Aquaman Tak Persis dengan Animasinya, Tetap Asyik Disimak

Dua tahun lalu aku menonton animasi DC Comics bagian dari Justice League yakni awal mula sosok Aquaman (Throne of Atlantis). Ketika Aquaman kemudian diboyong ke layar lebar dalam wujud live action, aku pun tersenyum gembira. Tapi ketika melihat sosok Aquaman di Batman v Superman kemudian juga tampil di film Justice League, aku tertegun. Sosok dan penampilannya cukup berbeda dengan versi animasinya. Tapi secara keseluruhan Aquaman versi animasi dan versi live action sama-sama menarik.

Film Aquaman ini menceritakan kehidupan Arthur Curry (Jason Momoa) sebelum dan setelah menjadi Aquaman. Latar waktunya satu tahun setelah Justice League menghadapi pasukan yang dipimpin Steppenwolf.

Cerita dibuka dengan pertemuan Thomas Curry (Temuera Morisson) dengan perempuan misterius yang terdampar di karang saat hujan badai. Ia pun menolongnya. Rupanya perempuan tersebut seorang ratu dari lautan, Ratu Atlanna (Nicole Kidman). Keduanya jatuh cinta dan kemudian lahirlah Arthur. Namun, pasukan Atlantis terus mengejar Atlanna. Ia pun memilih kembali ke asalnya untuk melindungi suami dan putranya.

Cerita berlanjut ke Arthur kecil yang mampu berkomunikasi dengan hewan-hewan air. Ia dilatih dengan kepercayaan ibunya, Nuidis Vulko (Willem Dafoe) untuk berlatih berenang di lautan dan bertarung dengan senjata klasik Atlantis berupa trisula.

Konflik bermula ketika pemimpin Atlantis, Orm (Patrick Wilson) berupaya untuk menyerang manusia daratan karena merasa kesal laut tercemar oleh perbuatan manusia daratan. Ia juga merasa sudah waktunya manusia Atlantis menunjukkan keeksisannya.

Rupanya ia berkomplot dengan David Kane (Yahya Abdul-Mateen II), seorang bajak laut yang merasa dendam kepada Aquaman karena tak menolong ayahnya. Ia membuat seolah-olah manusia daratan menyerang penghuni lautan sehingga membuat Raja Nereus (Dolph Lundgren), ayah Mera (Amber Heard) berpihak kepadanya.

Agar tak terjadi pertempuran antara manusia daratan dan makhluk Atlantis, Mera meminta Aquaman yang telah dewasa (Jason Momoa) untuk bertindak. Namun agar dapat membuktikan dirinya sebagai penguasa lautan ia harus mendapatkan trisula sakti yang dijaga monster laut raksasa, Karathen di lautan yang dihuni kaum Trench, makhluk laut yang ganas

Ceritanya Lebih Ringan
Aquaman versi layar lebar ini memiliki cerita yang lebih ringan dan mudah dicerna dibandingkan dua film DC Comics lainnya, Batman dan Superman dengan versi teranyarnya. Dunianya lebih berwarna-warni, tidak sesuram dan semuram dunia dua kawannya. Skalanya juga lebih besar yakni tujuh lautan termasuk gurun Sahara yang disebutkan dulu merupakan samudera.

Plotnya mudah ditebak dan seperti film-film kepahlawanan pada umumnya. Versi layar lebarnya ini mengingatkanku pada konflik Thor dan adiknya. Memang sih biasanya cerita DC Comics dan Marvel sedikit mirip-mirip. Apabila dunia Thor menguasai sembilan jagat maka di sini disebutkan tujuh samudera. Keduanya sama-sama berkekuatan dewa dan dikisahkan perlu membuktikan diri sebelum mendapatkan senjata yang amat sakti. Keduanya juga nampaknya lebih banyak menggunakan fisik daripada olah pikir.

Melihat kiprah James Wan yang lebih banyak membesut film horor, film ini lumayanlah. Tidak bagus-bagus banget, tapi juga tidak buruk. Masih lebih rapi dan mengalir cerita awal mula Wonder Woman tapi jauh lebih bagus daripada Green Lantern. Tembang soundtrack-nya juga enak, demikian juga dengan skoring yang dilakukan oleh komposer Rupert Gregson-Williams yang juga membidani musik skoring Wonder Woman. Ada Africa-nya versi Pitbull (diciptakan dan dipopulerkan Toto), It’s No Good-nya Depeche Mode, Saeglopur-nya Sigur Ros, She’s a Mystery to Me, dan sebagainya. Ulasan tembang soundtrack-nya di sini.

Pemilihan Jason Momoa sah-sah saja. Penampilan sangar Jason mulai terlihat saat menjadi raja Dothraki di serial Game of Thrones yang brutal.

Agak Beda dengan Versi Animasi
Dalam versi animasi, Arthur belum bergabung dengan Justice League. Ia pemuda biasa yang juga tidak tahu ia sebenarnya putra dari ratu Atlantis.

Ia terlibat dalam konflik secara terpaksa. Ibunya yang baru dikenalnya dibunuh di depan matanya sehingga ia mengamuk. Saat menghadapi Black Manta dan Orm ia dibantu oleh Batman, Superman, Wonder Woman, Cyborg, dan Green Lantern. Di animasi tersebut sosok pemimpinnya adalah Green Lantern dengan cincinnya yang ajaib. Aquaman tidak bisa sendirian menghadapi pasukan adiknya dan Black Manta karena mereka sudah menyerang manusia daratan. Ulasan Throne of Atlantis di sini.

Beda rasa sih antara animasi dan versi film layar lebarnya. Dua-duanya aku suka.

Detail Film:
Judul : Aquaman
Sutradara : James Wan
Pemeran : Jason Momoa, Patrick Wilson, Nicole Kidman, Amber Heard, Willem Dafoe, Dolph Lundgren,
Genre : Superhero, laga
Skor : 7.9/10
Gambar: iMDB/Warner Bros

~ oleh dewipuspasari pada Desember 26, 2018.

5 Tanggapan to “Aquaman Tak Persis dengan Animasinya, Tetap Asyik Disimak”

  1. Baru tau nih ada 2 versi… seminggu yg lalu kira2.. mau nonton ini, tp krn bareng anak, jadi ga jadi deh… khawatir ga sesuai untuk anak hehe

  2. Apakah gue harus menonton?

  3. asca Wonder Woman, rumusan pembuatan film DCEU tampaknya berubah. Tak lagi melulu dark, namun lebih colorful dan fun.
    Ya, peran James Wan di Aquaman ini sangat berpengaruh, terutama di scene fighting yang ciamik memainkan gerak kamera., mirip sama Fast Furious 7.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: