Deg Degan Menginap di Baluran

Taman Nasional Baluran sejak lama masuk dalam destinasi impian. Rasanya aku ingin sekali mencicipi nuansa alam liar bak di Afrika. Impianku itu kemudian terwujud pada liburan lebaran. Aku pun merasakan pengalaman menginap semalam di Baluran. Salah satu pengalaman yang tak terlupakan.

Awalnya kami tak berniat menginap di Baluran. Oleh karena kami tibanya sudah jelang Ashar dan bayangin kami itu Taman Nasional Baluran sangat luas maka rasanya sayang jauh-jauh tidak eksplorasi sepuas-puasnya. Okelah kami menginap. Pesannya mudah, kami tinggal menghubungi pengelola lewat SMS. Beres dah.

Setelah menjelajah Savana, kami pun mendatangi pos penjaga untuk lapor jika kami sudah booking kamar. Wah rupanya wismanya bagus, melebihi bayangan kami. Wisma yang ada di savana ada tiga buah, dengan masing-masing memiliki 4-6 kamar. Ada yang kamarnya lebih luas ada juga yang harus menyewa satu wisma.

Kami memilih yang termurah. Tarifnya seratus ribu rupiah per malam. Kamarnya lumayan sih. Ada dua kasur tanpa lemari. Kamar mandinya di luar.

Awalnya kami ingin tidur di atas. Tapi karena tidak ada teman menginap lainnya dan kamar mandinya si bawah maka kami pilih di bawah. Sementara kamar yang lebih lapang di bawah tangga menyambutku dengan pintu yang membanting sendiri, membuatku merasa was-was.

Oke kami sudah memilih kamar. Waktu aku membawa koper ke kamar aku terkejut ada yang mengintipku dari jendela. Ooh rupanya para monyet. Duh bikin kaget saja.

Awalnya kami senang-senang saja. Setelah matahari terbenam kami baru menyadari bahwa penginap hanya kami berdua. Kaki sendirian. Tiga wisma lainnya juga kosong. Walah. Sementara itu ada aturan jika mulai pukul enam petang hingga pagi hari tidak akan ada listrik. Alias kami berdua bakal sendirian dengan gelap gulita. Waduh kok aku bayanginnya yang seram-seram ya. Masih masuk hutan lagi.

Aku memang penakut. Apalagi ada satu kamar yang beraura tidak enak. Duh gimana ya, apakah kami batal saja menginap? Hahaha.

Akhirnya ada solusi. Kami membayar duaratus ribu lagi agar lampu tak dimatikan. Hehehe niat banget ya. Mending kami nginap saja di Banyuwangi dengan tarif Rp 300 ribu. Tak apa-apalah jadi pengalaman.

Kami tetap sendirian. Tapi agak mendingan karena lampu tetap menyala. Yang kemudian jadi masalah aku tetap tak bisa tidur. Dasar penakut. Aku terus berdoa agar tak dapat gangguan.

Di luar terdengar suara hewan-hewan liar. Para monyet berebut dan berkelahi. Juga suara dari rusa, kerbau, dan hewan-hewan liar lainnya. Kami seolah-olah berada si alam liar. Hanya bedanya kami berdua terlindungi oleh bangunan yang kokoh.

Aku masih takut dengan khayalanku sendiri. Aku takut ada sesuatu yang turun dari tangga atau muncul dari kamar yang membuatku bergidik meski matahari masih bersinar. Ah dasar aku kebanyakan nonton horor.

Aku sulit tidur hingga pukul empat pagi. Aku bangkit dari tempat tidur dengan wajah sembab masih mengantuk. Sayang sudah jauh-jauh ke sini kalau hanya tidur, maka kami pun bersiap untuk berburu matahari terbit di Pantai Bama usai sholat Subuh.

Di pantai monyet-monyet menyambut kehadiran kami. Seolah-olah berkata wah ada juga manusia yang menginap di sini. Mereka berlarian mendekat tapi tak mengusik. Siapa tahu dapat sarapan pagi dari kami.

Menginap semalam di Taman Nasional Baluran benar-benar berkesan. Bikin deg-degan. Syukurlah kami tetap aman dan tak ada gangguan.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 3, 2018.

8 Tanggapan to “Deg Degan Menginap di Baluran”

  1. Mbaaa, Mbaaa, saya mau nanyananya tentang Baluran doooong, Mbaaaa ehehe

  2. Saya melihat dua kasur itu kok rasanya gimanaaaa gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: