Dalam Perjalanan Pulang, Laka dan Disambut Nero-Mungil

Perlu dua hari dari Banyuwangi menuju ke Jakarta via darat. Waktu itu aku pernah naik kereta, naik kereta Gumarang dilanjut dengan kereta Mutiara juga kenanya dua hari. Bisa sih hanya beberapa jam dengan naik pesawat. Hari kedua ini kami berdua start dari Surakarta.

Pasangan masih lelah sehingga kami berangkat pukul sebelas siang. Kami sarapan tak jauh dari hotel, nasi pecel dengan telur ceplok, kopi hitam dan teh hangat serta kerupuk. Makanannya kurang enak. Petugasnya tidak ramah dan harga makanannya sudah seperti di Jakarta. Nasi pecelnya dihargai Rp 15 ribu rupiah. Aku jadi kangen dengan masakan di dalam kompleks Baluran yang enak dan tarifnya tidak mahal.

Kami pun menuju gerbang tol Ngemplak kemudian menuju Salatiga dengan tol fungsional. Selanjutnya kami bertemu tol Solo-Semarang lanjut ke tol fungsional Semarang-Batang lanjut ke Pemalang.

Oh ya karena cahaya matahari masih ada maka aku baru ngeh jika ada bagian tol yang tanjakannya agak curam. Tanjakan Kali Kenteng, namanya di sekitaran Salatiga. Proses turun dan naiknya agak bikin deg-degan. Tapi karena arusnya kemarin tidak begitu ramai jadinya bisa ambil start dulu sebelum mobil menanjak.

Kami kemudian sempat istirahat di tol fungsional. Aku merasa mual, entah kenapa. Di rest area ini ada toilet, yang tetap dan portable. Juga ada mushola yang tak berkipas angin sehingga cukup panas. Lalu ada penjual makanan. Harganya lumayan mahal hahaha. Satu kopi susu dan es krim dihargai Rp 20 ribu. Padahal es krimnya biasanya Rp 3 ribuan dan satu sachet kopi hanya Rp 900-1000. Untung banyak nih. Tapi seram juga di rest area ini kalau malam karena lampunya masih terbatas. Sewa standnya juga mungkin mahal.

Perjalanan berlanjut ke Cirebon. Di Cipali setiap kali mendekati rest area kemacetan dadakan terjadi. Beberapa rest area sampai penuh, menyebabkan mobil berhenti sembarangan di bahu jalan.

Nah, di km 120-an kemarin terjadi kemacetan panjang. Eh rupanya ada kecelakaan mobil. Mobilnya rusak parah dan posisinya terbalik sembilan puluh derajat. Wah seram,kami harus berhati-hati.

Kemacetan terjadi lagi di sepanjang Cikampek di Karawang Timur dan Barat. Entah ada apakah. Kami pun memilih lewat jalan biasa, non tol. Eh aku baru tahu jika kota Karawang sekarang begitu bagus.

Kami hendak lanjut menuju gerbang tol Cikarang Timur. Kami melewati pinggiran sungai Karawang menuju Cikarang. Dulu sekitar sungai ini kata kakak ada berbagai warung remang-remang, tapi sepertinya sekarang sudah diberantas.

Jalan menuju Jakarta masih ramai. Kami pun tiba pukul dua dinihari. Senangnya disambut Nero lalu Mungil. Nero nampak sehat hanya kotor. Sedangkan Mungil sangat kurus dan jadi manja. Ia tak mau berpisah denganku semalaman.

Ah akhirnya aku tiba juga setelah hampir dua minggu melakukan Tour de Java, Jakarta-Malang-Jember-Banyuwangi. Hari Senin pekerjaan sudah menyambut.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 23, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: