Perlukah Menghapus Akun Media Sosial?

Komunikasi terus berkembang. Dulu memiliki pesawat telepon di rumah merupakan kemewahan tersendiri. Rasanya senang sekali ketika mendapat telpon dari seseorang, apalagi jika si penelpon adalah orang yang kita sayangi. Perasaan ini sama dengan ketika menerima kartu lebaran. Jaman kemudian berganti dengan pesan melalui SMS, aplikasi chatting seperti yahoo mesengger dan kemudian media jejaring. Aku menyukai komunikasi era modern ini tetapi kadang-kadang merindukan cara jadul seperti menerima telpon dan surat.

Kawanku sempat membuatku penasaran ketika berkata ia berniat menonaktifkan nomor ponselnya. Ia enggan menerima pesan SMS dan baginya itu membuatnya tercabut dari realita. Ia lebih ingin menikmati hidup dan menyesapi komunikasi secara nyata, lewat tatap muka atau lewat telpon.

Aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada dirinya. Aku sendiri terbantu dengan adanya SMS meskipun dulu masih mahal. Menelpon ke Malang dari Surabaya waktu itu tak murah. Aku sampai rela menelpon pagi-pagi sebelum pukul 06.00 atau malam hari di atas pukul 21.00 agar dapat tarif diskon. Dengan adanya SMS, jelas anggaranku berkomunikasi lebih murah.

Rupanya ia kemudian tak melaksanakan niatnya. Nomornya tetap ada dan kini kulihat ia sangat aktif bermedia sosial, melebihiku. Ia menunjukkan keeksisannya lewat media sosial, terutama instagram. Ya, seseorang bisa saja berubah.

Baru-baru ini aku membaca seseorang yang menonaktifkan akun instagramnya karena membuatnya depresi. Ia merasa iri dengan foto-foto liburan dan makan di tempat yang menarik. Ia berupaya mengikuti gaya selebragm yang diidolakannya dengan menggunakan uangnya untuk berfoto di tempat-tempat yang hits. Tapi rupanya ia kemudian kesulitan dari sisi modal. Ia pun merasa depresi dan memilih tak aktif lagi di media sosial.

Jika ada yang menghapus akun media sosialnya menurutku sah-sah saja. Mungkin ia memang merasa media sosial makin menjauhkannya dari dunia nyata. Mungkin ia tertekan membaca banyak komentar negatif karena itu menyedot energi positifnya.

Aku sendiri dulu tak aktif bermedia sosial.Ya hanya sekedar punya. Tapi ketika kemudian aku mengetahui jika media sosial bisa jadi lumbung uang, maka aku kemudian menggunakannya secukupnya agar terlihat tetap aktif.

Biasanya aku mengunggah status dan foto yang ada kaitannya dengan artikelku di blog, kadang dua hari sekali kadang seminggu sekali. Kadang-kadang aku juga mengikuti endorse ini itu. Tidak sering, sering kali hanya sebulan sekali, tapi itu lumayan dan menyenangkan.

Memiliki akun media sosial menurutku sah-sah saja. Masih ada sisi positifnya, malah lebih banyak manfaatnya daripada sisi negatifnya.Tapi memang media sosial harus dikelola dengan bijak. Oleh karenanya ada aturan pemilik akun harus berusia di atas 17 tahun. Seperti umumnya teknologi, semuanya ada dua sisi, tinggal ia memilih sisi terang atau sisi gelap.

Gambar: Pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 24, 2018.

6 Tanggapan to “Perlukah Menghapus Akun Media Sosial?”

  1. Untuk sementara, aku sendiri sdh me-remove IG, YM, dan Twitter. Tinggal fb dan WA.

    Aku sih setuju2 sja dg ide sprti yg Anda ulas di atas.

    Bagiku, smua tetap hrus ada porsinya, hrs berimbang. Sebab medsos ataupun teknologi, kan kita yg user-nya, jd jngn malah jadi korban medsos.

    • Aku dulu sempat menonaktifkan semua akun media sosial selain apps chatt seperti WA. Karena memang tidak merasa perlu waktu itu. Tapi kemudian aku melihat ada potensi di dalamnya, jadinya aku kembali pakai. Saat ini yang paling aktif facebook dan twitter tapi rata-rata untuk berbagi tautan artikel aja.

  2. Kalau saya memang tidak terlalu aktif untuk buat postingan di facebook atau instagra,, ada sejumlah media sosial yang menjadi pilihan, tapi keduanya itu paling hanya untuk sekadar iseng saja.

    Saya malah lebih sering di twitter atau menghabiskan waktu untuk membaca sesuatu yang lain. Saya pernah berpikir untuk menghapus atau menon-aktifkan facebook misalnya, hanya karena terlalu malas dengan postingan yang sering kali dibaca justru tidak bermanfaat. Tapi setelah tahu ada tombol unfollow, lini waktu jadi lebih bersih. Disikapi dengan lebih bijak bisa membantu kita tidak stres dengan media sosial.

    • Sepakat. Adanya unfollow tapi tetap berteman itu fitur FB yang membantu. Kadang kita malas membaca status kawan-kawan kita, apalagi yang sudah SARA, di satu sisi kita ingin tetap menjaga pertemanan. Di instagram juga mulai ada fitur senyapkan demi alasan pertemanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: