Adakah Standar Menilai Karya Itu Bagus atau Buruk?

“Filmnya bagus, titik!” Aku tidak puas dengan jawabannya, aku kembali bertanya. Film bagus itu seperti apakah? Film bagus ya bagus, tidak perlu ada penjelasan detail untuk mendeskripsikan sebuah film bagus atau buruk. Benarkah sebuah hasil seni yang bagus itu ya sekedar bagus? Lantas, apakah ada standar untuk menilai sebuah film itu bagus atau buruk?

Ada yang bilang cantik itu relatif. Masakan enak atau tidak itu selera. Tapi ada juga yang berpendapat cantik itu memiliki standar, demikian pula dengan makanan agar bisa dinilai enak atau tidak.

Ketika aku memasuki kelas filsafat, salah satu dosen berkata jika sebenarnya ada standar untuk penilaian sebuah karya seni dan sebagainya. Dalam bidangku di teknologi informasi, ada ukuran untuk mengetahui apakah sebuah perangkat lunak itu berkualitas atau sebaliknya, apakah sebuah manajemen data di sebuah institusi bagus atau amburadul dan sebagainya.

Kembali tentang penilaian sebuah film, lagu, ataupun buku, menurutku penilaian terhadap karya tersebut terbagi dua, yang pertama adalah berdasarkan kriteria dan yang kedua berdasarkan subyektivitas. Penilaian pertama berdasarkan standar yang berlaku umum dan terdiri dari berbagai kriteria. Sifatnya obyektif. Sedangkan yang kedua umumnya terpengaruh oleh pengalaman, tendensi, ataupun latar lainnya seperti rumor.

Dalam sebuah film, apabila aku sedang membuat ulasan ada beberapa hal yang kucermati. Hal-hal yang biasa dijadikan patokan menilai kualitas film bisa dimulai dari cerita, ide ceritanya seperti apakah, tokoh-tokohnya, bagaimana sutradara mengeksekusi cerita tersebut dari babak awal hingga penyelesaiannya, apakah ceritanya masuk akal atau tidak dan sebagainya. Berikutnya ke unsur akting, apakah akting pemainnya natural, bagaimana akting satu pemain ketika berinteraksi dengan tokoh lainnya, apakah si pemain bisa lepas dari unsur kepribadian sehari-harinya dan melebur ke karakter yang diperankannya?

Kriteria penilaian lainnya bisa dari teknik pengambilan gambar, pewarnaan film, kostumnya apakah sesuai dengan jaman dan kultur yang diceritakan dalam film, editingnya apakah halus atau filmnya berkesan lompat-lompat, dan masih banyak hal-hal lainnya yang bisa dinilai dari sebuah film.

Penilaian sebuah karya musik juga bisa jadi agak berbeda. Bisa dimulai dari iramanya, kualitas lirik, kualitas vokal penyanyi, dan nuansa yang ditawarkan oleh lagu tersebut. Untuk sebuah buku bisa dinilai dari isi buku, diksi atau pilihan katanya, keterbaruan di dalamnya, temanya dan sebagainya.  Ya, sebuah karya seni untuk mendapatkan skor yang bagus bisa dinilai dengan berbagai ukuran.

Namun memang tak bisa dipungkiri terkadang ada faktor subyektivitas masuk dalam faktor penilaian. Misalnya aku tidak suka aktor A karena di dunia nyata ia pecandu narkoba. Atau aku terpengaruh oleh pendapat kelompok jika film A mewakili kubu tertentu, dan lain-lain. Faktor subyektivitas terkadang memang menjadi sebuah penilaian dan sebenarnya penilaian dengan melibatkan perasaan dan emosi ini tidak bijak dan tidak adil.

Kalau filmnya bagus ya katakanlah bagus. Apabila filmnya buruk, kritiklah, tapi jangan dengan sumpah serapah atau bahasa yang kasar. Aku lumayan sering dapat tiket gratis nonton film. Apabila memang ternyata filmnya buruk maka tetap kusebutkan filmnya kurang bagus dengan bahasa yang lugas, syukur-syukur aku bisa mendeskripsikan hal-hal yang membuat minus dalam film tersebut. Banyak pengundang yang dengan lapang dada terbuka akan penilaian, sehingga tak masalah apabila Kalian suatu saat diundang menyaksikan sebuah film atau pertunjukan dan merasa tak menyukai apa yang disajikan.

gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 14, 2018.

2 Tanggapan to “Adakah Standar Menilai Karya Itu Bagus atau Buruk?”

  1. Yep, sbnrnya penilaian atas sgla sesuatu itu memang ada standarnya, sprti yg Anda jelaskan itu. Dan faktor subyektifitas wlau gak fair justru sulit dilepaskan 😇😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: