“Lima”, Film Keluarga dengan Sisipan Nilai-Nilai Pancasila

Lima memiliki pesan moral yang kuat dibalut dengan cerita keluarga yang hangat. Itulah kesanku usai menonton film berjudul Lima. Filmnya mengandung nilai-nilai dari Pancasila, namun ditampilkan seperti keseharian, tanpa terkesan berat.

Film besutan lima sutradara ini kutonton bertepatan dengan peringatan hari lahir Pancasila. Lima memang sengaja dihadirkan untuk memeringati hari lahirnya dasar negara Indonesia tersebut. Ada berbagai pro kontra terkait film ini, terutama tentang penetapan Lembaga Sensor Film bahwa film ini masuk kategori 17 tahun ke atas, bukannya 13 tahun ke atas. Aku jadi makin penasaran, ada apakah dengan kontennya?

Film Lima bercerita tentang sebuah keluarga yang anggota keluarganya menganut agama berlainan. Ada tiga bersaudara, Fara (Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama), dan Adi (Baskara Mahendra). Ayah mereka telah meninggal, kini Ibu mereka, Maryam (Tri Yudiman) yang berpulang. Ketiganya terpukul, terutama si bungsu Adi. Fara sebagai anak tersulung pun segera menguasai diri dan memimpin upacara pemakaman.

Ibunya dulu semasa hidupnya berganti agama saat menikah. Ketika suaminya meninggal, ia pun kembali menjadi muslim. Fara tahu akan ada riak-riak kecil pada saat pemakaman Ibunya ini. Ia mencoba untuk memberikan ruang ke berbagai pihak, termasuk kepada keluarga ayahnya yang berniat memberikan penghormatan terakhir seperti adab mereka.

Kepergian ibunya memberikan ruang kosong bagi ketiganya, apalagi ketika masing-masing mendapat masalah. Fara dihadapkan pada dilema untuk memilih anak didikannya maju ke Pelatnas; dengan tanpa memperhatikan ras; Aryo harus menelan kekecewaannya dalam karirnya; dan Adi yang kerap dirundung di sekolahnya berusaha untuk lebih berani bersuara. Sementara itu, Bi Ijah, asisten rumah tangga yang setia menemani keluarga mereka, rupanya juga memiliki masalah tersendiri. Apakah mereka mampu menyelesaikan masalahnya?

Film Lima dan Pancasila
Tidak mudah menggabungkan ide dari lima sutradara dalam sebuah film. Film ini juga bukan film keluarga biasa karena diharapkan dapat merangkum nilai-nilai dalam Pancasila. Oleh karena film ini bukan jenis film propaganda ataupun film dokumenter, tentunya ceritanya harus dikemas padat dan ringan. Itulah tantangan yang dihadapi oleh Lola Amaria, Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo. Dan, menurutku mereka berhasil.

Oh ya apakah Kalian masih ingat dengan kelima sila yang menjadi dasar negara? Apakah Kalian juga masih ingat butir-butir tiap sila tersebut?

Pancasila terdiri atas lima sila yang menjadi dasar negara dan pedoman hidup sehari-hari. Kelima sila itu adalah Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kelima sila ini sebenarnya tidak sulit dihafalkan, namun yang lebih sulit adalah pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari. Apakah Kalian bangga sebagai bangsa Indonesia, berani membela kebenaran dan keadilan, menghargai hasil karya orang lain, dan sebagainya seperti tuntunan dalam butir-butir Pancasila?

Inilah yang menarik dalam film ini. Bagaimana butir-butir dalam tiap sila masuk ke dalam adegan dan dialog dengan nuansa yang mengalir. Setiap sila digarap oleh satu sutradara sehingga kerja sama antar tiap sutradara dalam menyampaikan ide dan merajut kisah sangatlah penting.

Film ini memiliki plot yang dinamis. Ada berbagai bumbu cerita yang terinspirasi dari kejadian nyata dan relevan dengan kondisi saat ini. Para sutradara rupanya tak ingin berkutat pada bumbu-bumbu tersebut, namun lebih fokus ke hubungan tiga bersaudara tersebut.

Tentang pengkategorian 17 tahun ke atas menurutku kurang berdasar. Filmnya menurutku masih bisa dinikmati dan dipahami oleh mereka yang berusia 13 tahun ke atas. Tentang pengaplikasian sila pertama dalam film juga ada di keseharian, sehingga bisa dipahami oleh mereka yang masih duduk di bangku SMP. Aku sendiri merasa puas dan senang akan film ini, melebihi ekspektasiku. Kawan-kawan yang juga ikut nobar bersama Sahabat Blogger dan Shopback ID juga merasa puas.

Akting para pemainnya juga nampak natural. Yoga Pratama yang namanya menjulang sejak tampil di Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, semakin menunjukkan kualitas aktingnya. Prisia juga semakin matang berakting. Sedangkan Baskara Mahendra yang berperan sebagai Adi tergolong pendatang baru yang potensial. Lola Amaria rupanya juga mempertahankan pemain dalam film Jingga yang juga besutannya, untuk tampil dalam film ini, Aufa Assegaf. Ia memang salah satu pemain yang berkarakter.

Di antara kelima sutradara tersebut, aku paling familiar dengan nama Lola Amaria. Aku telah menonton dua filmnya sebelumnya, Minggu Pagi di Victoria Park dan Jingga. Ia sosok sutradara yang idealis dan berani menyuarakan gagasannya. Aku lebih suka dengan ide cerita dalam film Jingga, namun secara keseluruhan film Lima menunjukkan peningkatan kualitas Lola dalam kancah perfilman nasional. Nama kedua yang kukenal adalah Adriyanto Dewo yang berkat film Tabula Rasa berhasil meraih piala citra. Aku sendiri tidak tahu bagian mana yang disutradarai oleh Lola, ataupun oleh Adriyanto, dan kawan-kawan sutradara lainnya, tapi mereka berhasil membuktikan nilai-nilai Pancasila bisa dimasukkan ke dalam film dan tetap menarik untuk disimak.

Detail Film:
Judul : Lima
Sutradara : Lola Amaria, Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo
Pemeran: Prisia Nasution, Yoga Pratama,Baskara Mahendra, Tri Yudiman, Dewi Pakis, Ken Zuraida, Alvin Adam, Aufa Assegaf.
Genre : Drama
Skor : 7.2/10
Gambar dari: satu | dua | tiga

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 4, 2018.

38 Tanggapan to ““Lima”, Film Keluarga dengan Sisipan Nilai-Nilai Pancasila”

  1. Film ini membantu generasi zaman now memahami nilai-nilai Pancasila secara nyata

  2. Film ini tematik banget, cocok diputar dlm rangka hari kelahiran Pancasila

  3. Efek lama sudah gak pernah nonton bioskop, liat review film LIMA ini bagus banget ya mbak. Penasaran aku jadi pengen nonton deh

  4. Judul filmnya unik karena menggambarkan 5 sila dalam pancasila dan disutradarai oleh 5 orang sutradara.

  5. jadi penasaran deh pengen nonton film ini juga..

  6. Wah, keren juga ya filmnya digodok oleh 5 sutradara. Konsep yang diangkat juga menarik nih.

  7. Dari kelima sutradaranya, aku cuma tahu Lola Amalia aja. Salut sih di tengah persaingan dunia film yang mungkin lebih banyak berkutat di komedi dan percintaan, kelima sutradara ini berani mengangkat tema yang berbeda. Apalagi tema yang diangkat tentang Pancasila, tentu tidak main-main ya. Kepingin nonton ini pas nanti libur Lebaran ah.

  8. Dari kemaren banyak banget yg ngajak nonton film ini tapi waktuku bentrok mulu..
    Lola memang sutradara idealis yg gak.mau disetir oleh selera pasar. Two thumbs up for her!

  9. Pingin banget nonton film ini. Apa daya kelewatan jam tayang mulu

  10. Aku merinding pas nyanyi lagu kristiani itu. Kebayang nonton sendiri bisa nangis. Film yang mengesankan buatku.

  11. Nonton ini banyak nilai – nilai yang membangun untuk para remaja. Dan yang daku suka adalah pas notarisnya datang ke rumah mereka, hahaha, asli itu kocak banget

  12. Nah gini dong film yg baik seharusnya menanamkan suri tauladan yg baik.rekomen ya mba, pengen nonton deh hehe

  13. Aku belom nonton nih, Cuma memang bener ya, terkadang pelm yang 17 tahun, masih saja banyak dinikmati oleh 13 tahunan..

    • Kalau untuk film ini konotasinya positif. Sebenarnya film ini bisa dan tidak masalah ditonton remaja 13 tahun ke atas tapi lembaga LSF memberikan kondisi 17 tahun ke atas sehingga lingkup pemasarannya jadi lebih sempit. Padahal kontennya aman dan semakin ditonton usia yang lebih muda maka mereka bakal lebih paham masalah keberagaman dan praktik nilai-nilai Pancasila lainnya.

  14. Film Lima berkesan bgt buat aku mbak. Mirip dgn kisahku

  15. Waaah baru ini kayaknya film indonesia yang melibatkan lima kepala dalam pembuatannya. Kalau membaca sinopsis ceritanya sepertinya bagus filmnya untuk menumbuhkan kesadaran keberagaman yang ada di Indonesia.

    Semoga industri perfilman Indonesia makin bagus ceritanya dan banyak penontonnya akan film berbobot.

  16. Filmnya sarat akan makna banget ya, duhh sayang aku belum nonton filmnya.

  17. Wah bagus banget film keluarga tapi tetep mengedepankan nasionalisme dengan nilai-nilai Pancasila ya. Keren jadi penasaran pengen nonton deh.

  18. Film ini menggugah memang mbak. Membuat kita berpikir. Idenya bagus.

  19. aku suka cara film ini memaknai Pancasila walau mungkin alurnya terlalu lambat ya. Tapi film ini bisa jadi rujukan utk pemutaran film di sekolah utk memaknai Hari Lahir Pancasila dan bisa jadi ruang diskusi di kalangan pelajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: