Kota Terakhir

Aku mengerjab-ngerjabkan mata. Aku memandang sekelilingku, mencoba mengenali tempat di sekelilingku. Aku sekarang ada dimana?

Aku bercerita ke kakak pernahkah ia merasa bingung dimana ia berada saat ini? Ia menganggukkan kepala. Kadang-kadang ia bertanya-tanya apakah saat ini ia ada di Malang. Ketika melihat di rumah itu hanya ada anak-anaknya dan suaminya baru ia benar-benar yakin ia ada di Cikarang.

Aku cukup sering bermimpi tentang rumah. Rumah itu susah kukenali karena menyimpan berbagai imaji tentang tempat-tempat yang pernah kutinggali. Aku juga kadang-kadang ketika membuka mata bertanya-tanya, ada dimana aku saat ini.

Mungkin perasaanku sama dengan mereka yang sering berpindah-pindah tempat tinggal atau sering menginap di berbagai tempat. Selama di Jakarta aku pernah tinggal di tujuh tempat. Masing-masing tempat itu kutinggali lebih dari sebulan. Aku masih bisa membayangkan bentuk rumahnya dan isi kamarnya. Semua tempat tinggal itu menyimpan cerita, ada yang lucu, senang, atau kombinasi menyenangkan dan susah.

Awal-awal tinggal di Jakarta, aku suka membandingkan antara kota ini dan dua kota yang pernah kutinggali lama, Malang dan Surabaya. Di Surabaya hawanya lebih panas, tapi cenderung cukup berangin. Sedangkan di Jakarta terik dan angin enggan berhembus. Bedanya lagi panas Surabaya bikin hitam, sedangkan di Jakarta malah sebaliknya. Ini yang susah dijelaskan. Oleh karenanya ketika aku berlibur di pantai aku tak terlalu cemas hitam, ketika kembali ke Jakarta, kulitku akan kembali ke warna semula secara perlahan-lahan.

Setahun pertama di Jakarta, aku merindukan tempat kosanku di Surabaya. Aku rindu makanannya yang murah, jalan-jalan yang biasanya kulewati, juga tempat-tempat dimana aku biasa singgah untuk mendapatkan berita.

Di Surabaya aku tidak sering berpindah. Hanya tiga kali berpindah tempat tinggal selama hampir enam tahun di sana. Di kota ini aku belajar bertahan hidup dan tumbuh dewasa.

Sama halnya ketika baru berpindah ke Jakarta, aku juga benci dengan iklim Surabaya yang terik. Kulitku menghitam dan aku tak tahan dengan panasnya yang sering membuatku berkeringat. Suatu ketika ada serangan hawa panas. Aku sampai mandi belasan kali karena tidak tahan dengan hawanya sementara di kamar kosku hanya ada kipas angin kecil.

Mungkin karena nomaden aku merasa ditantang untuk selalu mudah menyesuaikan diri dan berjuang untuk bertahan hidup. Masih banyak barang yang kutaruh dalam kardus dan penataan rumahku yang seperti ini seolah-olah menunjukkan aku bisa pindah kapan saja.

Aku masih suka bertanya-tanya, apakah kota Jakarta Timur ini akan menjadi kota terakhirku untuk menaruh akarku. Dulu aku mulai merasa daerah ini nyaman, tapi sejak pilkada lalu aku merasa lingkungan tempat tinggalku mulai condong ke satu kutub dan membuatku was-was.

Aku ingin yakin tempat tinggal sekarang menjadi kota terakhir. Tempat dimana aku bersama pasangan serta Nero dan kawan-kawannya hidup damai dan nyaman.

Gambar milik pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 7, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: