Spider-Man: Into the Spider-Verse Lebih Segar dan Orisinil

Spider-Man termasuk sosok superhero yang cukup sering dilayarlebarkan. Untuk versi live action-nya sejak awal tahun 2000 sudah diperankan tiga aktor berbeda dengan cerita yang juga agak berbeda. Bagaimana jika kemudian Spider-Man dibuat dalam versi animasi dan ternyata sosok asli Spider-Man meninggal. Apa yang kemudian terjadi?

Film ini memiliki sudut pandang pada sosok remaja kikuk bernama Miles Morales. Ia berpindah sekolah ke tempat unggulan dan merasa ia tak cocok di situ. Ia lebih suka mengobrol dengan pamannya, Aaron Davis, daripada menghabiskan malam di asrama sekolah.

Pamannya suka mengajaknya membuat mural. Suatu ketika keduanya menuju kereta bawah tanah di bagian yang sepi. Miles asyik membuat mural. Di tempat tersebut ia disengat laba-laba yang mengandung radioaktif. Sejak itu ia sulit mengendalikan tubuhnya. Tangannya mudah melekat dan ia bisa bergerak tangkas. Kekuatan itu kadang muncul kadang lenyap.

Takut dengan kekuatan barunya itu ia pun kembali menuju stasiun kereta bawah tanah. Di sana ia malah melihat kejadian menyedihkan di sebuah laboratorium rahasia. Spider-Man dikeroyok oleh green Goblin dan Prowler. Ia nampak kewalahan melawan mereka sambil berupaya mematikan mesin.

Ia berusaha menghentikan niat para penjahat yang hendak-hendak bermain dengan gerbang dimensi. Mesin akselerator partikel itu bisa mengakses universe paralel dan terhubung dengan universe alternatif. Ketika ia merasa Miles dapat membantunya menyimpan benda yang penting ia pun nampak pasrah ketika penjahat itu mengelilinginya. Spider-Man gugur dalam tugasnya. Gerbang dimensi itu sempat terbuka meskipun belum stabil.

Spoiler Alert!
Oleh karena filmnya sudah tayang sekitar dua mingguan sepertinya Kalian sudah banyak yang menyaksikannya sehingga sah-sah jika aku mengupas sedikit spoiler-nya. Sedikit saja. Film ini terasa segar dan orisinil setelah dua instalasi baru yang terasa kurang emosional setelah era Peter Parker ala Tobey Maguire.

Film ini menghormati film Spider-Man sebelumnya dengan menampilkan beberapa adegan ikonik dalam Trilogi Spider-Man. Musuh berupa Green Goblin mengingatkan pada film pertama trilogi tersebut.

Ceritanya menurutku segar dan orisinil. Tentang konsep waktu dan dunia paralel. Bagaimana jika Spider-Man apakah superhero benar-benar lenyap ataukah sebenarnya ada sosok superhero lainnya yang tak jauh berbeda? Rupanya ada dan jumlahnya tak tanggung-tanggung. Wujudnya pun beragam.

Ada sosok Gwen Stacy yang menjadi Spider-Woman. Bukannya Peter malah Gwen, sobatnya, yang tergigit laba-laba. Kemudian ada Peter B. Parker dari dunia lain yang lebih gemuk dan hidupnya tak sebaik Peter Parker versi dunia waktu saat ini. Selanjutnya ada Spider-Man yang bergaya misterius atau Spider-Man Noir. Ada sosok perempuan bak tokoh manga dengan robotnya dari masa depan, Peni Parker dan SP. Nah yang konyol ada juga spider berwujud kartun dan seekor babi, Spider-Ham hihihi.

Bukan hanya itu yang bikin unik. Sosok bibi May juga keren bak para penemu di film superhero lainnya. Ia bak Alfred dalam Batman.

Film ini menggambarkan sosok Miles yang mengalami dilema dengan kekuatan barunya. Ia ingin membuat bangga orang tuanya namun ia merasa tak punya apa-apa. Ketika ia ingin menunjukkan kekuatannya eh ia malah kesulitan mengendalikannya sehingga malah membuat kekacauan.

Filmnya dihiasi tembang-tembang yang asyik, cerita yang mengalir dengan rapi, dengan unsur komedi dan aksi yang menggigit.

Detail Film:
Judul:Spider-Man: Into the Spider-Verse
Sutradara:
Pengisi Suara: Shameik Moore, Jake Johnson, Hailee Steinfeld, Mahershala Ali, Brian Tyree Henry, Lily Tomlin, Luna Lauren Velez, Zoë Kravitz, John Mulaney, Kimiko Glenn, Nicolas Cage, Kathryn Hahn, dan Liev Schreiber
Genre: animasi, petualangan, superhero
Produksi: Columbia Pictures, Sony Pictures Animation, Marvel Entertainment, Arad Productions, Lord Miller Productions, Pascal Pictures
Skor: 8/10
Gambar: iMDB/Sony

~ oleh dewipuspasari pada Desember 27, 2018.

4 Tanggapan to “Spider-Man: Into the Spider-Verse Lebih Segar dan Orisinil”

  1. Tadinya udah mau nonton ini, tapi gak jadi karena ngajak anakku yg aktif bgt, takut kebawa emosi aksi berantem2nya, bisa berabe ntar di sekolah… takut niru aksi aksi nya hehehehhe….

  2. dari jalan cerita sangat menarik karena versi animasi ini berbeda dari film 1,2,3 yang saya tonton, misalkan saja bibi May perempuan tua yang tak berdaya, eh malah dianimasi super pintar dan kuat.

    cuma 1 yang agak sulit diawal menonton, saya tidak terbiasa dengan jenis animasi ini, seolah2 gerakannya ga smooth, sewaktu disearching ternyata jenis kartunnya memang seperti itu..

    sepanjang film saya menikmatinya

    • Iya juga, gambarnya rata-rata bergerak cepat, jadi perlu tempat yang pas waktu menontonnya. Film animasi dengan komputer ada kekurangannya, terkadang kurang nyaman di mata, lain dengan yang dibuat dengan gambar manual seperti dalam sebagian besar film animasi studio Ghibli. Tapi mungkin untuk kasus tertentu saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: