menjadi sebuah teknologi terpadu yang cukup ampuh dalam menjaga kelestarian sungai Citarum. Teknologi ini bisa diaplikan secara bertahap ataupun secara paralel agar memberikan manfaat dan kontribusi yang besar bagi sungai Citarum.

Bersih-bersih Sungai Citarum (sumber; tribun)

Saat ini yang paling banyak dikembangkan adalah teknologi pengolahan limbah. LIPI telah mengembangkan teknologi pengolahan air limbah agar tidak mencemari sungai dan danau yang disebut teknologi nanobubble. Sedangkan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah menghasilkan sistem Bio-Filter yang dapat mengolah air limbah dengan efisiensi lebih dari 80 persen. Produk ini terdiri dari Biofil, Bio3, dan Biority yang dapat digunakan oleh kawasan pemukiman hingga kawasan yang lebih luas. Sementara itu, pihak ITB juga telah memiliki mesin pengolah bricket yang mampu mengolah sampah rumah tangga; bio-septi tank untuk mengolah limbah cair rumah tangga; dan teknologi bio-digester untuk mengolah limbah peternakan; serta pengembangbiakkan bakteri pemakan limbah yaitu immobilize alive petrophilic bacteria dan immobilize alive aerobic bacteria.

Untuk teknologi surveilans yang melibatkan deteksi dini pencemaran air sungai, ada Onlimo yang dikembangkan oleh BPPT. Onlimo ini menerapkan sistem pemantauan kondisi air sungai secara online dan realtime dengan melibatkan sensor-sensor. Data dari sensor ini kemudian dikirimkan ke logger baru ke pusat data dengan menggunakan SMS pada jaringan GSM. Jika terjadi pencemaran pada perairan maka munculah early warning system dan akan langsung terhubung ke pusat data. Selanjutnya, operator akan menghubungi pihak-pihak terkait agar permasalahan pencemaran tersebut dapat segera tertangani.

Agar sistem surveilans ini berfungsi dengan baik maka parameter-parameter terkait dengan pencemaran air ini harus dapat dipantau dengan baik oleh sensor-sensor. Parameter ini di antaranya kandungan oksigen, daya hantar listrik, total disolve solid, dan tingkat keasaman. Parameter ini bisa dikembangkan atau dibuat lebih detail agar hasilnya makin signifikan.

Sistem surveilans ini akan memberikan hasil yang lebih baik jika dikombinasikan dengan sistem informasi geografis sungai Citarum. Untuk menghasilkan sistem informasi geografis yang baik maka dilakukan pemetaan secara spasial sungai Citarum, dari hulu, hingga ke bagian hilir. Saat ini sudah dikembangkan sistem informasi geografis untuk ketahanan pangan, bencana alam, dan sebagainya. Untuk itu juga perlu dikembangkan sistem informasi geografis sungai Citarum agar kondisi tiap-tiap bagian sungai tersebut dapat diketahui tingkat pencemarannya dan kondisinya secara real time.

Dengan kombinasi teknologi surveilans dan sistem informasi geografis maka pada tampilan dashboard akan terlihat peta sungai Citarum dengan kondisinya. Warnanya bisa dibedakan apakah hijau berarti aman dan normal, kuning berarti hati-hati dan kondisinya telah hampir mencapai ambang batas normal, dan merah yang berarti telah terjadi pencemaran sungai. Dengan adanya dashboard dan kombinasi dua teknologi ini maka wilayah kejadian dan waktunya bisa diketahui dengan lebih tepat sehingga penanganannya juga akan lebih terarah.

Setiap manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Lingkungan yang bersih, asri, dan sehat akan membentuk manusia-manusia yang sehat dan berbudaya, demikian sebaliknya. Sungai Citarum pada masa lalu adalah sungai yang sangat penting dalam membangun sejarah nusantara. Sungai ini adalah warisan yang harus dijaga kelestariannya agar bermanfaat dan menjadi sahabat manusia saat ini serta pelindung manusia dan makhluk hidup lainnya pada masa mendatang. Yuk, bersama-sama ciptakan dan wujudkan sungai Citarum agar kembali harum.

Referensi:
• Berkat Video Dokumenter Bule Ini, Pemerintah Tergerak Bersihkan Sungai Citarum. Perdana, Putra Prima Perdana. Diambil pada 30/5/2018. [https://regional.kompas.com/read/2018/02/23/06135171/berkat-video-dokumenter-bule-ini-pemerintah-tergerak-bersihkan-sungai]
• Rekam Jejak Sejarah di Kawasan Citarum Purba. Binawanto Rendy Rizky. Diambil pada 30/5/2018. [https://travelnatic.com/rekam-jejak-sejarah-di-kawasan-citarum-purba/]
• Citarum Dulu dan Kini. Nandang, Rusnandar. Diambil pada 30/5/2018. [http://sundasamanggaran.blogspot.com/2010/03/citarum-dulu-dan-kini.html]
• Maung Siliwangi Bergerak, Akankah Sepanjang Citarum Jernih Lagi? Damarjati, Danu. Diambil pada 30/5/2018. [https://news.detik.com/berita/3900089/maung-siliwangi-bergerak-akankah-sepanjang-citarum-jernih-lagi]
• LIPI Tawarkan Dua Teknologi Atasi Pencemaran Air Jakarta. Dewi, Clara Maria Tjandra. Diambil pada 30 Mei 2018. [https://metro.tempo.co/read/1072151/lipi-tawarkan-dua-teknologi-atasi-pencemaran-air-jakarta]
• Teknologi Pengolahan Air Limbah Sistem Bio-Filter. Diambil pada 30 Mei 2018. [http://litbang.pu.go.id/berita/view/180/teknologi-pengolahan-air-limbah-sistem-bio-filter]
• Rekomendasi ITB: Aplikasi Teknologi Lingkungan Dalam Upaya Restorasi Sungai Citarum. Diambil pada 30 Mei 2018. [https://www.itb.ac.id/news/head
• Onlimo, Deteksi Pencemaran dan Banjir Secara Online. Mardiani, Dewi. [http://kelair.bppt.go.id/Berita/Data/01102010.htm]

Gambar dari Tribunnews

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 30, 2018.

2 Tanggapan to “Agar Citarum Tetap Harum dengan Kombinasi Teknologi GIS dan Surveilans”

  1. Sedih klo di indo..kotor melulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: