Maya, Saman, dan Klan Saduki

Buku Ayu Utami yang kukenal kali pertama adalah Parasit Lajang. Buku ini kocak, tentang perempuan yang enggan menikah hingga keluarga lelah menjodohkan dan membiarkannya. Buku berikutnya berjudul Larung yang merupakan kelanjutan dari Saman. Kupikir Saman dan Larung merupakan segmen tulisan Ayu tentang politik yang terpisah. Baru ketika membaca Maya aku terkejut, rupanya buku ini memiliki hubungan dengan Bilangan Fu. 

Aku kurang suka akan Larung. Aku memang kurang begitu suka dengan buku yang mengupas politik. Entahlah menurutku politik itu abu-abu. Dalam Saman dan Larung yang dikritisi adalah pemerintahan orde baru yang dianggap sebagai masa kelam bagi aktivis dan mahasiswa. Aku tak begitu paham karena masa itu aku masih belia. Tapi kupikir kondisi setelahnya dan setelahnya lagi juga tak ideal. Ah sudahlah aku lagi enggan membahas politik.

Saman dan Larung satu dunia. Saman adalah sosok aktivis yang dulunya calon pastor. Sedangkan Larung sosok pria misterus yang terlibat dalam pergerakan bawah tanah. Keduanya bertemu dan bekerja sama. Lalu keduanya menghilang ketika membantu menyelundupkan mahasiswa.

Sementara Bilangan Fu menceritakan tentang pencarian Yuda, mahasiswa yang gemar mendaki pada suara yang pernah ia dengar pada saat setengah tidur. Pencariannya membuatnya mengenal sosok pemuda bernama Parang Jati yang asal usulnya unik. Ia memiliki enam jari dan ayah angkatnya seorang pimpinan padepokan yang akrab dengan dunia mistis spiritual. Bilangan Fu kemudian punya dunianya sendiri dengan tokoh Yuda, Parang Jati, dan Marja. Aku sudah membaca buku kelanjutannya seperti Manjali & Cakrabirawa dan Lalita yang akrab dengan candi-candi.

Kupikir cerita itu tak bertalian dan beda dunia. Ternyata Ayu kemudian memberikan jembatan dalam buku berjudul Maya. Jika membaca kisahnya maka latar waktu cerita tersebut setelah Larung dan sebelum Bilangan Fu.

Cerita pada Maya bersentral pada Yasmin, yang merupakan kekasih gelap Saman. Ia merasa putrinya, Samantha, adalah putrinya dari hubungan gelapnya. Ia merasa gemetar ketika menerima surat dan sebuah batu dari Saman yang tak pernah ketahuan kabarnya lagi setelah peristiwa penyelundupan mahasiswa aktivis tersebut.

Ia kemudian memutuskan mencari tahu lewat padepokan yang terkenal. Ia ingin berkonsultasi dengan Suhudi, yang rupanya adalah ayah Parang Jati.

Rupanya konsultasinya berlangsung unik, tanpa ada suara sama sekali dan lewat tulisan. Ia meminta batu itu disimpan di padepokannya karena batu itu mengandung sesuatu.

Di sana Yasmin kemudian berkenalan dengan Maya. Perjumpaan pertama begitu mengejutkan karena Maya adalah anggota klan Saduki. Siapakah klan Saduki?

Maya seorang penari yang berbakat. Ia sering menunjukkan kebolehannya menari sebagai Sita dalam bayang-bayang seperti dalam pertunjukan wayang. Ia tak menarikannya secara langsung di hadapan penonton. Hal ini dikarenakan sosok dan wujudnya yang dianggap berbeda bagi manusia ‘normal’.

Ia pendek dan umum disebut cebol. Kulitnya albino dan rambutnya tipis transparan. Wajahnya tak bisa dibilang cantik.

Sedangkan temannya yang berperan sebagai Rama juga sama cebolnya. Wajahnya mengerikan sehingga ia disebut Tuyul karena mirip dengan sosok makhluk halus tersebut.

Anggota klan Saduki bersosok seram dan ganjil. Mereka dibuang sejak kecil dan dikucilkan masyarakat. Ayah Parang Jati yang memiliki rasa kasih kemudian menampung mereka, membuatkan rumah dan memberi pekerjaan di lingkungan padepokannya, sangat jarang terekpos oleh manusia. Ia tahu manusia awam bakal sangat kejam jika melihat mereka atau malah ketakutan.

Kadang-kadang mereka juga muncul di sirkus sebagai sirkus orang aneh, sirkusnya klan Saduki. Entah kenapa mereka muncul dan dipertontonkan.

Bagian klan Saduki ini membuatku membayangkan seperti apakah padepokan itu. Aku jatuh hati pada karakter Parang Jati. Dalam cerita berikutnya ia menjadi sosok pemuda yang cerdas dan bijak. Ia tak memiliki kemampuan spiritual seperti ayah angkatnya, tapi ia memiliki welas asih sama seperti ayahnya. Pengetahuannya tentang candi-candi Jawa Timur dan Jawa Tengah itu hal menarik yang dibahas dalam buku berikutnya.

Dibandingkan dengan kisah Saman, aku jadi lebih tertarik dengan kisah klan Saduki dan Parang Jati. Kenapa Suhudi kemudian mengangkatnya jadi putranya?

Oh ya aku belum masuk ke ulasan buku Maya, aku baru mengupas beberapa karakternya yang ternyata berkaitan dengan karakter buku-buku Ayu Utami lainnya.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 20, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: