Tahun Baru dan Resolusi Baru

Selamat tahun baru Kawan-kawan. Sebenarnya hari ini tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Yang  paling membedakan, hari ini kalendernya sudah berganti rupa. Seperti pada umumnya resolusi baru pun diciptakan.

Pergantian tahun kemarin diwarnai dengan hujan dari gerimis kemudian menjadi deras. Aku hanya menikmati di rumah, sambil menonton Pengabdi Setan. Hehehe filmnya jadi tidak seseram seperti yang kurasakan waktu nonton di layar lebar. Tapi tetap aku belum dapat memastikan petunjuk dalam film yang mengarah ke film berikutnya. Apakah si Bapak sebenarnya tahu rahasia Ibu tentang keikutsertaannya dengan sekte tersebut? Kenapa mereka bisa satu apartemen dengan pengikut sekte? Dan apakah Bapak yang melintas di jalan sehingga Hendra tewas? Hehehe banyak pertanyaan yang masih tertinggal.

Oh ya sore kemarin aku membeli buku baru, sebuah buku kelanjutan dari Miss Peregrine. Sudah lama aku tak membeli buku baru. Seringnya aku membeli di lapak diskon hehehe. Aku terkejut melihat harga-harga buku sekarang.

Sejak SMA dan mahasiswa aku merasa harga buku mahal. Aku harus menabung dan berhemat agar mampu membeli novel baru. Kadang aku hanya mampu meminjamnya. Kini setelah aku bekerja, harga buku terus melambung. Buku novel terjemahan rata-rata di atas 100 ribu. Fiuhhh.  Banyak buku lokal yang juga di atas Rp 50 ribu padahal bukunya tak tebal dan tak begitu terkenal. Huuuhu mahal ya. Aku jadi sedih mengingat buku-bukuku yang banyak tak kembali.

Liburan dan Bencana
Akhir tahun lalu Indonesia banyak diwarnai bencana. Aku sungguh sedih membaca berita tentang bencana longsor, tsunami, erupsi gunung berapi, dan sebagainya. Semoga korbannya tidak terus bertambah.

Bencana ini bisa dijadikan pelajaran, mungkin alam memberi peringatan. Bisa jadi aku, kamu, dan mereka lupa untuk memberikan perhatian pada alam, terus mengeksploitasi tanpa memperhatikan kelangsungannya.

Resolusi Baru
Tahun baru tak lepad dari resolusi baru. Resolusiku tahun ini yakni terus berlatih membuat publikasi ilmiah. Aku sudah lama tidak membuatnya sehingga mulai agak kesulitan kembali memulainya. Aku akan terus berlatih dengan banyak membaca dan berlatih menuliskannya. Tahun ini aku punya target untuk memasukkan satu jurnal atau paper konferensi internasional.

Hehehe agak berat. Tapi aku yakin bisa melakukannya jika bekerja keras dan tekun melakukannya.

Oh ya target bangun pagi dan tidak kembali tidur juga akan kupasang selalu. Aku akan mengurangi begadang hingga larut malam sehingga usai Subuh tidak tidur lagi. Badan kurang segar jadinya apabila tidur lagi saat hari kerja, kecuali kalau akhir pekan. Tapi aku berharap akhir pekanku kembali seproduktif dulu, tidak hanya bermalasan dan membayar hutang tidur.

Tahun ini aku masih menjadi admin KOMiK, komunitas film di Kompasiana. Dulu aku punya rencana untuk membuat workshop sehari membuat skenario film, membuat buku keroyokan, melakukan trip ke tempat penyimpanan arsip perfilman dan sebagainya. Mudah-mudahan tahun ini terwujud.

Aku juga ingin punya taman. Halamanku berantakan gara-gara kucing kecil. Tanamanku banyak yang mati karena ulah mereka. Aku ingin tahun ini lebih perhatian ke rumah dan halamanku, agar aku makin betah bekerja dan menulis di rumah.

Resolusiku lainnya yaitu berkaitan dengan jalan-jalan. Selain ingin ke Labuan Bajo dan ke Jepang, aku ingin menjelajah museum-museum di Jakarta juga sekitarnya. Aku belum pernah ke Museum Basuki Abdulah dan Museum Bahari. Sepertinya tahun ini aku perlu lebih banyak menjelajah tempat-tempat bersejarah.

Itu sebagian resolusiku. Kalian pasti juga punya resolusi untuk tahun ini.

Selamat tahun baru Kawan-kawan. Semoga di tahun ini Kalian dapat mencapai harapan Kalian, selalu diberkahi keselamatan dan perlindungan dari-Nya. Semoga Indonesia tetap kuat, damai dan solid dalam menghadapi pemilu tahun ini.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 1, 2019.

15 Tanggapan to “Tahun Baru dan Resolusi Baru”

  1. Waw mantab semangaaat mbaa

  2. Temanku seorang yang mengelola penerbitan buku tahun ini mengurangi produksinya karena harga kertas naik 30% dan Pajak, sehingga harga buku menjadi mahal dan mungkin semakin tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat.

    • Oh gitu ya. Bisa jadi sih harga kertas makin mahal. Tapi menurutku harga buku mulai terasa mahal dan kulihat pembeli buku di toko buku tidak seramai dulu.

      • Berarti clear harga kertas naik, harga buku mulai mahal, pembeli mulai sepi karena daya beli menurun dan yang lebih penting lagi minat membaca belum meningkat, pengaruh media online, era digital dan regulasi belum diatur dengan sportif dan lain-lain.

        • Hiks literasi membaca masih kurang ya

          • Di jamanku buku belum banyak harganya mahal, yang ada stensilan, hurufnya gurem tidak jelas, sehingga sisi baiknya berkunjung ke perpustakaan stovia di jalan kwini, perpustakaan LAN dan belum terlalu suka baca buku, waktu itu kalau ke kampus bawa buku tebal-tebal cuma buat gaya mahasiswa, kalau ke toko buku cuma lihat-lihat judul buku mau beli tidak punya uang, bagus aja ada lagu yang bisa menghibur “bujangan” hati senang walaupun tak punya uang lulus paling belakangan jaman serba terbatas, buat penelitian susah cari data, ijin ini, ijin itu, padahal cuma mau menulis, serba susah kelebihan era jaman itu, kita matang dengan proses sehungga matengnya “tanek” seperti masak nasi pakai kukusan rasanya natural karena dimasak menggunakan arang, jadi ngelantur nih? untuk itu cocoknya jadi praktisi, comot sana, comot sini buat kesimpulan, bukan jadi penulis yang harus baca buku ini, buku itu, yah begitulah perjalanan kehidupan yang aku lalui filosofisnya “sambil berjalan, sambil membaca, memperhatikan, mengamati dan menjelamg senja belajar menjadi bijak” kereeen menurutkoe.😃

          • Hehehe. Tanggapannya sudah bisa jadi artikel tersendiri.

          • Alhamdulillah ternyata aku sudah bisa menulis artikel? Tapi kenapa harus di pancing dulu ya sama penulis aslinya? he3X. Okay aku mau belajar mancing tulisan, kira-kira besok akan memasuki Weekend, embak mau nulis judul apa? and saya ikut nulis juga atau kita sama-sama nulis tentang Weekend? Bagaima ?

  3. Resolusi yg berat dan menantang. Semoga sukses ya jurnal internasional-nya. Slmat thn baru juga Mbak Dewi.

    Sy sih utk thn ini slh satu resolusinya spy lebih aktif berolahraga. Smga sja sy bs menjalaninya.

  4. Resolusinya sangat produktif dan realible kalau resolusi saya setelah ditunggu hingga menit dan detik-detik terakhir menuju titik nol, malam pergantian tahun sambil menunggu inspirasi resolusinya “simple” yaitu mengikuti air mengalir, tetap bersyukur, belajar menjadi bijak dan belajar menulis sambil mendengarkan lagu kenangan, selamat tahun baru 2019, tetap semangat dan optimis, sukses selalu, semoga..Amin Yaa Robbal Alamin, oh..ya ada kejadian unik diakhir tahun ini yaitu dengan ulah dan prilaku si “Koneng” kucing tetangga sebelah Rumah yang memberi inspirasi tentang kepahamannya terhadap bahasa manusia yaitu waktu isteri saya sedang mencuci ayam untuk acara malam pergantian tahun, tiba-tiba si “Koneng” mendekati, seperti minta bagiannya dan biasanya, si”Koneng” duduk tertib dan santun sambil menunggu diberikan sedikit sisa potongan ayam dan secara sepontan waktu itu aku bilang, Hi koneng kamu mau ayam? Nih satu bungkus untukmu sebagai hadiah tahun baru, maksudku sambil bercanda, ternyata entah dia mengerti candaku atau serius menanggapinya? Dia langsung menyambar satu potong ayam dari tangan isteriku yang sedang membersihkan ayam dan lari cepat aku berusaha mengejar tapi sia-sia karena sudah jauh, akhirnya aku biarkan saja, ha..ha..ha, aku jadi tertawa, kubilang pada isteriku sudahlah itu sedekah kita, si koneng juga ingin merayakan tahun baru, atau mengambil bagian yang aku tawarkan dengan becanda, tapi yang unik sekarang kalau si “koneng” melintas di depanku dan aku panggil, dia malah lari ketakutan seolah telah merasa bersalah atas kelakuannya menyambar sepotong ayam, padahal dalam hati aku bicara, jangan takut si “Koneng” engkau telah kumaafkan, kita bersahabat.kembali ya,..semoga engkau mengerti dan paham kita sudah memasuki tahun baru 2019 dan persahabatan adalah hal yang paling di idamkan kita semua.tks, salam.

  5. Tapi bisa jadi yang dikira bencana itu sebetulnya adalah anugrah dan kasih sayaw, dan kita yang tidak ditimpa bagai macam peristiwa itu yang sesungguhnya terkena bencana karena masih sibuk dengan urusan dunia yang sifatnya fana. *bisa jadi lho.

    Waaaaaah publikasi ilmiah. Keren deh! Semoga terlaksana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: