Selamat Tinggal Asian Para Games 2018

Akhirnya tadi malam (13/10) even langka Asian Para Games 2018 ditutup secara resmi. Ada perasaan sedih sekaligus gembira. Aku merasa sedih karena even seperti ini jarang terjadi dan pada momen tersebut begitu terasa persaudaraan sesama rakyat Indonesia mendukung atlet meraih prestasi. Di satu sisi bangga karena target 16 medali emas terlampaui dengan perolehan 37 medali emas, 47 medali perak, dan 51 medali perunggu. Sungguh luar biasa.

Dengan perolehan medali tersebut Indonesia mengukuhkan diri di peringkat kelima dari 41 negara. Sungguh prestasi mengagumkan.

Acara penutupan sendiri berlangsung sekitar empat jam di Stadion Madya Gelora Bung Karno. Masyarakat sudah ramai memadati lokasi acara sejak sore hari. Mereka penasaran seperti apa acara penutupannya. Apakah sewow pembukaannya? Ataukah seperti penutupan Asian Games 2018 lalu.

Akhirnya keinginantahuan masyarakat pun terjawab. Acara diawali dengan prosesi seperti kehadiran Momo, maskot Asian Para Games 2018, kirab bendera peserta, pengibaran bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan-sambutan, juga tarian yang menggambarkan kegembiraan.

Penutupan Asian Para Games 2018 Kurang Greget, Untung Ada Netral dan Cokelat

Acara penutupan Asian Para Games mendapat sambutan hangat dari para masyarakat. Mereka mengharapkan tontonan spektakuler seperti pada saat pembukaan Asian Para Games atau pada saat pembukaan-penutupan Asian Games. Mungkin karena lokasinya yang berada di stadion Madya dan sound system yang kurang bagus maka acaranya terkesan biasa saja, kurang greget dan di beberapa sesi agak garing karena ada jeda dan kosong.

Daniel Mananta dan Ary Kirana didapuk menjadi pembawa acara. Menurutku sih kehadiran pembawa acara ini tidak terlalu signifikan. Beberapa candaan mereka agak kurang pas, seperti yang mencandai penonton kelas festival yang harus terus berdiri. Apabila mereka duduk maka pandangan mereka terhalang. Saat jeda lumayan antara lagu satu dan lagu berikutnya juga mereka tak berupaya menutupi kekosongan tersebut.

Tarian Ability itu menarik. Hanya lagunya, Gangnam Style, sudah kurang populer. Kenapa sih dari kemarin temanya Korea melulu ya? Hehehe aku memang kurang suka sih lagu-lagu Korea. Lagu-lagu Indonesia banyak yang tak kalah keren seperti lagunya Dipha Barus atau sekalian lagu dangdut-EDM. Jangan salah lho pada acara Synchronize, banyak yang suka dengan musik dangdut. Pagelaran bang Haji Rhoma dengan Sonetanya juga Nasida Ria banyak mendapat sambutan hangat penonton.

Pada tarian yang menggambarkan ability dan keberagaman ini aku suka unsur ondel-ondel dan komodo raksasanya. Hehehe lucu dan kesannya Indonesia banget.

Untuk pidato, pidato dari Wakil Presiden dan Ketua INAPGOC biasa saja. Aku agak merasa kurang sreg ketika Ketua INAPGOC menggunakan kata ‘yang mulia’ bukan ‘yang terhormat’ untuk menyapa Wakil Presiden. Sudah dua kali ia menggunakannya. Biasanya kata ‘yang mulia’ lebih merujuk kepada raja dan hakim. Untuk sponsor dan kata nyolong itu kok kayaknya kurang pantas ya disampaikan di even internasional seperti ini.

Aku malah lebih mengapresiasi sambutan dari Presiden Komite Paralimpiade Asia (APC) Majid Rashed. Untaian kata yang disampaikan bagus dan tulus.

Dari segi hiburan rasanya kurang greget. Acara festival musik seperti Soundrenalin dan Synchronize aja bisa lebih baik, sound systemnya kurang bagus dan noise-nya terdengar. Para pengisinya juga terlihat banget lipsync terutama grup Korea, Ace of Angels. Duh buat apa ya undang mereka. Lagu-lagunya standar dan mereka seperti ogah-ogahan menyanyi dan menarinya. Lagi-lagi kenapa sih harus grup Korea?

Naura dan Zizi dengan Sang Juara serta Sheryl Sheinafia dan Claudia dengan Dream High memberikan warna karena merupakan dua lagu tema Asian Para Games 2018. Ketika masuk ke Judika dan Rio Febrian terasa aneh. Lagu-lagunya kurang pas karena lagu-lagu percintaan yang muram. Tiga lagu lagi fiuuh benar-benar bikin jenuh.

Untunglah ada Netral dan Cokelat. Alangkah lebih bagus jika Netral diberikan porsi lebih banyak. Mereka tampil live dan bikin stadion bernyanyi dengan Garuda di Dadaku. Sebagai penutup adalah penampilan band Cokelat yang kini vokalis dan drummernya berbeda. Mereka juga tampil live dan membuat panggung lebih semarak. Dua pilihan lagunya juga sebenarnya kurang pas. Luka Lama dengan aransemen anyar memang enak didengarkan, tapi sebenarnya kurang tepat untuk dibawakan di acara perayaan. Oh ya pertunjukan wayang raksasanya layak diapresiasi. Kehadiran mereka memberikan kelas tersendiri.

Di satu sisi acara penutupan kurang memuaskan, di sisi lain kerja keras para atlet, sukarelawan, dan panitia sungguh luar biasa dan patut diberikan pujian.

Gambar dari Detik ,Poskota, Tempo, Merdeka dan Kompas

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 14, 2018.

6 Tanggapan to “Selamat Tinggal Asian Para Games 2018”

  1. Aku smpat nonton bntar tp gak ampe slsai. Saat Pak JK pidato aku msh nonton,wlau ttp gak bgtu fokus. Btul, kurang greget sprti dirimu smpekan. Pun MC nya.

    Terlepas dr itu, capaian prestasi Atlet kita mmang ok, wlau mleset dr target, tp meleset ke atas melebihi target. Bangga dech kita, hee…

  2. Sayang ya. Mgk karena asian games sendiri sdh anti klimaks. Tapi mungkin terbentur anggaran juga.

    • Kayaknya terbendung anggaran ya, tapi agak sayang sih even besar sound system dan penampilnya kurang mantap. Padahal even musik lokal saat ini juga bagus-bagus, dari sound system dan kualitas penampilnya.

  3. jarang nonton tv jadi gak tau euy, di youtube ada gak ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: