Mengkritisi Bukan Mencaci

Era digital ini membuat warganet mudah untuk mengekspresikan diri dan memberikan opininya. Namun ada kalanya mereka lupa bahwa ketika di dunia maya, etika di dunia nyata juga perlu diterapkan. Jangan hanya karena merasa di dunia maya ia bisa menyaru sebagai anonim. Padahal kata-kata di dunia maya itu bisa menjadi senjata, atau malah jadi bumerang.

Dibandingkan satu dekade silam. Saat ini makin mudah dijumpai kata-kata kasar di ranah internet. Kata-kata itu tak disaring dulu. Lontaran kata itu disebut sebagai hak asasi untuk mengemukakan pendapat, padahal sebenarnya hak berpendapat itu juga perlu mengindahkan norma-norma dan dibatasi dengan kewajiban.

Saat ini yang lagi banyak dibahas adalah konteks memberikan kritik. Membuat ulasan buku, film, musik sebenarnya sudah jamak dilakukan sejak dulu. Kritik dan saran biasanya disampaikan di dalam ulasan tersebut. Namun di balik kritik tersebut biasanya disampaikan alasan-alasan ia memberikan opini seperti itu. Misalnya sebuah lagu dianggap buruk. Sebenarnya kurang pas jika kita hanya mencela lagunya buruk. Mengapa lagunya buruk? Apakah karena nadanya terlalu sederhana? Liriknya kurang bermakna? Atau karena warna vokal penyanyinya kurang pas?

Demikian juga dengan mengritik film. Ada yang memaki filmnya tidak layak ditonton dengan kata-kata yang tak pantas. Anehnya kata-kata tersebut malah disukai netizen dan dianggap kekinian. Sebuah film bisa disebut baik dan buruk tentunya ada ukurannya. Jangan hanya bilang saya tidak suka. Memang sih ada unsur subyektif dalam penilaian, tapi tetap perlu ukuran.

Misalnya filmnya dianggap kurang layak ditonton. Sudah mengeluarkan duit lumayan dapatnya film yang begitu saja, memang mengecewakan. Dianggap kurang layak misalnya ceritanya terlalu sederhana, akting dan dialog pemainnya kaku, eksekusi ceritanya banyak yang kurang masuk akal, ceritanya yang sudah kebanyakan, atau mengandalkan CGI tapi CGI-nya kasar. Ya itu beberapa poin yang menjadikan sebuah film tidak bagus. Tiap pembuat film tentunya akan menerima kritik itu untuk perbaikan. Tapi jika hanya memaki dengan sumpah serapah, apa yang sebenarnya bisa dijadikan sebagai pembelajaran?

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 1, 2018.

4 Tanggapan to “Mengkritisi Bukan Mencaci”

  1. Nahhh bener bangeeet
    Ditambah, org org yg di kritisi pun harus bisa menganggap kritik itu sebagai masukan, bukan malah balik marah marah waktu di kritik *eteteininyambungnggakya

    • Sependapat. Kritik dengan bahasa yang baik jangan dianggap serangan terhadap personal. Kritik diterima atau perlu disanggah dengan baik jika kritikannya tidak sesuai. Jangan begitu defensif dan juga membalasnya dengan caci-maki.

  2. Iya bener banget mba dew… kita harus bisa mengkritisi untuk membangun, bukan malah sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: