Tentang Masa Silam Bangsa

Indonesia mengalami pasang surut sejak bangsa ini merdeka. Kadang-kadang aku heran kenapa bangsa yang demikian besar ini dengan semangatnya yang menggelora dalam mengusir penjajah, mengalami berbagai peristiwa yang sebenarnya kontras dengan tujuan bangsa. Ada berbagai kisah sejarah yang membuatku terheran-heran dan berharap peristiwa itu tak terjadi. Tapi, ada pula kisah bangsa yang membuatku terharu akan semangat nasionalisme, juga ada kisah yang seolah-olah tertutupi.

Ya, aku masih ada rasa kurang menerima cerita tentang masa kelam candu di Jawa karena cerita ini sungguh kelam. Bagaimana dengan peredaran candu di Jawa, masyarakat jelata yang mencanduinya dan rela membelinya dengan uangnya yang tak seberapa. Aku ingin menuliskan cerita ini yang kubaca dari berbagai sumber. Di satu sisi aku nelangsa ketika mengingat dan melihat bukti sejarah yang tragis ini.

Kali ini aku ingin menyoroti tentang peristiwa setelah Indonesia merdeka. Pada saat itu Indonesia banyak mendapat cobaan dari serangan sekutu dan Belanda dengan agresi militernya. Kemudian pada waktu tersebut kelompok yang menyebut dirinya berideologi komunis juga berupaya merongrong pemerintah. PKI tak kapok melakukan pemberontakan setelah sebelumnya mereka melakukannya pada tahun 1926.

    • Agresi Militer Belanda I: 21 Juli – 4 Agustus 1947
    • Pemberontakan PKI ke-2: 18 September 1948
    • Agresi Militer Belanda II: 19 Desember 1948
    • Konferensi Meja Bundar: 23 Agustus – 2 November 1949
    • Penyerahan kedaulatan bangsa Indonesia: 27 Desember 1949

Cerita kemudian bergeser pada tahun 1950-an. Pada masa tersebut Indonesia mulai membangun. Industri perfilman nasional mulai menggeliat dengan ditetapkannya 30 Maret 1950 sebagai hari perfilman nasional. Kemudian Indonesia menggagas sebuah ide yang cemerlang untuk mendukung politik Indonesia yang bebas aktif dan menentang penjajahan. Maka kemudian lahirlah Konferensi Asia Afrika yang kental akan nilai spirit untuk bangga sebagai sebuah bangsa dan memunculkan rasa nasionalisme yang kuat. Namun malangnya, masih banyak berbagai pemberontakan di daerah seperti DI/TII, PRRI, Permesta, dan RMS. Aku tak tahu bagaimana Bung Karno dan pemimpin bangsa masa itu menyikapi berbagai gejolak dalam negeri ini.

  • Republik Maluku Selatan: 25 April 1950
  • DI/TII: 20 September 1953
  • Konferensi Asia Afrika: 18-24 April 1955
  • PRRI/Permesta: 1958-1961
  • Dekrit Presiden: 5 Juli 1959

Kisah Indonesia semakin warna-warni pada era tahun 1960-an. Berkat kesuksesan KAA maka kemudian lahirlah Gerakan Non Blok. Gerakan ini digagas oleh Josep Broz Tito (Presiden Yugoslavia), Soekarno (Presiden Indonesia), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), dan Kwame Nkrumah (Ghana). Sayangnya, entah kenapa kemudian Bung Karno bergeser dari ide-ide tersebut apalagi ketika Bung Hatta mulai meninggalkan karena sudah tidak sejalan. Berbagai peristiwa dalam negeri seperti pertentangan partai politik alias hawa politik yang panas, harga sembako yang tinggi, serta inflasi yang sulit dikendalikan, hingga kemudian lahir Dekrit Presiden pada tahun 1959.

Kemudian Indonesia mendapat peluang mengadakan Asian Games tahun 1962. Oleh karena Indonesia masa itu perekonomiannya hancur, maka Indonesia meminjam dana dari Uni Soviet. Saat itu Bung Karno entah kenapa makin condong ke blok Uni Soviet, mungkin karena ia ingin merangkul semua pihak. Plusnya, pembangunan yang kita rasakan sekarang buah dari persiapan Asian Games tersebut, seperti stadion GBK, TVRI, Simpang Semanggi dan sebagainya.

Cerita kemudian bergeser dengan Indonesia dilarang ikut Olimpiade 1965 karena tidak mengijinkan Israel dan Taiwan untuk ikut dalam Asian Games 1962. Buntutnya Indonesia mengadakan even olah raga raksasa menyaingi Olimpiade yakni Ganefo pada tahun 1963. Aku pernah melihat video dokumenternya dan terpukau dengan segala kemegahan dan jumlah pesertanya yang wow untuk masa itu. Ganefo atau Games of the New Emerging Forces diikuti sekitar 2000 atlet dari 51 negara Asia, Afrika, dan juga Amerika Latin.

Sementara itu, selama persiapan dan jelang even olah raga besar tersebut terjadi berbagai peristiwa seperti peristiwa Dwikora atau penolakan terhadap negara federasi Malaysia bentukan Inggris dan Trikora untuk menggagalkan pembentukan boneka Papua Barat. Aku merasa salut dengan bagaimana pemerintah masa itu bisa berbagi konsentrasi, melakukan serangan militer sambil membuat persiapan even yang megah. Oh ya bagi yang lupa, isi Trikora yakni: (1) Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda, (2) Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat, tanah air Indonesia, (3) Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa. Sedangkan isi Dwikora yaitu: (1). Perhebat ketahanan Revolusi Indonesia,(2) Bantu perjuangan revolusioner rakyat-rakyat Malaya, Singapura. Imbas dari Dwikora ini Indonesia keluar dari PBB pada 7 Januari 1965.

  • Gerakan Non Blok 1-6 September 1961, diadakan pertama di Beograd, Yugoslavia
  • Trikora: 19 Des 1961 – 15 Agt 1962
  • Asian Games 24 Agustus – 4 September 1962
  • Penyerahan Papua Barat ke Indonesia: 1 Mei 1963
  • Penolakan federasi Malaysia buatan Inggris: 25 September 1963-28 Mei 1966
  • Ganefo: 10-22 Nov 1963
  • Dwikora: 3 Mei 1964
  • Indonesia keluar dari PBB: 7 Januari 1965
  • Pemberontakan PKI: 30 September 1965
  • Surat Perintah Sebelas Maret:11 Maret 1966
  • Berdirinya ASEAN: 8 Agustus 1967
  • Penentuan pendapat rakyat: 2 Agustus 1969

Baru reda pemberontakan dan kegiatan yang melibatkan militer, kemudian terjadi peristiwa G-30 S PKI dimana banyak warga sipil dan yang sekedar ikut-ikutan kegiatan PKI menjadi korban. Aku ingat cerita ibuku ada beberapa tetanggaku yang sekedar ikut tanpa tahu itu adalah gerakan komunis, kemudian ditangkap sekian lama. Ketika aku menghadiri sebuah acara, rupanya korban ‘salah tangkap’ itu begitu banyak. Miris mengetahuinya. Setelah peristiwa pemberontakan tersebut maka kemudian terjadi perpindahan kepala negara, lahirlah ASEAN, kemudian diadakan Penentuan Pendapat Rakyat untuk mengetahui keinginan warga Papua Barat pada tahun 1969.

Oh ya aku menulis ini hanya sebagai pengingat bahwa ada banyak peristiwa yang terjadi di tanah air. Upaya untuk memecah kesatuan dan persatuan bangsa sudah terjadi sekian lama dan begitu banyak korban jiwa. Jangan sampai hal-hal buruk tersebut kembali terjadi.

Gambar: dokpri dan pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 3, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: