Langit Biru

oleh: @dewi_puspa00

“Ibu mengapa langit sekarang terlihat kelabu?” Anin menatap langit dari jendela yang terbuka. Kakaknya pun menimpalinya. “Iya, Bu, kenapa langit kelabu ya? Selama ini kupikir mendung tapi hawa panasnya bukan main”. “Juga bau, bikin sesak nafas!” tukasnya.
Ibu tersenyum mendengar pertanyaan kedua anaknya. Ia ikut-ikutan mendekati jendela dan menatap langit yang sejak kapan tak lagi biru cerah.
Ia kemudian memandangi kedua anaknya. Anindya si bungsu, baru berusia empat tahun tapi ia sangat cerdas dan jeli untuk ukuran anak seusianya. Sedangkan Kanda, anak sulungnya yang berusia 10 tahun, sangat gemar bermain.

Awalnya Kanda gemar bermain bola bersama kawan-kawannya di lapangan mungil tak jauh dari rumah. Lokasi lapangan itu di pinggir jalan raya, dengan hanya dibatasi oleh tembok setinggi 1,5 meter.

Ia sering memeringatkan putranya untuk berhati-hati selama bermain. Kalau bolanya keluar lapangan dan masuk jalan raya, mending tidak perlu diambil, berbahaya, Nak, pesannya.

Kini sudah hampir sebulan Kanda tidak lagi bermain di lapangan tersebut. Bukan karena bolanya habis keluar lapangan dan masuk jalan raya, melainkan Kanda pulang dan mengeluh merasa pusing, mual sesak nafas dan kemudian batuk-batuk.

Dokter berkata itu gejala umum jika lama terpapar polusi udara. Apalagi polusi udara semakin parah di langit Jakarta belakangan ini. Kemacetan sudah melebihi jam-jam sibuk, jumlah kendaraan bermotor sudah melampaui kapasitas jalan. Pencemaran udara ini salah satunya diperparah oleh emisi kendaraan bermotor yang tinggi.

Ia mengangguk-angguk mendengar penjelasan dokter. Setiba di rumah, ia menjaga Kanda agar benar-benar beristirahat, banyak minum air putih, menyantap buah-buahan, dan meminum obat. Ia melihat ke arah langit dari jendela. Langit Jakarta memang kurang bersahabat dan semakin kurang ramah. Kelabu seperti langit yang sedang mendung.

Langit kelabu ini dikarenakan langit terpapar oleh emisi kendaraan bermotor. Apalagi di Jakarta pengguna bahan bakar dengan RON rendah masih mendominasi. Pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar ber-RON rendah ini menghasilkan emisi yang sangat tinggi.

Emisi gas buang ini terdiri dari karbon monoosida, nitrogen oksida, hidro kabron, dan karbon dioksida. Mereka yang terpapar racun karbon monooksida biasanya akan mengalami gejal sakit kepala, pusing, mual, muntah, dan sesak nafas seperti yang dialami Kanda. Nitrogen oksida juga tak kalah berbahaya, terutama kaitannya dengan organ paru-paru. Jika lama terpapar maka bisa asma dan bronkitis.

Ia menghela nafas. Polusi udara ini tak bisa dibiarkan. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Apakah cukup hanya dengan membatasi putranya bermain di lapangan? Sementara pengguna kendaraan bermotor ber-RON rendah tak makin berkurang, malah bertambah. Memang ada pertambahan pengguna yang menggunakan RON lebih tinggi, tapi dengan pertumbuhan jumlah kendaraan, hal tersebut kurang signifikan mengurangi tingkat pencemaran udara.

Kanda dan Anin kini lebih banyak di rumah membaca buku atau pergi ke taman bacaan. Hanya Minggu pagi mereka bermain di tanah lapang. Ia ada ide.

“Kanda, Anin, yuk ikut Ibu ke luar?” ajaknya
Keduanya berlarian mendekat. “Mau kemana, Bu?”
“Ke pasar penjual tanaman yuk!” Keduanya bersorak ikut serta.

Bertiga mereka naik bajaj BBG menuju pasar bunga. Di sana ia memilih-milih tanaman yang bisa menghisap polutan. Ada lidah buaya, sri rejeki, lidah mertua, dan berbagai tanaman hias lainnya. Kata penjualnya tanaman tersebut cukup manjur dalam menghisap racun udara. Tanaman anti polutan, bahasa kerennya.

Hingga sore hari kemudian ketiganya sibuk bertanam. Tanaman-tanaman itu tertata rapi di halaman menambah keasrian halaman. Ketiganya menatap puas hasil pekerjaan mereka. Langit di sana masih kelabu, tapi hawa di sekitar rumah mulai lebih segar berkat tanaman-tanaman tersebut. Ibu merasa lega. Anak-anak bisa bermain di halaman sebagai pengganti sementara bermain di lapangan.

@dewi_puspa00/Anggota Persatuan Penulis Indonesia
Gambar dari: pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 30, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: