Kerja di Pos Internasional Tak Sewow Namanya

Suatu ketika aku mendapat giliran ditugaskan di pos bagian internasional selama seminggu. Rupanya ritmenya berbeda dengan tugasku selama di pos bagian kota yakni lifestyle dan hiburan. Lebih santai tapi juga lebih malam pulangnya.

Pos ini namanya keren yakni pos internasional. Isinya adalah berita-berita dari mancanegara. Meskipun namanya keren, aslinya pekerjaannya tak sewow yang kubayangkan.

Media tempat aku bekerja memiliki kontributor di luar negeri. Namun kontributor itu tidak selalu mengirim berita. Aku tak tahu statusnya apakah statusnya masih jurnalis ataukah warga biasa yang mengirim cerita-cerita keseharian di tempat ia tinggal.

Kadang-kadang kami juga ditugaskan ke luar negeri, baik untuk meliput acara penting maupun berdasarkan undangan. Yang paling dimanjakan adalah pos olah raga. Hampir setiap even penting olah raga, seperti olimpiade, Formula I, maupun piala dunia ada yang diberangkatkan. Ada juga yang ikut rombongan Presiden kunjungan ke luar negeri. Aku sendiri pernah ditugaskan berdasarkan undangan. Waktu itu aku mendapat tugas meliput acara selama tiga hari di Singapura atas undangan salah satu raksasa properti di sana.

Cerita yang membuatku takjub adalah cerita seniorku yang pernah meliput di kawasan perang. Ia harus ikut pelatihan militer dulu selama tiga bulan sebelum berangkat. Ia juga harus melapor ke kedutaan dan memahami prosedur keamanan di kawasan perang. Dari situ aku tahu bahwa menjadi wartawan perang itu tidak mudah. Taruhannya bisa nyawa.

Apa sih yang sebenarnya ingin kuceritakan?Intinya berita luar negeri sebagian besar hanyalah mengambil dari berbagai kantor berita. Kami tidak setiap saat melakukan liputan ke luar negeri karena biayanya besar dan ada berbagai risiko. Selain Antara, sumber berita internasional rata-rata dari CNN, AFP, AP, dan BBC. Tempatku bekerja berlangganan dengan kantor-kantor berita tersebut, jadi kami juga boleh menggunakan foto-foto mereka.

Lantas apa tugasku saat itu?
Seperti kusebutkan di atas, ritme bekerjaku berbeda. Aku datang ke kantor pukul 14.00 dan kemudian membaca berbagai berita mancanegara. Berita-berita tersebut kusortir mana yang paling krusial, mana yang masuk penting tapi tidak kritis, juga mana yang bisa masuk serba-serbi dan yang sifatnya menyenangkan.

Langkah selanjutnya aku membuat daftar berita-berita tersebut. Rekan kerjaku di pos tersebut juga melakukannya. Selanjutnya redaktur akan menentukan mana berita yang masuk headline, berita A, berita B, feature, dan serba-serbi. Bisa jadi melihat tingkat krusial berita maka berita internasional masuk headline berita utama, maka tentunya kami perlu tambahan berita lagi untuk jadi headline di halaman internasional.

Selanjutnya mulailah tugas kami yang sebenarnya. Aku mulai menerjemahkan berita tersebut. Biasanya aku mengumpulkan berita dari berbagai sumber agar lebih lengkap dan aku bisa mengetahui sudut pandang berita tersebut.

Tugas menerjemahkan ini agak riskan. Aku seringkali masih was-was apakah terjemahanku benar. Masa itu aplikasi penerjemahan tidak sebaik sekarang, sehingga aku lebih banyak menerjemahkan secara manual. Aku berbekal kamus oxford dan kamus frase. Sebenarnya aku agak minder karena aku bukan berasal dari jurusan bahasa Inggris seperti rekanku. Rasa deg-degan takut salah menerjemahkan ini dobel kuadrat.

Berita mancanegara itu dinamis. Kadang-kadang pada pukul delapan atau sembilan malam ada peristiwa besar. Oooh maka tugasku pun bertambah, menerjemahkan peristiwa itu dan mengubah susunan berita sebelumnya. Kadang-kadang yang sudah kuterjemahkan sebelumnya jadi tidak terpakai, ya karena mediaku saat itu lebih berfokus di cetak alias koran.

Deadline pos internasional lebih malam daripada pos bagian kota. Pada pos bagian kota tenggat waktu masuk percetakan maksimal adalah pukul 21.30. Sedangkan pos internasional tak jauh beda dengan berita utama yakni pukul 00.00. Kadang-kadang bisa jadi pukul 01.00 dini hari. Alhasil aku pulang larut malam.

Selama seminggu ritme biologis tubuhku pun kacau. Aku kesusahan untuk menjaga mataku terjaga hingga Subuh dan tidur setelahnya. Badanku jadi lemas. Ooh untunglah aku hanya ditempatkan seminggu di sana. Rupanya nama pos internasional tidak sedahsyat tugasnya. Tapi lumayanlah kemampuanku menerjemahkan jadi sedikit meningkat. Aku juga selama di pos internasional lebih banyak di belakang meja.

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 11, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: