Ngobrol Ngalur Ngidul Belitung

Aku kelihatan pendiam, tapi sebenarnya doyan mengobrol kalau bertemu topik yang seru. Lawan bicaraku juga bisa siapa pun. Tadi ketika jalan-jalan di pantai depan hotel, aku ngobrol dengan pembersih pantai, yang menyingkirkan daun-daun. Selama perjalanan menuju bandara aku ngobrol panjang lebar bersama pengemudi, cerita ngalor ngidul tentang Belitung.

Belitung lagi panas. Sangat terik sejak pukul sepuluh pagi. Memang musim panas eh musim kemarau sih.

Aku berjalan-jalan di pantai hotel dengan mengernyitkan mata meskipun sudah mengenakan topi. Silau.

Ketika berjalan-jalan, pembersih pantai menyapaku. Ia bercerita tentang laut yang surut pada pagi hari dan waktu-waktu ketika air laut mulai tiba. Aku tersenyum, bertahun-tahun lalu ketika ke Belitung aku juga sempat berjalan-jalan ke laut yang surut bahkan hingga ke berbagai pulau sekitar.

Cerita panjang lebar kudapatkan dari pengemudi kendaraan yang kupesan dari penginapan menuju Bandara. Namanya Ricky. Ia ternyata pendatang dari Jakarta yang beristrikan orang Belitung.

Aku pun ngobrol ngalur ngidul dengan pengemudinya. Pengemudinya seru, ia banyak cerita tentang sejarah dan wisata Belitung yang belum banyak diulik wisatawan. Menurut ia, cerita sejarah Belitung sama serunya dengan tempat-tempat wisatanya. Cerita tentang awal mula penambangan timah, disusul cerita tentang pertukaran Bangka-Belitung antara Inggris dan Belanda.

Ia bercerita ada yang namanya Bukit Tarsius. Lokasinya tidak begitu jauh dari Tanjung Kelayang. Di sini wisatawan bisa bertemu monyet mungil kayak di Manado.

Di Belitung ia bercerita jika ada sisi minusnya karena ada berbagai tempat pijat plus, yang menyediakan prostitusi. Walah. Ada juga kisah-kisah penambang timah liar yang masih ada sampai sekarang. Banyak yang belum paham jika aksi penambangan ilegal itu juga bisa membahayakan bagi kelestarian alam sekitar.

Ia juga berkisah tentang jalanan yang rusak dan tak kunjung diperbaiki. Ia juga tidak paham mengapa semakin banyak perkebunan kelapa sawit, menggantikan pohon kelapa. Padahal, pohon kelapa sawit itu tak banyak memberikan keuntungan ekonomis bagi warga sekelilingnya. Bukannya ada morotarium sawit, tapi kenapa lahannya semakin luas?

Hemmm pesawatku mau berangkat. Lain kali kulanjutkan ceritanya.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 27, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: